Doctor Is My Husband

Doctor Is My Husband
BAB 117



Sejenak Bram mengingat kapan diri nya bekerja sama dengan Ayah nya Andre. Ia teringat saat itu melakukan meeting bersama, dengan seorang CEO yang wajah nya mirip dan tidak jauh berbeda.


"Apa perusahaan RN?" tebak Bram dan di balas dengan anggukan kepala, "Waah... jadi Andre ini anak nya Pak Bima, aku benar-benar sangat berterima kasih dengan keluarga Pak Bima yang sangat baik terutama Andre dan Clara sudah mau menerima Aziel."


"Sama-sama Bram, jangan terima kasih terus seperti sama siapa saja." Ucap Andre


"Ohya kalian tidak ke Rumah Sakit atau sedang meliburkan diri?" tanya Bram


"Kita akan masuk siang, karena Lio sedari tadi tidak mau lepas dari Mommy nya." jawab Andre


...---------------------------------------------------...


Di ruang rawat inap semenjak Haneul membaca informasi tentang laki-laki yang bersama sang istri, ia sama sekali tidak bisa tertidur sejak malam. Menjadikan ia mengerjakan berkas-berkas kantor nya.


Sedari Bangun tidur sampai sekarang, Fariza yang melihat Haneul tidak bergerak sama sekali dari tepat duduk nya merasa heran. Karena sedari tadi menatap layar laptop sambil jari-jemari nya bergerak kesana kemari.


Ini orang apa leher nya gak pegal, dari tadi gak bergerak batin Fariza


Tok ... tok ... tok


"Pagi dok ... ini sarapan nya." Ucap Suster sambil membawa makanan


"Terima kasih Sus." jawab Fariza


Haneul yang mendengar langsung menyimpan laptop, lalu menghampiri untuk membantu Fariza sarapan.


"Sini biar saya bantu!" Ucap Haneul


"Tidak usah saya bisa sendiri." tolak Fariza


"Jangan ngeyel, saya ingin bertanggung jawab atas perbuatan kemarin."


"Tapi saya gak mau menjadi perusak hubungan orang, apalagi Tuan sudah punya istri!" pekik Fariza


"Engga usah takut, sudah hancur." Ucap Haneul sambil menyodorkan sendok


Dengan tidak sadar Fariza yang sedang mencerna perkataan Haneul, ia sudah memakan satu suap bubur yang di berikan.


"Kenapa kamu muncul sekarang, kenapa tidak saat itu." gumam Haneul yang masih bisa terdengar, "Mungkin jika saat itu, kamu yang akan menjadi istriku"


Uhuk ... uhuk


"Maksud nya?" tanya Fariza lalu mengambil air minum


"Enggak bukan apa-apa, gak usah di pikirin!" elak Haneul


bisa-bisa nya di saat ada masalah, aku malah berpikiran seperti itu batin Haneul


"Sudah, saya kenyang!" kata Fariza


"Loh ... ini masih banyak." Ucap Haneul dan di jawab dengan gelengan kepala sambil menjauhkan mangkuk


"Ohya ... Orang Tua kamu dimana, kok gak ada ke sini?" tanya Haneul tanpa melihat ke arah Fariza


Memang sejak kemarin sampai sekarang Haneul tidak melihat Orang Tua Fariza akan mengunjungi anak nya yang berada di Rumah Sakit.


"Kedua Orang Tua saya sudah tidak ada." Ucap Fariza


Haneul yang mendengar sangat kaget, "Maaf saya tidak bermaksud."


"Tidak apa-apa." jawab Fariza sambil tersenyum


Senyum nya batin Haneul


"Jadi kamu tinggal disini sama siapa?" tanya Haneul


"Saya tinggal di apartemen, sebenar nya ada Om yang tinggal disini tapi saya tidak enak kalau saya harus ikut tinggal di rumah Om."


"Tapi mereka sudah tahu kamu masuk Rumah Sakit?"


Fariza menggelengkan kepala nya, "Saya takut mereka khawatir."


Tidak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu dari arah luar.


Tok ... tok ... tok


"Far ..." panggil kedua orang paruh baya bersamaan


"Om Bima, Tante Wulan" kaget Fariza


"Gimana sekarang, apa yang sakit?" tanya Ayah Bima


"Kenapa gak ngabarin kita, kalau kamu kecelakaan?" tanya Bunda Wulan


Fariza yang mendengar pertanyaan beruntun dari Om beserta Tante nya, ia bingung bagaimana menjawab nya.


"Emm ... Fariza sudah tidak apa-apa Om Tante." jawab Fariza, " Fariza juga takut merepotkan dan membuat khawatir Om Tante"


"Kita 'kan sudah pernah bilang, jangan berpikiran kalau kamu itu merepotkan Om dan Tante. Kami sama sekali tidak merasa terbebani, apalagi Ayah kamu sudah menitipkan kamu kepada Om dan Tante." tutur Ayah Bima


"Iya benar yang di bilang Om, malah dengan keadaan kamu seperti ini membuat Om dan Tante merasa khawatir." Ucap Bunda Wulan


"Maaf Om Tante sudah membuat khawatir, ohya kok Om dan Tante bisa tahu kalau Fariza kecelakaan?" tanya Fariza


"Disini kan ada Dokter keluarga, dia yang menceritakan saat malam kamu kecelakaan." jawab Ayah Bima


Benar juga ya, kenapa aku bisa lupa batin Fariza


"Siapa yang sudah membuat keponakan Tante ini kecelakaan" Ucap Bunda Wulan


Haneul yang ingin mendekat dan memberikan penjelasan kepada Ayah Bima dan Bunda Wulan, tiba-tiba saja sudah ada yang masuk.