BAD???

BAD???
-



" Aku menyarankan agar adik mu itu berhenti meminum alkohol dan merokok, kau tau dia baru saja sadar dari koma panjang nya dan malah mengonsumsi hal seperti itu. Bukankah kau seorang dokter, kau seharusnya tau jika hal itu sangat tidak baik bagi tubuhnya. Dan satu lagi, gue perlu meng CT-scan ulang organ dalam nya dan memastikan luka tembak nya tidak terbuka kembali. Jika sampai itu terjadi, maka kita harus segera menangani nya lebih lanjut, karena ini sangat beresiko dan luka itu dekat sekali dengan organ jantung " Ucap Hanzo kepada Max.


Mendengar perkataan Hanzo, Max seketika bungkam dan tertegun. Ia merasa bersalah karena tak menghentikan Adri dan malah membiarkannya melakukan hal itu, padahal dirinya tau jika Adri sedang sakit. Tanpa mereka sadari, Galih ternyata mendengar percakapan itu. Ia merasa sedih dan bersalah terhadap Adri dan membuatnya terluka seperti itu.


πŸƒ...πŸƒ...πŸƒ...πŸƒ...


Malam pun tiba, di ruangan tempat Adri dirawat kemarin. Ia kembali di tempatkan disana, Max,Galih, Arjanta, dan Abimanyu menjaga nya. Sedangkan Katrina, Alfred dan teman Adri pulang kerumah untuk beristirahat dan kembali esok pagi.


Disaat semua orang sedang tidur karena kelelahan, Adri sudah tersadar dari pingsannya. Ia menatap seorang pemuda yang tidur sambil duduk di sisi brangkar tempatnya berbaring, Adri mengangkat tangannya yang sudah di perban dan terpadang jarum infus dan mencoba mengelus rambut milik pemuda itu. Dia tak lain adalah Galih, ia sengaja tidur disana untuk menjaga Adri agar tidak pergi lagi saat terbangun. Adri mengusap pelan rambut yang sedikit panjang milik Galih, Seketika bulir bening jatuh dari sudut mata Adri.


Karena merasa terganggu dengan apa yang dilakukan oleh Adri, Galih bergerak dan memutar wajahnya menghadap Adri. Begitupun Adri yang langsung mengangkat tangannya karena Galih terganggu dengan apa yang sudah ia lakukan. Lantas Adri membangunkan suster yang menjaga nya di sisi lain, kemudian Adri mengkode untuk tidak berisik kepada sang suster.


Adri menyuruh suster itu mengambil kursi roda dan membantunya untuk keluar mencari udara segar dan mencari tempat tenang. Saat suster itu pergi keluar kamar, Adri menatap Max, Arjanta dan Abimanyu dengan tatapan sendu. Ia begitu merindukan sang kakak dan juga ayahnya, Adri kembali menitikan airmatanya. Namun hal itu tak berselang lama karena suster itu sudah masuk dengan kursi roda yang ia bawa. Lantas Adri menyeka air matanya dan segera bangkit dengan di bantu suster sambil berpindah kekursi roda.


" Mbak, bawa aku ke taman bawah ya. Aku sangat merindukan bulan dan bintang di malam hari " Ucap Adri dengan sopan pada suster itu.


" Baik Nona, anda sangat cantik dan baik sekali. Anda juga orang yang sangat kuat " Puji sang suster kepada Adri.


Mereka lalu pergi dari sana tanpa sepengetahuan siapapun karena itu permintaan dari Adri. Di sepanjang perjalanan mereka mengobrol dengan begitu hangat, layaknya seorang teman yang sudah kenal begitu lama.


" Nona Adri sangat beruntung sekali, karena pacar nona selalu saja menemani nona selama ini. Bahkan dokter Max sangat khawatir dengan kondisi nona yang tak kunjung sadar " Cerita suster itu.


" Maksud mbak apa ya, emangnya aku kenapa? " Tanya Adri penasaran.


" Nona, sebenarnya hari ini nona akan di bawa ke Amerika untuk menjalani pengobatan disana. Karena nona sudah setahun lebih mengalami koma setelah kejadian malam itu " Jawab suster itu dengan jujur.


Adri nampak begitu syok mendengar perkataan suster itu, ia sempat melamun dan kembali di sadarkan oleh sang suster karena sudah sampai di taman.


" Nona, kita sudah sampai. Apa ada yang ingin ditanyakan lagi Nona " Ucap suster itu dengan ramah.


" Ah.. Terimakasih mbak, tapi jika tidak keberatan, mbak bisa ceritain keadaan aku saat dulu aku dibawa kesini " Jawab Adri dengan gugup.


" Baiklah Nona, dulu dokter Max tiba-tiba saja menghubungi pihak rumah sakit untuk bersiap karena ia membawa pasien terluka parah. Aku kira pasien itu hanya sakit biasa, tapi setelah melihat kondisi Nona yang sangat mengenaskan. Membuat kami sangat kaget dengan apa yang kami lihat, dokter Max terlihat sangat kacau malam itu. Bahkan ia sempat memarahi para staf dan dokter yang membujuknya untuk membersihkan badan, karena saat membawa Nona dokter Max tertekan darah Nona dan juga lumpur. Aku sangat takjub dengan Nona yang sudah berjuang dan berhasil selamat, bahkan dokter Hanzo pun sempat akan menyerah saat melihat luka di tubuh Nona. Tapi sekali lagi Nona menunjukan bahwa Nona mampu bertahan dan berjuang di batas jurang kematian. Aku juga sempat mendengar kalo kakak Nona dan pacar Nona itu baru kembali dari Amerika, mereka selalu ada untuk Nona dan juga teman dan orang-orang yang mengaku sebagai orang tua Nona. Mereka begitu sayang kepada Nona, dan sangat peduli sekali. Aku juga melihat tuan dan nyonya bhagawanta sering menangis ketika semua orang tertidur, dan mereka selalu meminta maaf kepada Nona. Mereka seperti menyesali sesuatu dan selalu mendoakan Nona agar cepat sembuh dan sadar. " Cerita suster itu kepada Adri.


Adri seperti tertegun mendengar cerita dari suster penjaga nya itu, ia tidak menyangka jika dirinya di kelilingi oleh orang yang sangat menyayangi dirinya.


" Mbak, bisakan tinggalkan aku sendiri. Aku ingin menyendiri dan menenangkan pikiranku, jangan khawatir aku akan baik-baik saja. Jemput aku satu jam setelah ini " Ucap Adri kepada suster itu.


" Tapi Nona, bagaimana jika tuan dan dokter Max marah.. " Sela suster itu.


" Biar aku yang menjelaskan kepada mereka nanti " Ucap Adri.


Suster itu kemudian pergi meninggalkan Adri sendiri, walau berat untuk pergi dari sana. Tapi Adri tetap memaksanya dan juga perkataan Adri yang sopan membuatnya sangat sulit untuk menolak perkataan Adri.


Setelah suster itu pergi, Adri kembali menangis menumpahkan semua rasa yang memenuhi hati dan pikirannya. Ia tak mampu menahan gejolak yang selama ini ia bungkam dan simpan rapat di hatinya.


" Kenapa Tuhan, kenapa kau mempermainkan diriku dengan kenyataan seperti ini " Gumam Adri sambil menangis.


Tanpa Adri sadari, dari belakang ada yang menyelimuti Adri di bagian tubuh bagian depannya. Adri seketika mendongkakan wajahnya dan melihat siapa yang menaruh selimut di atas paha nya itu.


" Kenapa keluar, kau baru saja sadar dan masih lemah. Udara malam tidak baik untuk tubuh yang masih rentan seperti dirimu " Ucap Galih yang berdiri di hadapan Adri.


Adri kembali menangis sambil menatap Galih yang juga menatap kearahnya, tatapan yang penuh dengan kerinduan yang begitu besar dan selalu ia pendam. Kini tumpah dan tak dapat lagi di tahan karena sudah terlalu banyak rasa yang ia pendam sendiri.