
" Mas harus percaya ya ada Aneta juga di sini, bismillah... "
⚫
Tok... tok... tok
Cukup lama mereka menunggu akhirnya pintu di buka dari dalam.
Ceklek...
" Maaf mencari siapa?" tanya Bi Ani
" Apa benar ini rumah nya Pak Andre?" tanya Bram
" Iya betul"
" Apa boleh saya bertemu dengan Pak Andre? Maaf sebelum nya saya Bram dan ini istri saya"
" Silahkan masuk Tuan, saya panggilkan den Andre dulu"
Usai Bibi Ani berpamitan, ia langsung menuju ruangan keluarga untuk bertemu dengan Andre yang sedang bermain bersama ketiga anak nya.
" Maaf den... di depan ada yang mencari" Ucap Bi Ani
" Siapa Bi?" bingung Andre
" Tadi itu Tuan Bram dan istrinya" jawab Bi Ani
Clara yang mendengar langsung menatap sang suami.
" Terima kasih Bi nanti saya ke depan" Ucap Andre
" Kalau begitu saya permisi" pamit Bi Ani
" Mas... Rara gak salah dengarkan, di depan ada Bram?" tanya Rara
" Iya Sayang... firasat Mas kalau Bram memang sudah mengetahui tentang Aziel"
Seketika wajah Clara berubah menjadi sendu, tapi yasudah Clara tidak boleh egois dan ia juga tidak boleh memisahkan anak dengan Orang Tua nya.
" Gak apa-apa kan Bram ke sini, kamu mau ikut atau tunggu di sini?" tanya Andre yang melihat perubahan wajah sang istri
" Ikut"
Setelah menitipkan kembar ke pada Oma dan Opa nya. Andre dan Clara langsung menemui Bram beserta istrinya.
" Senang bisa bertemu lagi dengan Pak Bram, Ohya ada keperluan apa sampai-sampai Pak Bram berkunjung?" lanjut nya
" Bagaimana ya... saya jadi tidak enak" jawab Bram
" Tidak apa-apa Pak, santai saja"
" Jadi begini, mungkin Pak Andre juga sudah mencari tahu tentang Aziel. Dan kedatangan saya kesini... saya ingin bertemu dengan anak kandung saya, Aziel.... Saya sudah lama sekali mencari nya. Tapi karena Jihan, saya tidak bisa bertemu dengan Aziel. Dia menghilangkan jejak nya agar saya tidak bisa menemui mereka" Ucap Bram
" Dan beberapa hari yang lalu saya mendapatkan informasi bahwa Jihan sudah berada di Indonesia. Bersamaan dengan itu saya bertemu dengan Jihan dan ternyata dia tidak bersama Aziel lagi."
" Saya hanya memiliki foto ini saja. Saya sangat senang ternyata selama ini Aziel berada di dekat saya." lanjut Bram sambil memberikan foto
Usai mendengarkan cerita nya, Andre salut sekali dengan Bram. Ia terjatuh lalu dengan kerja keras nya dia bangkit kembali. Mungkin jika Andre berada di posisi Bram, ia tidak akan bisa bertahan sejauh ini apalagi di tinggalkan anak beserta istri nya selama bertahun-tahun.
" Apa boleh saya bertemu dengan Aziel?" tanya Bram
Sebelum Andre menjawab ia meminta persetujuan sang istri, takut nya Clara belum siap untuk melepas Aziel. Clara yang paham menganggukan kepala nya pertanda ia memperbolehkan.
" Sangat boleh Pak, karena Aziel juga anak kandung Pak Bram. Tapi saya minta berbicara perlahan kepada Aziel dan jangan memaksa, takut nya itu mengganggu tumbuh kembang nya Aziel." jawab Andre
" Itu pasti Pak Andre karena saya sudah siap mengambil risiko nya jika Aziel membenci saya"Ucap Bram
" Kalau begitu biar Rara yang panggil Aziel" Ucap Rara sambil berdiri
Entah mengapa rasa nya berat sekali untuk melepas Aziel, memang Clara sudah ikhlas tapi entahlah rasa nya sedih sekali seperti melepas anak bujang nya yang akan membina rumah tangga.
Clara yang sudah berada di dekat Aziel langsung mengajak nya ke ruang tamu, karena ada yang ingin bertemu dengan nya. Saat melangkah ke ruang tamu Aziel benar-benar bingung siapa yang ingin bertemu dengan dirinya, karena disana hanya ada orang dewasa.
" Dad... siapa yang ingin bertemu dengan Aziel?" tanya Aziel yang berdiri di sebelah Andre
" Coba lihat ke depan" jawab Andre
" Uncle Bram" Ucap Aziel yang bingung
" Hallo, Aziel" panggil Bram
" Uncle mau berbicara sama Aziel boleh?" lanjut nya
" Boleh Uncle" jawab Aziel sambil duduk
" Selama ini apa Mommy Jihan pernah bercerita tentang Daddy Aziel?" tanya Bram
" Uncle kenal Mommy?" tanya balik Aziel