Doctor Is My Husband

Doctor Is My Husband
BAB 59



" Aziel lagi ngepain di situ, masuk yu... Oma sama Opa nanyain Aziel loh" Ucap Andre


" Aziel takut Dad" jawab Aziel sambil menunduk


" Engga usah takut kan ada Daddy, mau Daddy gendong" tawar Andre


" Aziel jalan saja"


Andre membawa Aziel kedalam sambil memegang tangan nya agar tidak lepas seperti tadi. Aziel memegang tangan Andre dengan erat saat sudah dekat dengan kedua Oma dan Opa.


" Sini sayang duduk sebelah Mommy" Ucap Rara sambil menepuk sofa di sebelah nya


Andre menduduki Aziel di tengah-tengah antara diri nya dan sang istri.


" Hallo Aziel selamat datang di rumah. Kenalkan ini Oma Wulan yang ini Oma Dinda yang itu Opa Bima dan yang sebelah nya Opa Adit" Ucap Bunda Wulan memperkenalkan diri


" Kenapa banyak" jawab Aziel


Semua orang tertawa mendengar pertanyaan Aziel


" Iya sayang, Oma Dinda dan Opa Adit itu Orang Tua nya Mommy kalau Oma Wulan dan Opa Bima Orang Tua nya Daddy" Ucap Rara


Aziel hanya ber oh ria


" Sini sama Opa" Ucap Ayah Adit


Aziel sama sekali tidak bergerak karena dia takut akan di perlakukan seperti Daddy Haneul yang gak sayang sama Aziel. Karena tidak ada pergerakan dari Aziel, Ayah Adit melangkah mendekat


" Sini gak usah takut kita main di taman belakang yu sama adik-adik nya Aziel, mereka ada di sana" Ucap Ayah Adit


Mendengar kata adik-adik, Aziel ingin bertemu karena ingin bermain dan berkenalan.


" Ha-- hayu Opa" Ucap Aziel ragu-ragu


" Yu... Opa gendong, ayo Bim" Ajak ayah Adit kepada Ayah Bima


Para Opa mengajak Aziel bermain di taman belakang sementara Oma-Oma nya menagih cerita kepada kedua anak nya.


" Iya Andre cerita"


Andre menceritakan awal pertemuan dengan Aziel sampai Orang Tua nya tidak mau membawa Aziel untuk pulang apalagi ibu kandung nya yang malah memilih suami nya di banding anak.


" Jihan yang tetangga kita itu, yang dulu nya suka main sama kamu Ra sedari kecil?" tanya Bunda Dinda


" Iya Bun... dikira Rara dia bakal pilih anak nya ternyata salah, Jihan malah menitipkan anak nya" jawab Rara


" Ibu macam apa itu, seharus nya memilih anak bukan suami dan kalau mencari suami itu harus yang mau menerima dia dan anak nya" kesal Bunda Wulan yang sudah mendengar cerita


" Kalau masih tetangga kita, sudah Bunda temuin kedua Orang Tua nya. Tapi mereka sudah pindah rumah entah kemana, kita juga gak di undang jika anak nya sudah menikah!" Seru bunda Dinda


" Kita jangan membahas tentang kedua Orang Tua nya di depan Aziel, karena dia masih kecil kasihan gak baik buat pertumbuhan nya." Ucap bunda Wulan


" Iya Bun... kita juga kasihan, waktu pertama kali dia menangis terus mengingat kejadian itu." jawab Andre


" Jadi apa Bunda gak masalah jika Andre dan Rara mengangkat Aziel menjadi anak kita?" lanjut Andre


" Bunda gak masalah, malah Bunda senang biar rumah tambah rame. Terus nambah cucu juga, benar gak Din" Ucap Bunda Wulan dan di balas dengan anggukan


...---------------------------------------------------...


Setelah berpamitan kepada Bunda Wulan dan Bunda Dinda. Andre dan Clara pergi ke kamar, karena akan membersihkan badan dulu sebelum bertemu dengan Lio dan Fio. Takut nya nanti terkena virus


" Rara seneng deh Mas ternyata Bunda kita menerima Aziel di keluarga ini, Rara tadi sudah berfikir jika Aziel tidak di terima di sini ternyata fikiran Rara salah" Ucap Rara sambil merapihkan baju yang di dalam koper ke dalam lemari


" Mangkan nya jangan berfikiran negatif dulu belum tentu benarkan, tapi memang sih Mas juga saat pertama kali nya membawa Lio dan Fio ke rumah... ragu, takut nya tidak menerima tapi malah sebalik nya" Ucap Andre


" Nah kan kamu sendiri sama, gimana sih tadi kata nya jangan berfikiran negatif dulu" Gerutu Rara


" Biar menghemat waktu gimana kita mandi bareng, Mas gak akan menyelam kok benaran kan baru malem kemarin kita menyelam" lanjut Andre tanpa menjawab omongan istrinya


" Mas mandi duluan saja, Rara lagi beresin dulu baju-baju sama oleh-oleh yang di beli" jawab Rara


" Itu bisa nanti, kita mandi dulu. Ayolah sayang kan kita mau ketemu Lio sama Fio" Ucap Andre dengan manja