Doctor Is My Husband

Doctor Is My Husband
BAB 124



"Ta--tapi meskipun bayi nya terlahir prematur, dia akan tetap hidupkan Dok?" tanya Haneul



"Kami para Dokter akan berjuang sebisa mungkin dan kami semua disini hanya sebagai perantara. Selebih nya terus berdoa lalu semua nya kita serahkan pada yang diatas." jawab Dokter, "Kalau begitu saya permisi untuk masuk kembali, karena harus segera di tangani."


Rasa nya benar-benar lemas dan tidak bertenaga. Ia menjatuhkan tubuh nya di atas lantai sambil menunduk'kan kepala nya.


Bagaimana kalau kamu anak Daddy, maafin Daddy nak. Semoga kamu bisa bertahan untuk hidup batin Haneul


Setelah memberi tahu Daddy nya yang berada di luar Negeri, Mommy Haneul melihat anak nya menangis langsung membawa kedalam dekapan nya.


"Meskipun sedang banyak masalah, tapi kita harus tetap bersabar ya. Perbanyak berdoa kepada Allah." Ucap Mama Haneul


...---------------------------------------------------...


Semenjak kejadian kecelakaan beberapa hari yang lalu, kini Fariza berada di rumah Ayah Bima dan Bunda Wulan. Karena kedua nya memaksa Fariza untuk tinggal di kediaman Nugroho dan tidak memperbolehkan lagi tinggal di apartemen.


Fariza yang sudah rapih dan waktu yang mengharuskan diri nya untuk segera berangkat ke Rumah Sakit. Ia langsung berpamitan kepada Om serta Tante nya, tetapi saat berpamitan


"Far ... kamu gak bekerja di Rumah Sakit yang kemarin lagi!" Ucap Ayah Bima


"Loh kenapa Om, Fariza baru saja masuk dua minggu?" tanya Fariza


"Om sudah meminta untuk di pindahkan, ke Rumah sakit yang sama dengan Andre dan juga Rara. Tapi tetap kamu akan mendapatkan shift malam dan kamu bisa masuk mulai sekarang."


"Om kenapa gak nanya dulu sama Fariza?"


"Karena Om dan Tante tahu, jika kita menanyakan dulu kepada kamu pasti akan menolak. Dan jarak dari sini ke Rumah Sakit tidak jauh kok, berbeda dari Rumah Sakit yang kemarin jarak nya lumayan, sayang." Ucap Bunda Wulan


Huft


"Yasudah deh, kalau gitu Fariza berangkat dulu." pasrah Fariza sambil mencium punggung tangan Om dan Tante nya


"Yang semangat ya, sayang!" Ucap Bunda Wulan


"Iya Tan, Assalamu’alaikum"


"Wa'alaikumsalam, hati-hati"


Bersamaan saat akan membuka pintu, ternyata sudah ada yang membuka nya dari arah luar.


"Dari mana Ra?" tanya Fariza


"Dari acara lamaran nya Yoga." jawab Rara


Fariza hanya ber oh ria


"Iya Oni, hati-hati di jalan."


"Mau kemana kamu?" tanya Andre yang baru masuk sambil menggendong Aziel lantaran sudah tertidur


"Mau cari sesuap nasi." jawab Fariza, "Kalau gitu aku pamit ya, Assalamu’alaikum"


"Wa'alaikumsalam"


Perjalanan menuju Rumah Sakit rasa nya masih sama seperti hari-hari seperti biasa nya, yang sangat terasa sepi dan hening. Di dalam mobil hanya seorang diri, dengan di penuhi oleh pikiran-pikiran halu nya.


Bagaimana ya jika nanti aku memiliki suami. Pasti aku tidak akan sendirin lagi, pasti kita akan selalu bersama-sama. Saat akan berangkat dan pulang bekerja ada yang menemani, menyemangati, tidak seperti sekarang. Aakhhh...bisa nya halu terus. Batin Fariza


Tidak terasa perjalanan yang begitu sepi, akhirnya tiba juga di tempat baru nya untuk bekerja. Kali ini Fariza langsung di arahkan untuk masuk ke dalam ruangan pribadi dan sudah di sediakan pula jadwal untuk jam kerja nya.


"Ok ... mari kita bekerja!" gumam Fariza


Tampak nya malam ini Fariza tidak begitu sibuk, menjadikan dia ingin melihat-lihat dan ingin mengetahui tempat-tempat yang ada di dalam Rumah Sakit ini.


Saat melangkahkan kaki nya ke dalam sebuah lorong, ia melihat seseorang yang sangat tidak asing sedang berada di depan ruangan operasi. Benar saja setelah di dekati ternyata


"Tuan!" panggil Fariza


"Kamu? Bagaimana sekarang keadaan nya?" tanya Haneul


Yap... orang itu adalah Haneul yang masih menunggu di depan ruangan operasi sejak satu jam yang lalu.


"Seperti yang Tuan lihat." jawab Fariza


Akhirnya yang Haneul tunggu-tunggu sudah selesai, lampu ruangan operasi pun telah berubah warna nya. Tidak lama kemudian keluar para Dokter yang menangani serta perawat yang membawa bayi.


"Bagaimana Dok apa bayi nya bisa di selamatkan atau?" tanya Haneul yang menghampiri Dokter


"Kita akan memberikan perawatan khusus kepada bayi nya, dan tentu bayi itu harus tinggal lebih lama di NICU (Neonatal Intensive Care Unit). Serta kita akan melakukan beberapa tes salah satu nya tes DNA." jawab Dokter


"Baik Dok, tolong lakukan yang terbaik agar dia bisa bertahan untuk hidup." Ucap Haneul dan di balas dengan anggukan kepala


"Kalau begitu saya permisi."


Fariza yang memang sedari tadi mendengarkan, hanya bisa menebak jika istrinya Haneul telah melahirkan tetapi usia nya belum menginjak sembilan bulan.


"Maaf apa Tu--" Ucap Fariza terpotong


"Boleh saya pinjam tangan kamu?" tanya Haneul, dengan spontan Fariza langsung menganggukan kepala nya


Haneul langsung memegang erat tangan Fariza, ia benar-benar tidak tahu harus berpegangan pada siapa. Jika kepada istrinya yang sedang terbaring, Haneul sudah tidak mau ada hubungan apapun dengan Jihan.