Doctor Is My Husband

Doctor Is My Husband
BAB 101



" Bagaimana kabar anakku, Aziel?"



Deg


" Emm.... anu Az--" belum sempat Jihan berbicara sudah ada yang memanggil nya


" Sayang" panggil Haneul yang tiba-tiba datang


" Kamu ngapain ke luar ruangan?" lanjut nya


Haneul melihat ke sebelah nya yang ternyata Bram, ia sama sekali tidak tahu mantan suami Jihan ternyata rekan bisnis nya dan yang dia tahu hanya nama Bram saja. Dan menurut dia nama Bram itu sangat banyak, lagi pula Haneul tidak berniat untuk mencari tahu tentang mantan suami sang istri.


" Pak Haneul apa boleh saya berbicara dengan Jihan sebentar" izin Bram


" Ada perlu apa pak Bram mengobrol dengan istri saya?" tanya Haneul


" Saya ingin menanyakan tentang Aziel, anak saya" jawab Bram dengan jujur


" Sayang... jangan bilang pak Bram ini mantan suami kamu?" tanya Haneul dan hanya di balas dengan anggukan kepala


Haneul membuang nafas nya kasar sambil memejamkan mata


" Kalau begitu pak Bram mengobrol nya di ruangan saya saja" Ucap Haneul


...---------------------------------------------------...


Karena sudah memasuki jam makan siang, Clara bersama sahabat-sahabat nya sudah berada di kantin Rumah Sakit. Sedangkan Andre bersama Yoga akan menyusul, karena mereka masih berada di dalam ruangan oprasi.


" Andre sama Yoga kemana?" tanya Fauzan yang baru tiba


" Masih di ruangan oprasi" jawab Rara dan hanya di balas dengan anggukan kepala


" Silahkan dinikmati non-non yang cantik" Ucap mang Aji


" Terima kasih mang" Ucap Gita


" Ini kalian yang traktir kan?" tanya Salsa kepada Finna dan Fauzan


" Sejak kapan aku bilang?" tanya balik Finna


" Finna sama Fauzan" jawab Salsa


" Loh a--" belum selesai Finna berbicara sudah di potong


" Iya gak apa-apa, aku yang bayar." Ucap Fauzan


" Ayoo Ndre kita borong" ajak Yoga


" Engga deh... aku ingin makan bareng sama istriku ini, satu piring berdua" Ucap Andre


" Engga asik ah!" Seru Yoga


...---------------------------------------------------...


Di dalam ruangan Haneul, cukup lama mereka terdiam. Hingga suara Bram memecahkan keheningan.


" Langsung saja kepada inti nya, saya ingin menanyakan tentang Aziel. Bagaimana kabar nya?" tanya Bram yang mengulang pertanyaan


" Aziel baik" jawab Jihan


" Apa boleh saya bertemu dengan dia?"


Jihan sama sekali tidak menjawab, ia hanya bisa terdiam saja sambil menundukkan kepala nya. Dia teringat terakhir kali bertemu dengan Aziel pada saat di Paris.


" Kamu pasti tahu persis sebagai seorang ibu, bagaimana rasa nya tidak bertemu dengan seorang anak. Apalagi dia darah daging nya sendiri, saya tidak tahu apa tujuan kamu mencegah Aziel tidak bertemu dengan saya. Saya tidak akan pernah meminta kamu untuk kembali lagi, tapi saya hanya meminta Aziel. Saya ingin bertemu dengan dia" tutur Bram


" Tapi maaf Mas Bram, Aziel tidak bersama Jihan" Ucap Jihan sambil menunduk


Deg


" Ma-maksud nya?" tanya Bram


" Aku tidak mengurus Aziel lagi dan aku menitipkan nya kepada teman aku Mas" jawab Jihan


Bram yang mendengar jawaban dari Jihan seketika rahang nya mengeras dan tangan nya mengepal.


" Kamu kira Aziel itu barang apa! Yang bisa seenaknya kamu titipkan kepada orang lain. Dia itu masih kecil Jihan, butuh kasih sayang orang tua nya! Bukan di tinggalkan bersama orang lain. Kalau kamu tidak sanggup untuk mengurus Aziel kenapa tidak di berikan kepada saya!?" Ucap Bram penuh dengan emosi


" Saya kira kamu itu menyayangi, mendidik Aziel dengan benar tapi kamu malah memberikan nya kepada orang lain. Dimana hati kamu Jihan! Selama ini saya mencari Aziel dan ternyata kamu sendiri tidak mengurus nya. Ibu macam apa kamu ini!" lanjut nya