
Cukup lama mereka berbincang-bincang tapi tidak ada tanda-tanda Aziel akan memberikan maaf kepada Bram. Ia masih memeluk sang Mommy yaitu Clara.
" Kalau begitu kami pamit Andre Clara" Ucap Bram
Yap... kali ini Bram mengganti panggilan nya karena keinginan Andre dan juga Clara.
" Buru-buru amat sudah mau pulang lagi" Ucap Andre
" Iya kita mau menyusul Azura, lagi di rumah Nenek nya" jawab Bram
" Andre Clara terima kasih ya, maaf sudah membuat repot. Saya titip Aziel" lanjut nya
" Tidak sama sekali, Aziel juga sudah kami anggap sebagai anak kita sendiri" jawab Andre
" Aziel... Daddy pulang dulu" Ucap Bram sambil mengelus rambut sang anak
" Clara kita pamit ya" Ucap Aneta
" Iya hati-hati di jalan, maaf gak bisa anter ke depan" Ucap Rara
"Aziel sama Daddy yu, kita anter Daddy Bram ke depan" Ajak Andre
Aziel yang di ajak oleh Andre tetap saja memeluk Clara, ia tidak bergeming sama sekali.
" Yasudah kalau Aziel tidak mau" pasrah Andre
" Mari saya antar ke depan"
Tepat di depan pintu utama, langkah Bram terhenti kala mendengar suara teriakan dari anak kecil yang sedari tadi menangis.
" Uncle..."
Entah mengapa Aziel merasa bersalah saat Bram akan pulang, meskipun Aziel sedikit kecewa tapi ia takut menyesal jika tidak memberikan maaf nya kepada Bram. Aziel langsung berlari dan di ikuti Clara dari belakang
Bruk...
Aziel memeluk kaki Bram
" Aziel gak benci Uncle tapi Aziel sebal, kenapa Uncle lama menemukan Aziel" Ucap Aziel
" Maaf Daddy tidak bergerak cepat" jawab Bram sambil berjongkok
" Aziel sudah maafin Uncle" kata Aziel
" Daddy tidak salah dengarkan, Aziel sudah memaafkan Daddy?"
Aziel hanya menganggukan kepala tanda sebagai jawaban. Bram yang sudah mendapatkan maaf dari sang anak benar-benar sangat senang ia tidak menyangka ternyata Aziel akan memaafkan nya secepat itu.
" Tapi Aziel belum bisa memanggil Uncle dengan sebutan Da--Daddy" Ucap Aziel
" Tidak apa-apa, Daddy faham pasti Aziel masih membutuhkan waktu. Daddy juga tidak akan memaksa Aziel untuk tinggal bersama Daddy, Mommy Aneta dan Azura. Daddy akan menunggu kapan kamu siap" Ucap Bram
" Kalau gitu Daddy sama Mommy Aneta pulang dulu ya" lanjut nya
" Iya Uncle hati-hati" Ucap Aziel sambil mencium punggung tangan Bram dan juga Aneta
" Assalamu’alaikum" Ucap Bram dan Aneta
" Waalaikumsalam"
...--------------------------------------------------...
" Ges, aku mau cerita" Ucap Gita tiba-tiba
" Apatu, kaya nya serius deh" jawab Salsa yang sudah bersiap mendengarkan cerita Gita
" Aku di tembak Yoga"
" Mati dong" celetuk Finna
" Serius Fin!" Seru Gita
" Iya maaf-maaf, terus gimana kamu terima?" Ucap Finna
" Aku belum jawab"
" Loh kenapa?" tanya Salsa
" Aku belum yakin dengan perasaan aku sendiri" jawab Gita
" Tapi suka?" tanya Finna
" Entahlah, aku juga gak tahu"
" Aku tuh sebel saat dia gangguin terus tapi aku juga gak suka kalau Yoga diemin aku apalagi tiba-tiba menghilang seperti waktu itu dan bilang Yoga mau melamar seseorang, perasaan aku jadi aneh tidak seperti biasa nya" lanjut Gita
" Menurut aku, itu artinya kamu suka tapi kamu sendiri tidak menyadari nya. Perasaan kamu sudah terpenuhi oleh rasa sebal itu jadi kamu tidak menyadari, jika kamu mempunyai rasa terhadap Yoga" Ucap Salsa
Gita yang mendengar menganggukan kepala nya, ia berfikir mungkin benar apa yang di katakan sahabat nya.
" Jadi aku harus bagaimana?" tanya Gita
" Terimalah, dari pada nanti Yoga depresi di gantung terus" jawab Finna
" Tapi ikuti kata hati kamu juga" Ucap Salsa
...--------------------------------------------------...
" Rara sama Aziel kemana?" tanya Bunda Wulan yang melihat Andre hanya sendirian
" Lagi siap-siap mau ke rumah Bunda Dinda" jawab Andre
Bunda Wulan hanya ber oh ria saja
" Tadi siapa yang kesini Ndre?" tanya Ayah Bima
" Pak Bram, Daddy nya Aziel"
" Jadi Pak Bram sudah tahu Aziel itu anak nya?" tanya Bunda Wulan yang sudah kepo mode on
" Sudah"
" Lalu?" tanya Bunda Wulan lagi
Andre menceritakan saat diri nya bersama sang istri menemui Bram dan Aneta, tidak ada yang ia lebihkan atau kurangkan.
" Jadi Aziel gak akan tinggal sama kita lagi?" tanya Bunda Wulan dengan sendih
" Aziel masih tinggal di sini, karena Bram juga tidak memaksa Aziel untuk tinggal bersama nya dan Aziel sendiri belum terbiasa untuk memanggil Bram dengan sebutan Daddy" jawab Andre
" Tidak apa-apa... kita jangan memaksa Aziel untuk ikut dengan Orang Tua nya, jika kita memaksa nya takut itu menjadi beban bagi dia. Biarkan Aziel ber adaptasi dengan perlahan" Ucap Ayah Bima