Doctor Is My Husband

Doctor Is My Husband
BAB 115



Haneul langsung meninggalkan rumah nya dengan amarah yang menggebu-gebu di dalam tubuh. Ia memukul-mukul setir mobil dengan tangan yang mengepal.


"Aakkhh!" teriak Haneul, "Kenapa ini terjadi sama aku!? Kenapa!!!"


Karena jalanan sepi Haneul terus menginjak gas hingga kecepatan tinggi, tiba-tiba saja seorang perempuan tengah menyebrang jalan. Haneul yang melihat langsung membunyikan klakson, tapi sayang nya sang perempuan yang sedang menyebrang tidak sempat untuk menghindar.


Bruk ...


Haneul yang sudah memberhentikan mobil berlari ke arah depan dan wajah nya seketika berubah menjadi pucat sambil menggelengkan kepala nya. Meskipun fikiran nya sedang kacau tetapi Haneul tidak meninggalkan wanita yang tergeletak akibat ulah diri nya. Ia langsung membawa wanita ini ke rumah sakit yang tepat sekali ada di sebrang jalan.


"Suster ... Dokter!" teriak Haneul yang baru memasuki Rumah Sakit sambil menggendong perempuan yang sudah ia tabarak


Para suster sudah berdatangan sambil membawa brankar, dengan perlahan Haneul meletakkan dan langkah kaki nya mengikuti kemana para suster membawa perempuan yang sangat cantik ini.


Di depan ruang IGD Haneul tampak gusar, ia terus saja mondar mandir takut terjadi sesuatu kepada wanita tadi.


Ya Allah semoga gak terjadi apapun batin Haneul


Cukup lama Haneul menunggu, akhirnya Dokter keluar dari ruangan IGD.


"Bagaimana Dok kondisi nya? Apa baik-baik saja atau?" Ucap Haneul dengan panik


"Seperti nya Tuan sangat khawatir dengan pacar nya ya." Ucap Dokter itu


Pacar batin Haneul


"Bu--" Ucap Haneul terpotong


"Begini Tuan, kondisi Dokter Fariza tidak perlu di khawatirkan dan untung saja Tuan segera membawa nya ke rumah sakit. Jika tidak, Dokter Fariza akan mengeluarkan lebih banyak darah di kepala nya," ujar Dokter, "Untuk sekarang Tuan sudah bisa melihat nya tapi sebelum itu kami akan memindahkan ke ruang pasien."


"Baik Dok, terima kasih"


...---------------------------------------------------...


Di sebuah ruangan yang bernuansa putih, Haneul baru saja mengganti pakaian nya yang sudah di bawakan oleh Lucky. Saat ia keluar dari kamar mandi, sang Dokter belum sadarkan diri. Haneul melangkahkan kaki nya menuju brankar untuk mengobrol dengan Dokter Fariza.


"Hai ... maaf banget gara-gara aku, kamu jadi seperti ini." Ucap Haneul yang sedang memandang wanita yang tengah terbaring, "Seharus nya aku tidak ngebut-ngebut di jalan, aku sama sekali tidak bisa mengendalikan emosi."


Tidak lama kemudian Dokter Fariza sadarkan diri, Haneul langsung memanggil Dokter untuk memeriksa kembali.


"Bagaimana dok?" tanya Haneul


"Alhamdulillah sudah membaik, tapi harus tetap istirahat yang cukup." jawab Dokter


"Baik dok, terima kasih."


"Kalau begitu saya permisi, Dokter Fariza semoga cepat sembuh." Ucap Dokter sambil melangkah ke luar


Setelah Dokter keluar barulah Haneul membuka suara nya.


"Emm ... maaf ya sudah membuat kamu seperti ini." Ucap Haneul sambil duduk


"Anda bisa tidak sih bawa mobil, mengendarai mobil itu jangan ngebut-ngebut! Dan pasti nya juga Anda sudah tahu ini tuh jalan raya bukan sirkuit, masih banyak orang yang lalu-lalang!" Seru Fariza yang tidak membalas ucapan Haneul


"Anda kalau sudah tidak sayang dengan nyawa, jangan mengajak-ngajak orang lain untuk kecelakaan juga!"


"Apalagi jika korban nya banyak! Jangan sampai orang lain juga mengalami nya, akibat ulah Anda!" lanjut nya


Haneul yang mendengar nya di buat heran, baru saja sadar sudah bisa nyerocos saja begitulah kira-kira fikiran Haneul.


"Sekali lagi saya minta maaf, saya benar-benar gak tahu jika ada orang yang akan menyebrang." Ucap Haneul


Fariza membuang nafas nya kasar


"Hemm ... sudah terjadi mau bagaimana lagi!" jawab Fariza, "Anda pulang saja saya bisa di sini sendiri."


"Tidak apa-apa saya disini saja, menemani." Ucap Haneul


"Nanti istri Anda Marah!" Ucap Fariza yang melihat cincin di jari manis Haneul


Haneul yang mendengar seketika tersenyum masam, tiba-tiba saja ia teringat tentang Jihan yang di cium dan di antar pulang oleh laki-laki yang tidak ia kenal.


"Kamu lebih baik tidur saja, saya akan disini." Ucap Haneul sambil berpindah tempat