
Adri terdiam saat mendengar kata-kata Samudra, entah kenapa, sejak Samudra berbicara dengan mengungkap pengakuannya itu. Adri merasakan gelenyar aneh di bagian hatinya, ia berusaha menekan dadanya namun tidak menampakan respon apapun. Dan saat pengakuan Samudra tentang perasaan suka nya, entah mengapa ia merasakan hal yang sama dengan Galih. Adri bahkan tidak merasakan debaran jantung yang seperti itu saat dirinya di tembak oleh Galuh yang notabenya adalah kembaran Galih sang kekasih hatinya.
Saat ini, Adri tengah berperang antara perasaan dan juga pemikirannya. Jika ia mengedepankan perasaan nya, maka akan ada korban dari orang tersayangnya lagi. Namun jika dirinya memilih pemikirannya, maka dirinya akan merasa sakit untuk yang kesekian kalinya. Sakit setelah kehilangan Arjanta sang kakak kandung, lalu Galih sang kekasih hati yang selalu setia ada dilubuk hatinya.
Dengan keteguhan hati Adri, ia pun berbalik dan melihat kearah Samudra. Saat berbalik, ia sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Samudra.
" Apa yang loe lakuin Kak, loe gak jijik apa berlutut dilantai toilet " Tanya Adri pada Samudra, ia sebenarnya sangat bimbang dengan apa yang harus ia putuskan.
" Aku bahkan lebih jijik dibandingkan tempat ini, jika aku masih belum mendapatkan kata maaf dari mu. Aku rela untuk berlutut di hadapan semua orang dan meminta maaf kepadamu " Kata Samudra dengan mantap.
Adri nampak tersenyum kecil di balik ekspresi dingin dan datarnya itu, ia merasakan debaran jantungnya semakin bertambah kencang seakan mau lompat dari tempatnya. Sebagai seorang perempuan Adri juga sangat merasa lemah dalam hal perasaan, namun dengan keadaan dan juga kondisi nya yang telah melatih ia mampu mengendalikan atau menutupi hal tersebut dengan sikapnya nya yang dingin dan terkesan acuh.
" Gue sudah memaafkan kalian kok, gue hanya tidak suka melihat seseorang selalu merendahkan orang lain. Maka dari itu, siapapun yang melakukan itu akan selalu berhadapan dan bertentangan dengan prinsip gue, karena gue bukan tipe orang yang membedakan seseorang berdasarkan kastanya. Gue selalu menganggap setiap orang itu sama, yang membedakannya hanya bagaimana mereka memperlakukan kita, itu saja yang selama ini gue pegang dan terapkan " Kata Adri sambil menatap Samudra.
Samudra yang mendengar perkataan maaf dari Adri langsung mengangkat kepalanya dan akhirnya tatapan mereka saling bertemu. Samudra nampak sangat bahagia karena rencana baiknya sangat luar biasa berhasil dan jauh dari bayangan negatif yang selalu ia fikirkan. Karena Adri tak mau membuat ia mati karena serangan jantung mendadak, ia dengan cepat memalingkan wajah datarnya itu dan menatap kearah lainnya. Begitupun dengan Samudra yang sudah salah tingkah dengan apa yang ia perbuat.
" Awas, gue mau keluar dulu, kerjaan gue udah selesai juga " Ucap Adri pada Samudra.
Samudra kemudian bangkit untuk berdiri, ia pun lalu membersihkan celananya yang kotor akibat berlutut di lantai. Namun tanpa Samudra sadari, Adri sudah melewati nya dan pergi dari sana. Samudra yang baru saja selesai membersihkan pakaiannya kaget, karena Adri sudah menghilang dari hadapannya. Dengan cepat ia langsung pergi untuk mengejar nya keluar, namun saat sampai di depan pintu keluar toilet. Disana sudah ada Alif dan Doni yang sudah menunggu Samudra untuk keluar.
" Ngapain tu bocah pada diam disitu ya " Gerutu Samudra dalam hatinya. Ia memberanikan diri untuk pergi dan tak menghiraukan keberadaan mereka berdua.
" Khemm... " Doni berdehem untuk menyadarkan Samudra tentang keberadaan mereka berdua.
Benar saja, Samudra langsung berhenti melangkah dan hanya pasrah dengan apa yang akan ia Terima dari mereka berdua. Samudra kemudian berbalik dan menatap pasrah kepada Alif dan juga Doni.
" Ada apa, aku ada keperluan jadi gak bisa lama disini " Kata Samudra sambil menatap Alif dan Doni secara bergantian.
" Gue selama ini diam karena gue masih memperhatikan kalian, jangan harap kau dan teman mu itu bisa mendekati dan membuat Adri kembali di permalukan " Kata Alif dengan nada keras, ia juga menunjuk Samudra dan memberinya peringatan.
" Gue harap loe menjauhi nya dan gak berurusan lagi dengannya, atau pun membuat dirinya kesusahan. Loe bakal tau gimana akibatnya jika loe tak mendengarkan perkataan gue " Kata Doni mengancam Samudra.
Samudra tak dapat menyela ataupun sekedar membela dirinya, ia hanya bisa tertegun dengan apa yang ia dengar barusan. Dalam pikirannya, Samudra kembali membenarkan perkataan dari Tirta yang mencoba untuk menghentikan niatnya untuk mendekati Adri, kala kejadian kemarin.
" Apa yang mereka maksud, apa yang membuat diriku akan menjadi beban dan menambah masalah dalam kehidupan Adri. Aku hanya mengutarakan apa yang aku rasakan saja, kenapa hal itu tak bisa aku dapatkan " Ucap Samudra dalam hatinya.
Samudra kembali memandangi kepergian Alif dan Doni yang sudah semakin menghilang di balik lorong sekolah. Sedangkan dirinya pergi menuju kelas dengan perasaan kecewa bercampur dengan rasa penasaran atas apa yang ia dengar barusan.
Sementara di kantin sekolah, Adri sudah duduk santai dengan roti dan juga cemilan yang ia beli dari sana. Tak lama kemudian, Alif dan Doni sampai dan ikut duduk di kursi depan Adri. Doni yang sudah kehausan merebut minuman milik Adri dan menegaknya sampai habis, sementara Alif hanya menatap Doni dengan tatapan cengok melihat apa yang dilakukan Doni.
" Loe haus atau apa Don, minum udah kaya gajah aja loe. Sekali teguk habis sebotol gitu " Kata Alif sambil menggidikkan bahunya.
" Haus gue, lagian tadi gue ngajakin elo ke kantin malah narik gue buat ketemu sama si Adri " Balas Doni dengan nada kesal.
Flashback....
Adri baru saja keluar dari toilet dengan perasaan cemas nya, tanpa sadari ternyata disana sudah ada Alif dan Doni yang terlihat heran melihat gelagat dan juga ekspresi Adri. Sedangkan Adri tidak melihat keberadaan kedua temannya dan hendak pergi dari sana dengan kecemasannya itu, namun dengan cepat Alif menghentikan langkah Adri dengan memegang bahunya.
" Loe kenapa lagi, apa ada masalah baru lagi? "Tanya Alif dengan khawatir.
" Samudra... " Kata Adri singkat.
" Jadi dia yang udah buat Adri menjadi seperti ini? " Batin Doni.
" Sebenarnya seberapa seriusan masalahnya, kenapa dirinya menjadi seperti ini " Batin Alif juga.
" Oh ya, gue mau loe berdua bantu gue, buat ngalangin dia untuk tidak mengejar atau pun mendekati gue. Buat dia benci sama gue, gue minta bantuan sama kalian saat ini. Mohon bantulah gue " Pinta Adri pada kedua temannya. " Gue tunggu kalian semua dikantin " Kata Adri lalu pergi meninggalkan mereka.
Alif dan Doni hanya saling pandang dan heran dengan apa yang terjadi dengan Adri, namun tak lama kemudian mereka berdua melihat Samudra yang sudah keluar dari dalam toilet itu.
Back again....