Doctor Is My Husband

Doctor Is My Husband
BAB 127



Pertama kali Haneul memasuki ruangan NICU, hati nya benar-benar terasa sesak. Melihat seorang bayi tengah terbaring, yang sama sekali belum ia beri nama dan sekarang ada di hadapan nya. Dengan berbagai alat yang di pasang untuk membantu bayi itu bertahan hidup.


"Assalamu’alaikum, anak Daddy yang cantik." Ucap Haneul, "Maaf Daddy baru lihat kamu, maaf saat masih di dalam perut Mo--Mommy ... Daddy tidak menjaga kamu dengan baik, maaf Daddy telah ragu atas hadir nya kamu. Mulai sekarang Daddy akan merawat kamu, membesarkan kamu hingga dewasa nanti."


Haneul mengambil nafas nya dalam-dalam, ia sangat tidak kuat melihat bayi yang ada di hadapan nya.


"Daddy yakin kamu bisa melewati ini semua nak, kamu harus kuat ya seperti Daddy. Tolong jangan tinggalkan Daddy--" Ucap Haneul terhenti, karena menahan air mata nya agar tidak jatuh, "Daddy gak bisa jika kehilangan kamu nak... tolong bertahan untuk Daddy. Daddy sayang kamu Hana Lydia. Daddy gak bisa lama-lama di sini, Daddy pamit ya nak. Assalamualaikum"


Berat sekali meninggalkan sang anak sendirian, tapi ia juga tidak bisa membawa nya. Karena Hana sangat membutuhkan alat-alat yang berada di tubuh nya. Dari kejauhan Haneul hanya bisa mendoakan untuk kesembuhan Hana.


...🍃 🍃 🍃 🍃 🍃...


Waktu terus berputar, hari demi hari di penuhi oleh ke ceriaan si kembar serta Aziel. Bulan demi bulan, sudah mereka lewati bersama dengan baik. Andre dan Clara sangat senang dengan Aziel, sudah mau memanggil Bram dengan sebutan 'Daddy' serta memanggil Aneta dengan 'Mommy'.


Dan setiap weekend Aziel selalu menginap di rumah Bram, tetapi ia belum terbiasa untuk tinggal di rumah sang Daddy. Meskipun Clara selalu menyuruh nya untuk tinggal di rumah Bram, tapi Aziel selalu menolak dengan alasan ia ingin menenami Mommy Clara yang sudah mengambil cuti untuk melahirkan.


Bulan ini tak terasa kandungan Clara sudah menginjak sembilan bulan, dimana sepasang suami istri ini sudah menunggu kehadiran sang buah hati terlahir ke dunia dan perkiraan Andre hanya tinggal menghitung hari saja untuk sang istri melahirkan.


Malam hari di sebuah kamar, Clara yang memang sudah tertidur bersama sang suami tiba-tiba saja terbangun. Karena merasakan keram di area perut nya, tapi tidak terlalu sering dan masih bisa ia tahan.


Setelah kembali memejamkan mata nya, tidak lama kemudian keram itu kembali muncul, tetapi kali ini terasa lebih kuat dan lebih sering. Ia mencoba untuk membangunkan sang suami sambil menggoyang-goyangkan lengan.


"Mas... bangun" Ucap Rara, "Mas ...."


"Bangun!"


Andre yang samar-samar mendengar istrinya memanggil langsung membuka mata nya.


"Kenapa sayang?" tanya Andre


"Sakit" jawab Rara


" Apa yang sakit?" bingung Andre yang belum sepenuhnya tersadar


"Perut Rara sakit Mas."


Sontak saja Andre kaget, ia meminta kepada Clara untuk menarik nafas. Sementara Andre akan mencuci tangan nya terlebih dahulu sebelum memeriksa sang istri.


Selesai dengan mencuci tangan, Andre membenarkan posisi Clara dan membuka kedua kaki nya serta melepaskan celana yang masih terpasang.


"Sebelum kita ke rumah sakit, Mas harus cek dulu ok ..." jawab Andre, "Tarik nafas, lalu buang."


"Huuff ..."


Andre memasukan jari nya dengan perlahan, untuk mencek sang istri sudah memasuki pembukaan yang ke berapa.


"Baru pembukaan empat, kalau begitu kita ke Rumah Sakit sekarang. Masih kuat?" tanya Andre dan di balas dengan anggukan kepala


Karena perlengkapan sudah di siapkan dari jauh-jauh hari, menjadikan mereka tinggal membawa nya. Usai memberi tahu orang yang di rumah, Andre langsung membawa sang istri ke Rumah Sakit. Kali ini yang mengendarai mobil supir pribadi keluarga Nugroho, karena Andre harus menemani sang istri yang tengah ke sakitan.


Sesampainya di Rumah Sakit, Andre di bantu beberapa perawat menuju ruang rawat inap. Karena jika langsung menuju ruangan bersalin pembukaan nya belum lengkap.


Di dalam ruangan


"Mas ... sakit." rintih Rara


"Iya sayang, yang kuat ya. Kamu pasti bisa." jawab Andre sambil mengelus-ngelus punggung Clara yang sedang duduk di atas ball birth.


Ceklek ...


"Sudah pembukaan berapa?" tanya Fariza yang tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu


"Kamu tahu dari siapa, kita ada disini?" tanya balik Andre yang tidak menjawab pertanyaan sepupu nya


"Dari Om dan Tante, jadi sudah pembukaan berapa?" tanya Fariza mengulangi pertanyaan nya


"Dari tadi masih empat." jawab Andre


Andre teringat sejak tadi, ia belum mengabari Bunda Dinda dan Ayah Adit jika Clara akan melahirkan.


"Sayang ... Mas ambil handphone dulu di tas ya, mau telpon Ayah Adit." Ucap Andre


"Iya, Mas." jawab Rara


"Far ... tolong pegangin dulu!"


"Siap, Pak Dokter."