Doctor Is My Husband

Doctor Is My Husband
BAB 17



Pagi hari, Andre sudah berada di balkon rumah nya. Andre memikirkan pertanyaan sang Ayah untuk menikahi Clara.


"Clara itu orang nya baik, pemikiran nya dewasa, sayang anak-anak juga, kalau cantik? Memang cantik, tapi bagi aku cantik itu bonus. Jadi bagaimana apa dia mau juga sama aku?" Gumam Andre berbicara sendiri


"Nyaman juga sih kalau dekat Clara, tapi aku sendiri belum yakin dengan jawaban yang aku dapat. Apa aku bo--"


Ooeee ... Oeeee


Ucapan nya terpotong, kala mendengar suara sang anak menangis. Andre melangkah masuk untuk menggendong anak nya.


"Anak Daddy kenapa nangis? Sudah basah ternyata, sekalian kita mandi pagi aja ya. Abang Lio nya masih tidur, jadi Fio duluan saja ya." Ucap Andre menggendong anak nya, agar berhenti nangis dan menyiapkan air hangat untuk mandi.


Setelah memandikan Fio, Andre melihat Lio masih tertidur.


"Bentar ya, Daddy buatin dulu susu. Jangan rewel dulu Ok." Ucap Andre dan di jawab ketawa oleh Fio


" Nih susu nya sudah jadi, minum dulu ya." Ucap Andre sambil menggendong Fio


" Fio menurut kamu gimana Dokter Clara, apa Daddy berikan jawaban sekarang, atau nanti saja. Takut nya Clara belum siap?" tanya Andre


Fio hanya melihat Daddy nya yang mengajak berbicara sambil mata nya kedip-kedip.


"Kenapa malah liatin Daddy, bukan nya kasih jawaban."


"Daddy Andre ini bagaimana, kan Fio belum bisa berbicara mangkanya cuman liatin Daddy saja." Ucap Bunda Wulan tiba-tiba masuk


Saat tadi Bunda Wulan akan masuk, tidak sengaja mendengar Andre berbicara kepada Fio dan Bunda hanya bisa tersenyum melihat nya.


"Sini bun, duduk" Ucap Andre


"Memang sudah ada jawaban nya?" tanya bunda yang penasaran


"Belum yakin sih bun, Andre masih ragu."


"Kalau menurut Bunda, Clara gak usah di ragukan lagi cocok sama kamu." tutur Bunda dengan yakin, "Lio belum bangun, adik nya sudah bangun." ucap nya yang melihat Lio


"Tadi subuh bangun bun, tapi tidur lagi. Kalau langsung di mandiin masih subuh takut nya sakit." Ucap Andre


...---------------------------------------------------...


Pagi ini Rara sudah mulai tenang dengan pikiran nya yang semalam menghantui terus. Rara melangkah ke arah meja makan untuk membantu bunda nya menyiapkan sarapan.


"Pagi nak, ada apa tumben udah turun?" tanya bunda Dinda


"Rara mau bantuin bunda, sama ada yang Rara mau tanyain ke Bunda"


"Mau nanya apa anak Bunda yang satu ini hum ...."


"Bunda duduk dulu aja ya, lagian tinggal minum nya yang belum."


Bunda Dinda melangkah ke arah anak nya dan duduk di sebelah Rara, "Ada apa?" tanya bunda memegang tangan Rara


"Rara mau nanya sama Bunda, menurut Bunda Andre itu gimana?" tanya Rara ragu-ragu


Bunda Dinda tersenyum mendengar pertanyaan anak nya, "Menurut sepengetahuan bunda informasi dari Ayah itu, Andre orang nya baik, pekerja keras, sayang sama keluarga apalagi sayang sama anak-anak nya, ibadah nya juga rajin, kalau ganteng gak usah di tanya sudah masuk kedalam point nya." Ucap Bunda panjang lebar.


"Terus kamu juga pasti tau kalu Andre itu gak pernah deket sama cewek kecuali masalah pekerjaan." lanjut Bunda


Rara hanya bisa menganggukkan kepala mendengar penuturan bunda nya tentang Andre, "Kalau menurut bunda, Rara pantas untuk Andre?" tanya Rara lagi


"Kenapa gak pantas nak, kamu pantas kok dengan Andre. Abang kamu saja setuju, masa Bunda engga." Seru Bunda


"Abang setuju?" tanya Rara gak yakin


"Iy--" Ucap Bunda terpotong mendengar suara dari Rian


"Memang Abang sudah setuju, dan Abang sudah kasih lampu hijau buat Andre." Ucap Rian mendekat sambil menggendong Rey


"Kapan kalian ngobrol?" tanya Rara yang kepo


"Mau tau? Tapi kamu sudah menerima belum? Nanti ajalah kasih tau nya!" Ucap Rian


"Kasih tau dulu Rara, nanti Rara kasih tau jawaban terima atau engga nya." jawab Rara dengan senyum licik nya.


"Bener ya, Bang Ian mencium bau-bau kebohongan."


"Iya, benar!" Ucap Rara yakin


"Ok ... jadi gini." Rian menceritakan kapan dan dimana Rian dan Andre bisa mengobrol.