Doctor Is My Husband

Doctor Is My Husband
BAB 118



Haneul yang ingin mendekat dan memberikan penjelasan kepada Ayah Bima dan Bunda Wulan, tiba-tiba saja sudah ada yang masuk.


"Assalamu’alaikum" Ucap Andre dan Rara dengan membawa si kembar


"Waalaikumsalam"


Loh mereka kan... batin Haneul


"Hay ... Oni gimana sekarang keadaan nya?" tanya Rara


"Alhamdulillah, sudah membaik Ra." jawab Fariza


"Kamu ini membuat kita khawatir saja, gak ada kabar tiba-tiba masuk Rumah Sakit!" omel Andre


Andre dengan Fariza memang dekat sedari kecil. Karena kedua nya hanya berbeda satu tahun, menjadikan mereka memanggil tidak pernah dengan sebutan yang semestinya.


"Ya ... maaf nama nya juga kecelakaan mana ada yang tahu!" Seru Fariza


"Terus gimana ceritanya bisa seperti ini?"


"Tanyain saja tuh sama orang nya!" Ucap Fariza sambil mengarahkan tangan nya


Andre dan Clara yang mengikuti arah tangan sepupu nya sangat kaget. Mengapa bisa ada Haneul di ruangan ini? Apa jangan-jangan yang sudah membuat Fariza kecelakaan itu... Haneul. Kira-kira seperti itulah pikiran pasangan suami istri ini.


"Pak Haneul!" Ucap Ayah Bima yang melihat rekan bisnis nya


"Anda ngapain disini?!" pekik Andre


"Ya jelas lah dia ada, Tuan itu yang sudah membuat aku seperti ini!" celetuk Fariza


"Jadi yang sudah membuat Fariza kecelakaan itu ulah Anda?! Anda itu bisa menyetir atau tidak!" Seru Andre, "Untung saja tidak terjadi hal serius dengan kepala Fariza!"


"Maaf saya benar-benar minta maaf, kemarin malam saya sedang banyak pikiran dan saya tidak melihat ada yang menyebrang." sesal Haneul


Jika saja sedang tidak menggendong sang anak, Andre sudah memukul Haneul tetapi sebisa mungkin ia harus menahan ke sabaran.


"Terus kenapa masih disini?!" ketus Andre


"Lebih baik kita bicarakan hal ini sambil duduk." ujar Ayah Bima karena sudah mulai pegal


Mereka semua menuju sofa, terkecuali Fariza yang diam di ranjang Rumah Sakit sambil mendengarkan obrolan.


"Apa benar Pak Haneul yang sudah membuat Fariza kecelakaan?" tanya Ayah Bima dan di balas dengan anggukan kepala


Huft


"Ceritakan bagaimana kronologi nya?" Ucap Ayah Bima


Haneul menceritakan kejadian kemarin malam, ia sama sekali tidak mengurang-ngurangi dan melebih-lebihkan, semua nya murni kesalahan Haneul yang tidak memperhatikan jalan.


"Sekali lagi saya minta maaf!" Ucap Haneul sambil menunduk'kan kepala nya


"Sudah ... yang terpenting Fariza sudah tidak apa-apa, dan tidak ada masalah yang serius di kepala nya" Ucap Ayah Bima


"Iya ... yang sudah terjadi biarlah, jadikan pelajaran untuk kita agar saat sedang menyetir mobil harus dengan kecepatan rata-rata jangan melebihi dan harus memperhatikan jalan." Ucap Bunda Wulan


"Ohya ... kok kalian bisa saling kenal?" tanya Ayah Bima


"Dia 'kan suami nya Jihan!" jawab Andre


"Jihan ... Mommy nya Aziel?" tanya Bunda Wulan


Clara menganggukan kepala nya, "Iya, Bun."


"Terus mana Jihan nya, kok gak ada?" tanya Bunda Wulan yang melihat Haneul


Haneul hanya tersenyum saja, tanpa mau menjawab pertanyaan Bunda Wulan.


"Andre, Clara maaf awal pertemuan kita saat di Paris yang mungkin sangat tidak baik. Dan tolong sampaikan maaf saya kepada Aziel." Ucap Haneul


"Kamu sehat? Gak lagi sakit?" bingung Andre


"Mas ..." ucap Rara sambil menggelengkan kepala nya


Bisa-bisa nya Andre berpikiran seperti itu, ya... memang bingung juga mengapa Haneul tiba-tiba meminta maaf kepada kedua nya apalagi kepada Aziel. Tetapi jika seseorang akan berubah menjadi lebih baik lagi, kenapa tidak. Seperti itulah batin Clara


"Bukan gitu sayang, aku aneh saja. Terakhir ketemu di Rumah Sakit, seperti orang yang tidak suka!" jawab Andre mengingat kejadian terakhir bertemu dengan Haneul


"Tidak apa-apa kita mengerti saat pertama bertemu, dengan situasi yang tidak baik. Dan nanti kita akan sampaikan pesan Haneul kepada Aziel." Ucap Rara


"Ohya ... ada satu hal yang ingin Rara tanyakan, mengapa saat itu Haneul bilang jika Aziel anak pembawa sial?" lanjut nya


"Eemm ... jadi begini. Pada saat pertama kali saya bertemu dengan Jihan, di sebuah bar sambil menggendong bayi. Di situ saya merasa kasihan terutama terhadap Aziel, karena tempat itu tidak baik untuk seorang bayi. Dan saya memutuskan untuk membawa kedua nya tinggal di rumah saya." tutur Haneul sambil menjeda cerita nya


"Tidak lama kemudian, setelah saya membawa Jihan dan Aziel ke rumah ... Mommy selalu meminta saya untuk segera menikah dan saat itu saya sangat tidak bisa untuk mengabulkan keinginan Mommy. Hingga Mommy jatuh sakit, beliau masih saja meminta saya untuk menikah. Dengan tidak ada pilihan lain saya menikahi Jihan, tapi selama empat tahun saya dan Jihan tidak pernah untuk bersentuhan atau sekedar tidur bersama."


"Dan sejak kejadian yang tadi saya ceritakan, saya mengira jika Aziel adalah anak pembawa kesialan. Karena Mommy selalu meminta saya untuk segera menikah, hingga Mommy jatuh sakit." lanjut Haneul