Doctor Is My Husband

Doctor Is My Husband
BAB 27



Usai mengobrol mereka semua melanjutkan dengan makan malam bersama.


Clara yang sudah selesai makan melihat Andre yang sedang memberikan susu kepada Lio di ruangan keluarga. Dan Rara teringat bahwa Andre belum makan malam, ia langsung menghampiri Andre.


" Andre" panggil Rara sambil mendekat


" Iya, kenapa?" tanya Andre


" Makan malam dulu, biar Lio sama Rara" tawar Rara


" Iya nanti, setelah Lio tidur" jawab Andre


" Kalau gitu Rara ambilin saja ya makan nya." Ucap Rara sambil berdiri


Saat Rara akan melangkah pergelangan tangan nya di tahan oleh Andre.


" Gak usah biar aku saja. Aku titip Lio sama Fio ya" sambil memberikan Lio kepada Rara


" I-iya" Ucap Rara dengan gugup


Andre yang melihat Clara gugup hanya tersenyum dan melangkah meninggalkan Clara serta anak-anak nya yang sedang di ruangan keluarga.


Huft


" Jantung kenapa sih, cuman di pegang pergelangan tangan saja sudah gak karuan gini." Gumam Rara


" Lio, Daddy kamu kenapa sih bikin orang jantungan saja. Kalau jantung Aunty copotkan berabe" Ucap Rara yang sedang mengajak Lio mengobrol.


20 menit berlalu semua keluarga sudah berkumpul kembali di ruangan keluarga termasuk Andre.


Posisi Rara masih dengan menggendong tapi kali ini menggendong Fio karena tadi terbangun.


" Besok kalian pergi ke rumah sakit nya Bareng-bareng saja, biar nanti ke butik gak ribet terus gak berpencar juga." Ucap Ayah Adit tiba-tiba


" Iya Om, besok pagi Andre jemput Rara dulu." jawab Andre


" Yasudah kita pamit pulang dulu, kasihan Lio sama Fio kalau pulang nya kemaleman." Ucap Ayah Bima


Ayah Adit, Bunda Dinda dan Clara mengantar keluarga Nugroho kedepan pintu utama.


...---------------------------------------------------...


Pagi ini terasa sangat berbeda bagi Clara entah mengapa dia sangat bahagia. Apa bahagia karena di jemput sang kekasih? Atau karena sebentar lagi akan menikah? Entah lah hanya Clara yang tau semua itu.


" Ok... kita pilih pake baju apa ya kali ini"


Clara melihat lihat isi lemari nya dan tertuju pada dress bergaris warna hitam dan putih. Setelah menggunakan baju Clara memoleskan wajah nya.


" Waah... perfect, tapi perut aku nih yang belum perfect waktu nya isi perut."


Saat Clara melangkah kearah meja makan, betapa kaget nya Clara melihat sosok yang.... sudah lah.


Sejak kapan dia datang? Masih pagi rajin sekali batin Rara bertanya-tanya


" Sini duduk Ra, ngepain berdiri terus. Mending liatin nya di depan lebih mantap." Ucap Rian yang sedang menggoda adik nya


Blus


Pipi Rara seketika memerah karena ketahuan sedang memperhatikan seseorang


" Apaan sih bang, pagi-pagi jangan ngegoda adik nya!" seru Rara melangkah ke arah meja


" Hahaha, pipi Kak Rara merah" Ucap Iqbal yang ikut menggoda


" Sakit kaya nya itu dek" jawab Rian


Rara memegang pipi nya " Ini blush on"


" Sudah kenapa kalian senang banget sih ngegoda Rara. Nanti malah tambah merah pipi nya gak bisa ilang" Ucap Ayah yang malah ikut-ikutan lagi


" Issh... terus saja godain Rara, kenapa gak ada yang belain Rara sih. Masih pagi juga" Seru Rara sambil berdiri lagi dari kursi


" Ya memang pagi kata siapa sudah siang" Ucap Rian


" Sarapan dulu Ra, mau kemana?" tanya Andre tiba-tiba


Clara yang akan melangkah jadi berhenti mendengar Andre berbicara.


" Kalian mangkan nya jangan godain terus Rara, nanti lagi godain nya." Ucap Bunda Dinda


" Sini duduk lagi, Andre nya saja masih di sini kok. Gak usah buru-buru" lanjut Bunda


Mau tidak mau Clara kembali duduk di tempat semula, karena Clara bukan lagi anak kecil yang gampang marah. Saat tadi Clara akan meninggalkan meja makan, ia hanya becanda saja agar tidak ada yang menggoda nya lagi.