
Seketika Garda bungkam dengan perkataan Doni, ia tidak lagi menyalahkan mereka karena ketidak tahuan nya tentang Adri. Dalam hati kecilnya Garda sangat menyayangi Adri dan ingin melindungi nya, namun melihat kenyataan yang dulu saat dirinya mencampakan dan menghujat Adri bahkan sampai melukainya. Membuat dirinya seketika menciut dan bingung dengan apa yang harus ia lakukan.
" Coba kau hubungi bang Max, jess, Rido, Malik, Tessa dan bang Robi. Siapa tau mereka tau keberadaan Adri " Kata Radit memberi saran.
" Kalo bang Max, tadi telpon dan menanyakan kabar tentang Adri. Tapi sekarang dia susah untuk di hubungin " Jawab Alif dengan gelisah.
" Tumben bang Max tanya keadaan Adri, biasanya dia selalu santuy kalo Adri gak kenapa-napa " Ucap Radit heran.
" Gue balik duluan ya bro, ini udah mau sore nih. Lagian pertandingannya juga bakal di tunda sampe besok. Gue harap gadis cantik itu bisa kalian temukan " Ucap sandy sambil berdiri.
" Oh siap, Hati-hati ya dijalannya. Inget besok kalian harus tanding ulang oke " Jawab Radit sambil menepuk bahu temannya itu.
" Oke, kalo gitu kami duluan ya " Ucap Ali sambil bergegas pergi.
" Jadi gimana rencana kalian sekarang, apa kita cari kerumah nya atau gimana? " Tanya Radit.
" Apa iya kita kerumah nya, lagian Adri nyuruh kita buat gak terlalu sering dateng kerumah nya. Kalian tahu kan kalo rumah Adri di perumahan elite para pejabat dan TNI " Ucap Sigit dengan pelan.
" Huh, terus kita ngapain sekarang. Kalian lihat kan hujan gak berhenti dari tadi, dan si Adri belum juga datang bahkan di hubungi pun gak diangkat " Kata Doni sambil menghela nafasnya.
" Sebaiknya kita balik dulu dan menunggu kabar dari Adri, siapa tau dia emang lagi mengurusi keperluan pentingnya itu " Kata Radit menenangkan mereka.
Akhirnya mereka berempat mendengarkan pendapat dari Radit dan bergegas pulang karena hari sudah semakin sore dan hujan tak menunjukan mau reda. Mereka berjalan melewati koridor kelas dan berjalan menuju mobil mereka masing-masing.
β... π... β... π... β... π...
Sementara di kediaman Batara, terlihat Candra begitu gelisah dan mengkhawatirkan sesuatu. Sedari tadi dirinya terus mondar-mandir di dalam ruang kerjanya, sedangkan Hanna berada dikamar nya sejak pulang dari sekolah. Candra mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang dari ponselnya itu.
( percakapan dalam bahasa Inggris, aku nya lagi males buat translate satu-satu. Jadi harap maklum π ).
" Hallo Mr. Alfred, bagaimana keadaannya saat ini " Ucap Candra menyapa seseorang yang ada di sambungan telponnya.
"............ "
" Syukurlah kalo dia baik-baik saja, aku minta maaf karena hari ini aku gak jadi datang kesana. Istri ku tadi malah membuat kacau rencana yang aku susun dan aku terpaksa membatalkan keberangkatan " Kata Candra dengan lesu.
"............. "
" Maafkan aku, tadi aku sempat bertemu dengan cucu kesayangan mu dan sayangnya istriku masih salah paham dengannya, aku juga belum memberitahu tentang hal yang sedang kita sembunyikan. Aku sangat khawatir dengan keadaan cucu anda saat ini, aku benar-benar minta maaf karena membuat Anda kecewa Mr. Alfred " Kata Candra.
".............. "
" Baiklah kalo gitu aku tutup telponnya lagi, sampaikan salam rindu ku padanya dan bilang cepatlah sembuh " Kata Candra mengakhiri percakapan diantara mereka.
Akhirnya telepon pun ditutup, Candra kemudian duduk di kursi kerjanya dengan tenang. Namun ketenangan itu hilang ketika melihat istrinya sudah berdiri mematung di depan pintu ruang kerja miliknya itu. Candra memijat pelipisnya karena bingung harus menjelaskannya dari mana, sedangkan ia masih harus menutupi rencana nya itu hingga waktu yang ia tunggu tiba.
( Wanita mah kalo mode curiga nya udah ON susah buat ngendaliin nya. Benar gak sih πππ ).
" Tenang dulu Mi, itu rekan kerja Papa yang di Amerika. Papa baru saja ngasih kabar tentang pembatalan kunjungan kita itu " Kata Candra dengan pelan agar Hanna bisa sedikit tenang. Ia tidak memberitahu yang sebenarnya kepada Hanna dan tidak membuat kacau dengan apa yang telah ia rencanakan sejak bertahun-tahun lamanya.
" Aku tidak percaya, jangan-jangan Papa punya simpanan di Amerika, iya kan, barusan Papa bilang titip salam rindu segala. Ayo ngaku Pah, aku benci kamu Pah, kamu jahat " Bentak Hanna dengan emosi.
" Aku tidak selingkuh Mi, Papa cuman ngasih salam buat anak nya yang cantik itu. Papa niatnya mau jodohin sama anak kita, tapi melihat sikap mama seperti ini aku rasa calon besan bakal batalin rencana papa itu " Ucap Candra dengan gugup.
" Apa.... Kenapa Papa gak bilang sama Mami sih, kan sayang kalo dibatalin. Gak jadi punya mantu bule kan " Kata Hanna sambil bergelayut manja di tangan Candra.
" Tadi aja sikapnya udah kaya macan lagi ngamuk, lah sekarang jadi kucing anggora. Mana sok imut lagi, udah tua juga " Gumam Candra kesal.
" Papa ngatain Mami ya..? " Tanya Hanna dengan memandang curiga sama Candra.
" Apa sih Mi, sensi amat deh " Ucap Candra gelagapan.
" Awas aja kalo Papa ngatain Mami, Papa gak boleh tidur di kamar malam ini " Ucap Hanna dengan jutek sambil melepas rangkulannya dan pergi dari sana.
" Huh, udah tua tapi kelakuannya pengen kaya Abg. Sok-sok an ngambek lagi, paling nanti kalo ada petir keras juga langsung teriak takut " Kata Candra sambil ketawa geli.
Ia pun kembali meneruskan pekerjaan kantornya yang tertinggal tadi, hingga sebuah ketukan pintu kembali menggangu pekerjaan nya.
" Pah, kok Galuh tumben belum pulang ya. Biasanya jam 7 malam dia udah pulang tepat waktu, kok jam segini dia belum pulang juga ya " Kata Hanna dengan wajah cemas sambil kembali masuk ke ruang kerja nya.
" Paling lagi main Mi, coba telpon aja dulu " Ucap Candra dengan santai.
" Gimana kalo terjadi sesuatu sama Galuh, Mami gak mau kehilangan anak kita yang lain Pah. Sudah cukup Mami kehilangan Galih dan Mami merasa sangat bersalah karena selama ini Mami tidak bisa jadi seorang ibu yang baik " kata Hanna kepada Candra.
" Jangan berpikiran negatif dulu, lagian anak kita pasti sudah memaafkan kita di sana. Kita do'ain saja semoga dia baik-baik disana " kata Candra sambil tersenyum.
" Tapi Pah, Mami sangat salah selama ini. Papa dengar sendiri kan perkataan teman Galih tentang diriku, mereka tau semua tentang Galih tapi aku seorang ibu tidak mengetahui apapun tentang nya " ucap Hanna dengan raut wajah sedihnya.
" Mi, sudahlah jangan diteruskan lagi. Galih sudah tenang dan baik-baik aja disana, Mami sekarang coba hubungi dulu Galuh dan tanya nak Leksana temannya itu " saran Candra.
" baiklah Pah, maafin Mami " kata Hanna sambil beranjak pergi.
Hanna pun kembali keluar dari ruang kerja untuk menghubungi Galuh. Sedangkan Candra hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang istri yang berubah-ubah sedari tadi.
_________________________________________________
pokoknya jangan lupa untuk dukung terus cerita ini...
Dan see you di chapter akhir.. ππ