
" Uncle kenal Mommy?" balik tanya Aziel
⚫
" Iya Uncle kenal sama Mommy Jihan" jawab Bram
Aziel menganggukan kepala nya " Aziel gak tahu Daddy Aziel siapa, Daddy Aziel bukan Daddy Haneul"
" Memang Aziel kata siapa?" tanya Bram
" Aziel dengar saat Mommy sama Daddy berantem"
Bram yang mendengar sangat kaget, seharus jika mereka bertengkar menjauh dari Aziel. Bukan nya Aziel mendengarkan, itu sangat tidak baik untuk seumuran Aziel. Seperti itulah batin Bram
" Jika Aziel... bertemu dengan Daddy Aziel apa mau?"
" Mau"
Seulas senyum terpancar di wajah Bram " Apa Aziel akan membenci nya?"
" Tidak... kata Mommy Rara kita tidak boleh membenci orang lain, jika orang lain tidak suka kepada Aziel cukup kita doakan saja"
Clara yang mendengar menganggukan kepala nya sambil tersenyum.
" Bagaimana jika Uncle ini adalah Daddy Aziel?" tanya Bram
" Aziel tidak percaya, Uncle Bram kan Daddy nya Azura" Ucap Aziel
" Iya benar Uncle Daddy nya Azura tapi Uncle juga Daddy kandung nya Aziel" Ucap Bram dengan yakin
Seketika Aziel terdiam, ia tidak percaya jika Bram itu adalah Daddy kandung nya. Dan kalau memang benar Bram Daddy nya, kemana selama ini? Kenapa tidak bersama Aziel? Kenapa meninggalkan Aziel? Seperti itulah pertanyaan yang di benak Aziel.
" Uncle jangan becanda"
" Uncle tidak becanda sayang... Aziel benar anak Uncle" Ucap Bram
Bram yang melihat Aziel hanya terdiam, ia menghampiri lalu memeluk nya.
" Maafin Daddy, Daddy tidak bisa menjaga, merawat dan membesarkan kamu. Saat itu Daddy tidak mau kehilangan kamu tapi Mommy Jihan membawa paksa Aziel dari Daddy. Selama Daddy berpisah dengan Aziel, Daddy selalu mencari sampai dapat dan akhirnya Daddy bisa bertemu dengan kamu di sini" Ucap Bram
" Sekali lagi maafin Daddy Ziel" lanjut nya
Mau tidak mau Bram melepaskan pelukan nya karena ia tidak mau menyakiti hati sang anak.
" Kalau memang benar Uncle, Daddy Aziel kenapa meninggalkan Aziel sama seperti Mommy!?" tanya Aziel yang menahan tangis
" Daddy sama sekali tidak mau meninggalkan Aziel tapi karena Aziel di bawa Mommy jadi Daddy tidak bisa bersama Aziel. Daddy kehilangan jejak Aziel" jawab Bram
" Terus selama itu Uncle kemana, kenapa saat pertama kali bertemu Uncle biasa saja?"
" Selama Aziel di bawa Mommy Jihan, fikiran Daddy terbagi-bagi untuk mencari Aziel dan membenarkan perusahaan Daddy yang hancur." jawab Bram
" Saat kita bertemu Daddy tidak tahu kalau itu kamu nak.... Daddy hanya menebak saja karena wajah kamu dengan Daddy mirip."
" Aziel maukan maafin Daddy?" lanjut nya
Clara yang melihat Aziel tidak menjawab, ternyata sang anak sedang menahan tangis nya. Clara membawa Aziel ke dalam dekapan nya dan benar tidak lama kemudian Aziel langsung menangis.
" Sayang... kenapa nangis?" tanya Rara
" Aziel maukan maafin Daddy Bram?" tanya Andre sambil mendekat ke arah Aziel
" Tidak usah di paksa Pak Andre mungkin Aziel belum bisa menerima saya. Yang penting Aziel sudah mengetahui Daddy nya siapa, itu sudah membuat saya bahagia." Ucap Bram
" Saya tidak akan memaksa Aziel untuk ikut dengan saya apalagi untuk memaafkan, karena itu semua salah saya. Seandainya waktu bisa di putar kembali saya tidak mau kehilangan Aziel dan saya akan mempertahankan nya" lanjut Bram
" Itu semua sudah menjadi takdir Pak Bram. Kita tidak tahu ke depan nya akan seperti apa, meskipun kita sudah merancang dengan sebaik mungkin tapi jika Tuhan berkehendak lain kita tida bisa apa-apa. Tapi Tuhan sangat baik mempertemukan Pak Bram dengan Aziel." tutur Andre
" Jadi Pak Bram tidak boleh menyerah, Pak Bram harus terus berusaha mendekatkan diri kepada Aziel" lanjut nya
" Iya Pak Andre saya akan terus berusaha, terima kasih sudah memberikan nasihat yang sangat bagus" Ucap Bram
" Aduh Pak Bram jangan panggil saya Bapak terus, serasa tua" tawar Andre
" Haha... memang Pak Andre sudah tua kan?" canda Bram
Andre yang mendengar ucapan Bram hanya melongo
" Becanda Pak Andre"