
Andre, Clara beserta yang ada di ruangan rawat inap mendengar cerita Haneul, baru mengetahui ternyata seperti itu alasan Haneul mengatakan Aziel adalah pembawa sial.
"Tapi gak gitu juga konsep nya bambang!" Seru Andre, "Aziel itu anak baik, penurut tidak pernah membantah. Dan sejak aku membawa nya, sampai sekarang tidak kenapa-napa"
Oh ... jadi tuan itu Daddy sambung nya Aziel batin Fariza
"Maka dari itu saya benar-benar meminta maaf, saya ingin memperbaiki hubungan dengan Aziel." Ucap Haneul
"Lebih baik Haneul sendiri saja yang meminta maaf langsung kepada Aziel. Dan Rara minta berbicara baik-baik jangan sampai sakiti Aziel lagi." Ucap Rara
Haneul menganggukan kepala nya " Secepatnya saya akan mendatangi Aziel"
"Ndre bisa kita bicara berdua?" tanya Haneul
"Bicara saja!" jawab Andre
"Kita pindah tempat jangan disini." Ucap Haneul sambil berdiri
"Penting tidak?" tanya Andre dan di balas dengan anggukan kepala
Jika saja tidak penting, Andre sangat malas sekali untuk berdiri dari tempat duduk nya.
"Sayang aku keluar dulu ya" Ucap Andre
"Iya, Mas ..." jawab Rara
Mereka berdua langsung meninggalkan ruangan Fariza dan akan menuju ruang tunggu pasien yang berada di luar ruangan.
Cukup lama mereka terdiam, akhirnya Haneul membuka suara.
"Ndre apa janin yang berada di dalam kandungan bisa di lakukan tes DNA?" tanya Haneul
"Anda meragukan bayi yang ada di dalam kandungan Jihan?" tanya balik Andre
"Mungkin!" jawab Haneul
"Anda tuh aneh! Ya jelas-jelas bayi yang ada di dalam kandungan Jihan itu bayi dirimu!" Seru Andre, "Dan sekarang ragu, siapa Ayah yang di dalam kandungan Jihan!"
Huft
"Awal nya tidak, tapi ada satu hal yang membuat saya ragu tapi jika memang benar Jihan mengandung anak dari saya. Saya sendiri yang akan merawat nya." Ucap Haneul, "Jadi apa bisa melakukan tes DNA?"
"Sebenar nya bisa saja, tapi semua itu berisiko menyebabkan keguguran!" jawab Andre
Sejenak Haneul terdiam mendengar jawaban dari Dokter kandungan, ia benar-benar bingung sekarang harus bagaimana. Apa Haneul harus menunggu anak yang berada di kandungan Jihan terlahir? Apa melakukan tes DNA dengan penuh resiko? Entahlah Haneul tidak bisa berpikir kali ini.
"Tapi saya saranin untuk tunggu bayi nya lahir saja, karena jika memang benar itu darah daging anda sendiri. Apa anda tidak akan menyesal jika dia tidak selamat?" kata Andre
Benar juga... kalau bayi itu darah dagingku, pasti dia tidak akan terlahir ke di dunia ini. Bayi itu masih suci, tidak mempunyai salah apapun tapi akibat ke egoisan aku dia harus tidak terlahir ke dunia ini. Ucap Haneul di dalam hati
Banyak sekali yang mereka obrolkan, hingga suara Clara mengalihkan pandangan mereka.
"Mas ... kita pulang sekarang ya, gak baik bawa anak-anak ke rumah sakit terlalu lama." Ucap Rara
"Yasudah lets go kita pulang!" jawab Andre
"Ohya Haneul, jika ingin memperbaiki hubungan dengan Aziel sekaranglah waktu nya. Jemput dia di sekolah dan antarkan pulang ke rumah kami." tambah Andre dan di balas dengan anggukan kepala
"Ya ... aku akan jemput Aziel di sekolah, nanti siang!"
"Thanks ya, nanti aku serloc"
...---------------------------------------------------...
Setelah pesan dari Andre masuk, ia langsung memasukan barang-barang yang sudah di keluarkan dari dalam tas kerja nya. Dan tidak lupa Haneul berpamitan kepada Ayah Bima, Bunda Wulan dan juga Fariza.
"Pak Bima, Bu Wulan, Fariza. Saya pamit karena akan menjemput Aziel ke sekolah." Ucap Haneul
"Pak Haneul sudah tahu alamat sekolah nya? Jika belum saya akan memberikan." tanya Ayah Bima
"Terima kasih Pak Bima, saya sudah mendapatkan nya dari Andre." jawab Haneul
"Tolong jangan paksa Aziel jika dia tidak mau dan jangan menggunakan kekerasan." Ucap Bunda Wulan
Haneul mengangguk'kan kepala nya, "Kalau begitu saya permisi, Assalamu’alaikum."
"Waalaikumsalam"
- Skip -
Meskipun sedang banyak fikiran, tetapi Haneul tetap akan menemui dan menjemput Aziel. Karena semenjak ia mencari tahu tentang sang istri entah mengapa ada rasa bersalah di benak Haneul terhadap Aziel, maka dari itu ia ingin memperbaiki hubungan nya.
Haneul yang sudah berada di depan sekolah sang anak hatinya sangat tidak karuan. Di lain sisi ia senang bisa bertemu dengan Aziel tetapi satu sisi Haneul sangat takut jika Aziel akan benci, akibat ulah diri nya sendiri.
Huft
Semoga Aziel tidak membenci aku batin Haneul
Ia yang melihat sang anak sedang berjalan menuju gerbang sekolah bersama teman perempuan nya, segera menghampiri. Dan baru saja Haneul akan menyapa, sudah di dahului oleh sang anak.
"Da--Daddy!" kaget Aziel
Deg
Aziel masih mau memanggil aku dengan sebutan Daddy batin Haneul