
Adri menyenderkan kepalanya di dinding belakangnya, ia masih kesal dengan ucapan Samudra saat di lapangan tadi. Satu tangannya di letakan di atas untuk menutup matanya, Adri juga sedang memikirkan cara untuk membongkar kebusukan Rosa pada Garda.
" Loe kenapa Dri, si Galuh juga tumben pergi ninggalin loe " Tanya Sigit.
Adri diam gak mendengarkan perkataan dari Sigit, ia masih memikirkan tentang apa yang harus ia lakukan pada Gang nya Rosa.
Teman-teman Adri langsung terdiam dan lebih memilih pokus pada kegiatan mereka tadi, begitu pun Adri yang tak bergeming dari posisinya.
Lonceng pun berbunyi dengan keras dan menggema di setiap penjuru bangunan sekolah itu, seluruh murid pun berhambur keluar dari dalam kelas dan berlari kerah kantin dan juga gerbang sekolah.
Adri pun segera bangkit dan berjalan kearah pintu untuk bergegas keluar terlebih dahulu. Ia tidak ingin orang lain mendahuluinya, begitupun dengan ketiga temannya. Mereka menyusul dan berjalan di belakang nya.
Brakkk...Adri langsung menendang pintu dengan sangat keras, ia tidak memperdulikan orang yang ada di luarnya. Saat Adri dan temannya akan melangkah keluar dari dalam, mereka langsung terhenti ketika melihat orang yang tak asing sedang berada di lantai dengan posisi tengkurap.
" Ngapain loe tiduran disitu, gak ada tempat lain apa " Jawab adri santai tanpa salah.
" ******, siapa sih yang sudah berani nendang pintu. Orang gue mau buka juga " Umpat Galuh dengan kesal.
" Noh si adri yang udah nendang pintunya " Ucap Leksana.
" Salah sendiri pake diem disitu " Jawab Adri datar.
" Ck loe ini **** atau apa sih, kan bisa buka pake tangan, ngapain harus di tendang segala sih " Gerutu Galuh sambil mengelus dahi dan hidungnya. Ia langsung bangun dan membersihkan pakaiannya.
" Terserah " Jawab adri dengan datar.
Akhirnya semua murid berhambur keluar dan menyisakan adri dan keempat temannya. Mereka masih sedikit berbincang disana, dan sesekali tertawa konyol meledek Galuh yang jatuh tersungkur tadi.
" Loe mau kemana Cok, loe gak ke warung bi Sumi " Tanya Sigit pada Garda.
" Oh gue mau makan bareng sama gebetan gue, bosen gue makan bareng kalian mulu. Apalagi sama si adri, bikin gue gak napsu makannya juga " Jawab Garda singkat.
Akhirnya Garda pergi menuju kantin, tanpa menoleh kebelakang nya. Adri kemudian mengikutinya Garda untuk makan di kantin, begitu pun dengan ketiga temannya ikut menyusul. Entah kenapa Adri memikirkan ide licik yang bahkan di lancarkan nanti saat di kantin, lagian karena ia juga ingin sesekali merasakan suasana makan di kantin juga. Saat sampai disana, perhatian semua orang tertuju pada Adri yang memang sudah membuat heboh satu sekolah kemarin dengan statusnya.
Garda sudah duduk di kursi tempat Rosa duduk, ia tidak tidak menghiraukan tentang suara bisikan murid yang ada disana. Hingga ia merasa sangat kesal saat Adri mengangkat meja yang ada di depan Garda dan kekasih hati beserta kawannya. Hingga minuman dan yang ada di meja itu tumpah, dan menyiram pakaian Rosa dan kawan-kawan nya.
" Akh... Sialan siapa sih yang udah sengaja tumpahin minuman gue " Teriak Rosa dengan kesal. Ia mencoba membersihkan minuman yang tumpah mengenai pakaiannya.
" Yang, loe gak papa kan. Sini biar gue bantu bersihin " Ucap Garda sambil mengelap baju yang basah dengan tissue.
" Sa loe gak papa kan, pakaian gue juga basah " Ucap yuni sambil membersihkan bajunya. Begitupun dengan wulan yang melakukan hal sama.
Dengan santainya Adri duduk di kursi depan Garda dan Rosa, ia tidak memperdulikan ucapan serta makian dari semua orang yang ada di kantin itu.
" Loe Apa-apa an sih Dri, lagian ngapain sih loe ngikutin gue. Tadi kan gue udah nyebut kalo gue males bareng loe " Ucap Garda marah pada Adri yang mengikutinya dan yang lebih membuatnya marah itu karena adri mengangkat meja hingga minuman yang ada di atas meja tumpah ke baju kekasihnya.
" Ya karena gue mau makan, dan barusan gue liat banyak sampah di atas meja. Jadi gue bantu buat bersihin dengan cepat " Jawab Adri santai.
" Loe ini sebenarnya mau apa sih hah, loe gak puas apa ganggu hidup gue mulu. Gara-gara loe ada, hidup gue jadi selalu sial " Maki Garda dengan penuh emosi.
" Gue mau loe pisah sama cewek sialan itu " Jawab Adri datar.
Brakkk.. Meja makan tersebut di pukul oleh Yuni dengan sangat keras. Ia merasa tidak Terima dengan apa yang dikatakan oleh Adri kepada temannya tersebut.
" Heh anak gembel tak tahu diri, jaga ya ucapan loe. Disini yang cewek sialan itu elo bukannya Rosa, dan satu hal lagi manusia sampah kaya loe itu gak pantas sekolah disini " Ucap yuni sambil bersidekap tangan.
" Heh ****** sialan, loe gak usah sok hebat deh. Loe sekolah disini juga paling cuman beasiswa atau loe ngangkang dulu tempat klub malam sama Om-om " Ucap Rosa sambil menyungingkan senyumannya.
" Lalu??" Tanya Adri singkat dengan wajah datarnya.
Galuh yang mendengar Adri tidak marah dan malah santai, ia semakin kesal. Bukan tak mau ia ikut membantu Adri, hanya saja dirinya masih kesal dengan apa yang ia dengar di lapangan bersama Samudra. Galuh pun akhirnya memilih pergi dari sana dan gak ikut campur lagi urusan Adri. Leksana yang melihat kawan nya pergi bingung, ia harus menolong Adri atau ikut menyusul Galuh. Tapi Leksana memilih mengikuti Galuh dan berbicara pada Sigit untuk membantu Adri. Ia juga mengatakan akan menyusul Galuh yang sudah hilang dari kantin itu.
" Cukup, sebaik nya loe pergi dari sini Adri. Gue udah muak berurusan sama loe lagi, mulai sekarang loe gak usah deket gue lagi dan ikut campur urusan gue " Ucap Garda sambil menunjuk Adri dengan wajah memerah karena menahan emosi.
" Heh Rosa Amelia saputra apa loe masih mau Pura-pura gak tau dan menutup rahasia yang itu " Ucap Adri sambil tersenyum. Ia kemudian bangkit dan berdiri menatap benci kearah Rosa.
" Apa hah, gue bukan cewek yang rendah kaya loe. Dan gue ingatkan jangan pernah ganggu pacar gue lagi, karena dia bukan anjing loe. Dengar itu " Ucap Rosa sambil memegang kerah Adri.
" Singkirkan lengan kotor loe itu " Ucap Adri sambil membanting lengan Rosa yang memegang kerah bajunya.
Rosa yang kaget dengan perlakuan adri, hampir kehilangan keseimbangannya dan sedikit terjengkang kebelakang. Namun dengan sigap Garda menahan tubuh Rosa dari belakangnya. Ia semakin emosi dengan apa yang di lakukan oleh Adri pada sang kekasih nya. Garda kemudian melangkah maju dan menyembunyikan Rosa di belakang tubuhnya.
Sedangkan Sigit yang kebingungan karena Galuh dan Leksana yang malah pergi meninggalkan mereka. Sigit sangat bingung dan tidak mengetahui akar permasalahan antara Adri dan juga Garda. Karena selama ini memang Garda tidak banyak bercerita tentang pertemanannya dengan Adri. Ia pun merasa aneh kenapa Adri tiba-tiba minta Garda buat putus sama pacarnya itu.
" Loe kenapa sih hah, belum puas apa loe bikin hidup gue sengsara. Dan sekarang loe malah ngehina dan nyakitin pacar gue. Rosa memang benar, gue bukan anjing loe Adri yang bisa kapan aja loe suruh. Dan satu lagi gue mau loe menjauh dari kehidupan gue sekarang dan gak usah sok baik " Ucap Garda dengan penuh emosi. Ia juga mendorong bahu Adri dengan kuat hingga ia terjatuh kebelakang.
" Dri loe gak papa kan, ayok gue bantu loe bangun " Ucap Sigit sambil ngebantu Adri bangun.
" Biar dulu Git, gue mau seperti ini dulu " Jawab Adri.
" Dri loe gak liat apa loe lagi diliatin dan di omongin sama semua orang " Ucap Sigit kesal.
" Heh Da, gue dari tadi diam karena gue gak mau ikut campur sama urusan kalian. Gue gak tau apa yang menjadi masalah kalian berdua, tapi gue sebagai cowok gak akan berlaku kasar sama cewek. Apalagi Adri temen loe Da, kalian udah berteman dari kecil dan loe malah memilih pacar loe yang baru loe kenal " Sigit meluapkan emosinya karena sudah gak tahan lagi.
" Heh Git, loe gak tahu Apa-apa tentang gue sama si Adri. Jadi lebih baik loe diam dan gak usah ikut campur urusan gue " Jawab Garda.
" Dan satu lagi, kalian gak usah panggil gue teman kalian lagi. Karena mulai sekarang gue gak ada urusan sama kalian " Ucao Garda sambil melangkah pergi dengan men gandeng tangan Rosa dan diikuti oleh kedua teman nya Rosa.
Sementara suasana kantin semakin heboh dengan cacian serta makian untuk Adri. Bahkan ada yang Terang-terangan bersukur karena Adri sudah di beri pelajaran, namun ada juga beberapa siswa yang kasihan dengan Adri.
Setelah kepergian Garda dan kekasihnya, Adri segera bangkit dan berjalan untuk pergi dari sana. Entah kenapa hatinya semakin kosong dan lebih dingin dari biasanya. Apalagi sekarang Garda benar-benar memutuskan pertemanan antara mereka.
Sigit pun mengikuti kemanapun Adri pergi, ia tidak peduli dengan makian dan cemoohan orang lain. Yang saat ini dirinya pedulikan adalah sosok penolong sekaligus teman pertama yang sedang hancur. Ia sudah berjanji akan terus berjalan di belakang Adri dan selalu ada untuknya.