
Seperti nya pagi ini Lio tidak mau terlepas dari gendongan sang Mommy, meskipun sudah berbagai cara agar Lio melepaskan nya tetap saja tidak bisa. Apalagi saat tadi di bawa oleh sang Oma, Lio langsung menangis.
"Lio di rumah ya, Mommy mau kerja dulu." Ucap Rara
Saat Clara akan melepaskan pelukan sang anak, Lio semakin mengeratkan pegangan nya di baju Clara.
"Mas gimana dong." Ucap Rara
"Kalau begitu kita tidak usah bekerja." Ucap Andre
Clara memutar bola mata nya malas, "Mau nya kamu itu!"
"Lio sama Opa yu, kita ketaman ada kucing." ajak Ayah Bima dan di balas dengan gelengan kepala
"Yasudah, kita antar Abang saja ke sekolah ya." Ucap Rara
"Memang kalian gak ke Rumah Sakit?" tanya Bunda Wulan
"Mungkin nanti, Bun." jawab Andre, "Sudah siap Ziel, kita berangkat!"
"Sudah Dad." jawab Aziel
Setelah berpamitan dengan Ayah Bima dan Bunda Wulan, mereka langsung memasuki mobil dan tentu nya membawa si kembar beserta bi Ningsih.
...---------------------------------------------------...
Sehabis menempuh perjalanan menuju sekolah yang sangat macet di hari senin ini, akhirnya mereka telah sampai di halaman sekolah. Andre dan Clara tidak langsung pergi melainkan ikut turun bersama Aziel dengan membawa si kembar. Baru saja mereka turun bersama-sama, sudah ada yang menyapa.
"Andre, Clara, Aziel!" sapa Bram
"Loh ... Bram." Ucap Andre sambil menjulurkan tangan nya, "Bisa barengan begini datang nya."
"Haha ... Iya nih." jawab Bram
"Salim dulu nak ... sama Uncle Andre, Aunty Clara!" Ucap Bram kepada anak nya dan Azura langsung mendekat kearah Andre beserta Clara
Azura yang melihat Aziel tersenyum.
"A--Abang." Ucap Azura
Yap ... Azura memang sudah mengetahui jika Aziel adalah Abang nya, saat itu Bram dengan istrinya sepakat akan memberi tahu Azura tentang Aziel.
Mereka sudah mengira jika Azura tidak akan menerima sang Abang dan ternyata pikiran kedua nya salah. Azura sangat senang jika yang selama ini, dekat dengan diri nya ternyata Abang nya sendiri.
"Abang!" Ucap Azura sambil memeluk nya
Aziel yang mendapatkan pelukan dari sang Adik, hanya berdiam saja. Dia tidak tahu harus bagaimana.
"Azura senang sekali ternyata Aziel, Abang nya Azura. Daddy selalu mencari Abang." lanjut nya
Pelukan kedua nya terlepas kala mendengar suara bel masuk sekolah.
"Sudah bel, kita masuk ke kelas!" Ucap Aziel kepada Azura
"Mom, Dad, Uncle. Aziel masuk dulu ke kelas." Ucap Aziel sambil menyalami tangan Andre, Clara dan juga Bram tidak lupa mencium pipi kedua adik kembar nya.
"Iya sayang ... belajar yang benar ya!" Ucap Rara
"Daddy ... Azura masuk dulu ya, Uncle Aunty ... Azura masuk dulu!" Ucap Azura
"Iya, sayang." Ucap Rara
"Terima kasih ya ... Andre, Clara sudah mau merawat Aziel." Ucap Bram
"Sama-sama Bram, kita juga sudah menganggap Aziel sebagai anak sendiri." jawab Andre
"Benar ... apalagi Aziel itu anak nya baik sekali, mudah di atur tidak pernah melawan dan Rara salut sama Aziel karena ambisi nya untuk menggapai cita-cita. Ya meskipun masih berubah-ubah." Ucap Rara
Bram sangat senang mendengar sekilas tentang perkembangan sang anak. Sebisa mungkin dia akan membahagiakan Aziel yang selama ini Bram tinggalkan dan ia akan selalu menunggu Aziel memanggil nya dengan sebutan Daddy.
"Memang cita-cita Aziel apa?" tanya Bram
"Dia ingin menjadi dokter, tapi Opa nya meminta Aziel untuk menjadi CEO agar nanti bisa menggantikan." jawab Andre
"Waah ... masih lama dong, menunggu Aziel besar." Ucap Bram sambil terkekeh
Andre menganggukan kepala nya
"Ya ... seperti itulah Ayah, karena mengurus perusahaan bukan profesi aku dan jika Calista tidak mau pasti akan menunggu Aziel besar." Ucap Andre, "Tapi mungkin nanti balik lagi sama Aziel, karena Bram juga butuh Aziel untuk melanjutkan perusahaan nya."
"Aku sebagai Daddy nya, tidak memaksa Aziel akan menggantikan siapa. Yang terpenting aku sangat bersyukur jika Aziel di kelilingi orang-orang yang menyayangi nya." Ucap Bram, "Ohya ... kalau boleh tahu, memang nama perusahaan nya apa?"
"Bukan nya Bram sudah bekerja sama dengan perusahaan Ayah?" bingung Andre