Doctor Is My Husband

Doctor Is My Husband
BAB 18



Flashback On


Setelah pulang dari makan malam bersama, pikiran Rian masih ada yang mengganjal dan Rian harus mencari tahu nya sendiri. Pada saat akan mengambil minum ke bawah, Rian melihat Ayah nya sedang menonton bersama Bunda.


"Ayah!" panggil Rian menghampiri Ayah dan Bunda nya yang sedang menonton


Ayah dan bunda menoleh ke arah suara, "Kenapa?"


"Ayah punya nomor nya Andre gak?" tanya Rian ragu-ragu


"Ayah cuman punya nomor Ayah nya kalau Andre engga punya, memang mau apa?" tanya Ayah Adit lagi


"Ayah bisa tolong mintain, soal nya Rian hanya ingin memastikan kalau Andre pantas untuk Rara."


Ayah Adit tersenyum mendengar penuturan anak sulung nya, yang ingin melindungi sang adik agar tidak terjadi apa-apa. "Bisa, nanti Ayah langsung kirim ke nomor kamu."


"Makasih Ayah, kalau gitu Rian pamit ke atas dulu."


Saat berada di kamar, Rian langsung mengambil handphone nya dan menunggu sang Ayah mengirimkan nomor Andre.


Tidak lama suara handphone Rian berbunyi pertanda ada yang masuk.


*Ting ...


"Akhirnya Ayah ngirimin juga." Ucap Rian


Saat Rian akan menelefon Andre tiba-tiba.


"Mau telfon siapa?" tanya Raissa tiba-tiba mengagetkan Rian


"Sayang, bikin kaget aja. Ini mau telfon Andre. Mas hanya ingin memastikan kalau Rara pantas dengan Andre." jawab Rian


"Aku tambah sayang deh sama Mas, meskipun suka ribut terus sama adik nya, tapi Mas Rian ingin yang terbaik buat Rara." Kagum Raissa sambil memeluk Rian.


"Aku juga sayang sama kamu." Seru Rian


Saat sambungan telfon tersambung


"Assalamu’alaikum, maaf ini siapa ya?" suara Andre di sebrang sana


"Waalaikumsalam, Ini Rian Abang nya Clara maaf menggangu waktu nya. Btw gak usah formal ya ribet, jadi gini aku mau nanya. Apa kamu serius dengan Rara?" tanya Rian mode serius


"Kalau boleh jujur, dari awal aku ketemu sama adik nya Bang Rian aku sudah ada rasa, tapi rasa itu aku singkirkan begitu saja, karena menurut aku rasa itu muncul karena rasa sayang terhadap Abang ke Adik nya. Tapi seiring berjalan nya waktu dan semenjak Clara pergi ke desa untuk pekerjaan nya, disitu aku merasa seperti ada yang kurang. Dan aku salat di sepertiga malam, jawaban itu mengarah kepada Clara." Ucap Andre panjang lebar dan penuh keyakinan.


"Dan insyaallah dengan seizin Allah, jika memang benar aku berniat untuk mengajak Clara kearah yang lebih serius lagi." lanjut Andre


"Alhamdulillah, kalau kamu sudah benar-benar yakin, aku titip Adik kesayangan Abang sama kamu. Jangan pernah sakiti hati nya, kalau ada masalah selesaikan dengan secara baik-baik dan dengan kepala dingin, jangan terbawa emosi. Abang seperti ini semata-mata ingin menjaga Clara agar mendapatkan yang lebih baik lagi dan bisa membimbing dengan baik. Sekali lagi jangan pernah sakiti hati nya karena dia itu orang nya sangat baik kepada siapapun." Ucap Rian sambil membayangkan wajah sang Adik


"Abang sudah kasih kamu lampu hijau buat melanjutkan hubungan kamu dan Rara kejenjang yang lebih serius lagi." lanjut Rian


Seulas senyuman terpancar di wajah Andre mendengar penuturan dari sang calon Kakak ipar yang sudah menerima nya. "Insyaallah, Andre akan melaksanakan amanat nya dengan baik." Ucap Andre


"Baik, kalau kalau begitu Kakak tunggu di rumah kedatangan Andre dan keluarga." Seru Rian


"Iya kak Rian, secepat nya Andre datang ke rumah. Terima kasih sudah mempercayai Andre sebagai calon suami nya Clara." Ucap Andre


"Sama-sama, jangan merusak kepercayaan Kakak yang sudah di bangun ini. Yasudah Kakak tutup dulu telfon nya selamat tidur. Assalamualaikum." Ucap Andre sambil mematikan sambungan telfon.


Setelah Rian menelefon Andre rasa nya beban yang di pikul mengurang dan keganjalan di pikiran nya sudah menghilang.


Flashback Off