
Pertama kali membuka mata nya, Jihan sudah berada di ruang rawat inap. Hanya seorang diri dan tidak ada yang menemani. Saat akan mengambil minum di atas nakas, ia merasakan perih di area bawah perut nya.
"Ssh ... kenapa perih" gumam Jihan
Jihan yang menyadari perut nya tidak seperti sebelum nya, sangat kaget.
"A--anak aku mana?" bingung Jihan sambil memegang perut nya
Ceklek ...
"Mas!" panggil Jihan yang melihat Haneul
"Bayi nya sedang berada di inkubator dan jika hasil dari tes bayi itu adalah anak saya. Saya akan membawa nya, hubungan kita hanya bisa sampai di sini" Ucap Haneul to the point
"Gak... aku gak mau cerai Mas." teriak Jihan
"Karena kamu ingin menguras harta saya kan!"
"Engga Mas, tolong beri satu kali kesempatan lagi untuk aku perbaiki semua nya"
"Apa tidak cukup untuk memperbaiki, saat aku pergi dari rumah!?"
Jihan yang mendapatkan pertanyaan seperti itu hanya bisa terdiam sambil menunduk.
"Gak bisa jawabkan! Terima kasih sudah membuka luka ini kembali. Nanti setelah hasil tes nya keluar, Lucky akan memberikan surat yang harus kamu tanda-tangani!" Ucap Haneul langsung meninggalkan ruangan Jihan
"Mas... aku gak mau Mas!!"
Benar-benar ia merutuki kebodohan nya sendiri, yang telah merusak hubungan pernikahan untuk kedua kali nya. Kenapa pikiran nya ini hanya ada harta... harta.... dan harta, seolah ia tidak puas apa yang sudah di dapat.
"Bodoh! ... bodoh! ... bodoh!" Ucap Jihan sambil memukul-mukul kepala nya
Apa ini sebuah karma, aku meninggalkan Mas Bram disaat dia sedang terpuruk dan sekarang aku sendiri yang di tinggalkan oleh Mas Haneul. Kenapa? Kenapa aku tidak belajar dari kesalahan aku sendiri. Batin Jihan
Yang di lakukan hanya bisa menangis dan menangis. Akan di perbaiki pun semua nya pasti sia-sia, Haneul tidak akan melirik nya lagi.
...---------------------------------------------------...
Sejak subuh sampai sekarang masih saja di guyur air hujan. Mereka semua yang akan melakukan aktivitas nya sangat malas untuk pergi, apalagi dengan keadaan hujan lebat ini. Mungkin salah satu nya yang paling nyaman yaitu menggulung tubuh dengan selimut.
Contoh nya saja Andre tidak memperbolehkan sang istri untuk meninggalkan tempat tidur, karena ia masih nyaman memeluk Clara.
"Mas lepas, ini hampir jam tujuh." pekik Rara
"Terus kenapa? Lagian di luar hujan jadi enak nya begini." tanya Andre
"Astagfirullah Mas! Rara harus membantu Bunda buat sarapan, mengantarkan Aziel dan kita juga harus berangkat ke Rumah Sakit." jawab Rara
"Semuanya sudah ada yang mengerjakan jadi kita di kamar saja sampai hujan reda"
Clara yang mendengar ucapan sang suami, memutar bola mata nya malas.
Tok ... tok ... tok
"Mommy Daddy, Mom." Ucap Aziel sambil mengetuk pintu kamar
"Mas lepas, itu Aziel manggil!" Ucap Rara sambil melepaskan pelukan nya
"Biarkan saja!" jawab Andre
Karena tidak ada yang menjawab dari dalam kamar, akhirnya Aziel mencoba untuk membuka pintu dan ternyata tidak di kunci.
Ceklek ...
"Mom Dad!" panggil Aziel, "Ayo sarapan, kenapa masih tidur" lanjut nya
"Mommy gak di lepasin sama Daddy, Ziel." adu Rara
Aziel yang melihat sang Daddy masih tertidur, langsung menghampiri dan menggoyang-goyangkan tubuh nya.
"Daddy bangun, sudah siang!" Ucap Aziel sedikit berteriak
"Masih pagi Ziel, lagian di luar hujan." jawab Andre
"Daddy suka bilang jam 07:00 itu sudah siang, cepet bangun Dad... memang Daddy tidak bekerja?"
"Tidak Daddy libur"
"Inikan bukan hari libur, kalau begitu Aziel libur juga!"
"Loh... loh, Aziel harus masuk. Kata nya mau menggapai cita-cita tapi malah bolos!" Seru Andre
"Tapi Daddy saja ada di rumah kok" jawab Aziel
"Sudah Mas cepet bangun! Jangan mengajarkan yang tidak bagus kepada Aziel nanti dia mengikuti Daddy nya yang malas." pekik Rara
"Iya iya ... Daddy bangun." pasrah Andre
"Cepat Dad sekarang mandi!" Ucap Aziel
"Gak usah mandi ya, dingin." jawab Andre
"Daddy!" teriak Rara dan Aziel bersamaan
Andre yang mendengar teriakan dari anak serta istri nya langsung memasuki kamar mandi dengan terburu-buru.
"Aziel duluan ke bawah ya, Mommy harus rapihin kasur dulu." Ucap Rara
"Siap Mom!" jawab Aziel dengan semangat nya
Sepuluh menit telah berlalu, Andre telah selesai dengan mandi pagi nya. Dan kini ia sedang menunggu sang istri yang sedang memoles wajah nya.
"Sayang gak usah cantik-cantik nanti banyak yang lihat." Ucap Andre
"Lebay deh Mas, biasa nya juga gini kok!" Seru Rara
"Enggak, yang ini beda dari biasa nya."
"Mata Mas yang beda!"
"Benar sayang, sebelum nya cantik² sekarang masih sama cantik² tapi seperti tan 90." Ucap Andre
"Tan 90?" bingung Rara
"Yap, cantik nya tak terhingga." jawab Andre
"Emm ... gombal!"
Setelah selesai dengan memoles wajah, Clara langsung mengajak sang suami untuk menuju meja makan, karena mereka semua sudah menunggu.