BAD???

BAD???
Terluka lagi...



Blamm... Adri menutup pintu ruang pribadinya dengan begitu keras, hingga membuat semua orang terkejut. Max juga terus mengikuti Adri dan membujuknya untuk kembali pergi kerumah sakit, agar memeriksa kembali luka di tubuhnya. Namun Max seperti di anggap bayangan dan tak Adri hiraukan, bahkan Max sudah mengetuk-ngetuk pintu agar Adri membukanya. Max sangat khawatir dengan kondisi Adri yang hilang kendali seperti barusan.


Sedangkan Alfred hanya bisa pasrah dan terdiam melihat Adri yang menatap penuh kebencian terhadap dirinya. Ia sadar jika dirinya begitu salah, dan malah menyembunyikan hal besar seperti itu.


" Maafkan kakek nak" Gumam Alfred dengan sedih.


" Sudahlah, aku rasa Oni masih terkejut dan dia masih belum mempercayai kenyataan ini. Terlebih dia baru saja bangun dari koma nya " Ucap Arja yang berdiri dekat Alfred.


" Apa putriku tidak akan memaafkan kami lagi " Ucap Katrina sambil menangis karena tak kuasa melihat Adri yang seperti tadi.


" Dia orang baik tante, mana bisa Adri membenci orang lain, apalagi itu orang tuanya sendiri. Om sama tante bersabar aja, mungkin Adri masih butuh waktu untuk menerima kehadiran kalian yang mendadak seperti ini " Ucap Alif sambil tersenyum.


" Anak-anak benar Mah, mungkin putri kita perlu waktu untuk menerima kita " Ucap Abimanyu kepada Katrina.


Sedangkan di kamar atas, Adri terlihat termenung dan menangis. Ia membanting semua botol minuman yang ada disana, hingga ruangan itu kembali hancur berantakan seperti dulu saat Adri mendapat pesan vidio dari Saputra. Bahkan bisa dikatakan kondisi kamar sekarang lebih parah dibandingkan dengan kondisi saat itu. Adri menangis sambil duduk meringkuk di balkon kamarnya, ia menangis dan menumpahkan semua rasa kesedihan dan juga kekesalan serta amarah yang selama ini ia rasakan.


" Kenapa mereka selalu mempermainkan diriku, tak puaskah melihat ku hancur dan kini mereka sudah membuat hatiku semakin hancur " Ucap Adri di sela-sela tangisannya.


Max yang dari tadi terus merayu Adri dengan mengetuk pintu dan membujuknya agar keluar tak membuahkan hasil. Ia pun berinisiatif untuk mencoba membuka pintunya, karena ia sudah kesal dan sangat khawatir dengan Adri yang sedang terluka.


Clekk... Pintu itu terbuka dan Adri tidak mengunci nya, Max terlihat begitu tenang setelah mendapati pintu yang tak di kunci. Namun ia di buat semakin khawatir karena ruangan itu di penuhi aroma alkohol, lantas max langsung menyalakan lampu ruangan itu. Dan betapa terkejutnya melihat ruangan itu sudah di penuhi oleh air dan pecahan beling dari botol minuman. Disana juga ada bercak darah yang mengarah kearah balkon, lalu max mengikuti nya hingga menemukan Adri yang sedang duduk meringkuk di atas lantai yang sudah di penuhi darah.


Max mencoba berbicara kepada Adri, namun Adri tak berbicara sedikitpun. Max lantas menggoyangkan tubuh Adri, namun Adri malah jatuh dan Max dengan sigap menahan tubuh Adri yang sudah tak sadarkan diri itu. Max memeriksa di telapak tangannya terdapat luka, dan juga kaki Adri yang tertusuk pecahan beling.


Max langsung mengangkat tubuh Adri dan membawa nya keluar dari kamar itu dan segera pergi menuju rumah sakit. Sementara orang yang di bawah begitu terkejut melihat Adri yang sudah terkulai di pangkuan Max dengan darah yang menetes dari kaki dan juga tangannya. Katrina melihat hal itu begitu histeris dan menangis dengan kencang karena tak kuasa melihat kondisi Adri.


Max segera memasukan Adri kedalam mobil dan menyuruh Abimanyu untuk mengemudikan mobilnya dengan cepat menuju rumah sakit. Sedangkan Adri masih dalam pangkuan Max dan terlihat sangat pucat pasi dengan tubuhnya yang mulai mendingin. Sedangkan yang lainnya menyusul di belakang mobil mereka.


Sesampai di rumah sakit, Hanzo sudah siap dengan brangkar dan segera membawa Adri menuju ruang UGD untuk di periksa lebih lanjut lagi. Begitupun dengan Max yang ikut masuk untuk memeriksa kondisi Adri sekarang. Sedangkan yang lainnya menunggu dengan perasaan cemas karena kejadian tadi.


Didalam ruang pemeriksaan, Max terlihat sedang mencabuti pecahan beling yang masih menancap di telapak kaki Adri. Ia terlihat sangat gemetar dan seperti kehilangan pokus saat menangani Adri. Hanzo yang melihat hal itu sangat geram dan gemas sendiri, karena melihat Max yang sangat lemah jika berhadapan dengan Adri.


" Jika kau tak mampu, sebaiknya kau menunggu di luar saja Senior. Kau hanya akan memperlambat kerja kami jika kau seperti itu, biar aku saja yang menangani adik nakal mu ini " Ucap Hanzo sambil menghentikan kegiatan Max.


" It's oke, ini adalah kerjaan ku " Jawab Hanzo santai.


Max lantas menyimpan alat penjepit itu dan segera pergi keluar ruangan. Disana keluarga dan temannya sudah menunggu jawaban dari Max, dan ia hanya bisa pasrah dan menunggu hasil pemeriksaan dari Hanzo.


" Bagaimana keadaan Adri saat ini, apa dia baik-baik saja " Tanya Abimanyu kepada Max, dan hanya dibalas gelengan kepala dari nya.


" Apa yang sudah terjadi dengannya, kenapa dia bisa terluka kembali " Tanya Alfred dengan heran.


" Dia sedang tertekan saat ini, dan tadi saat dirumah ia kembali menghancurkan Bar mini di kamar atas hingga ruangan itu hancur. Tangan dan kaki nya terluka sama pecahan botol minuman yang ia pecahkan. Aku sudah mengira jika hal ini akan terjadi, tapi aku sedikit lega karena ia tidak menghancurkan Bar di kota dan membuat Jess pusing dengan tingkah Adri " Jawab Max dengan sendu.


Mereka tertegun mendengar perkataan dari Max, mereka tidak menyangka jika Adri ternyata menyimpan beban perasaan yang begitu besar hingga membuat dirinya terluka seperti itu. Tak lama kemudian, Hanzo keluar dari ruangan itu. Ia tersenyum kearah Alfred, Katrina dan Abimanyu.


" Bagaimana keadaan nya sekarang Hanz? " Tanya Max dengan khawatir.


" Dia baik-baik saja, hanya luka tebasan di punggung nya kembali terbuka, dan aku sudah menjahitnya lagi dan menganti perbannya dengan yang baru. Aku juga sudah membersihkan serpihan kaca dan mengobati luka di tangan dan kaki nya " Jawab Hanzo dengan sangat baik.


" Terimakasih nak, kau sudah merawat cucu ku dengan baik " Ucap Alfred kepada Hanzo.


" Itu tugas ku tuan Alfred, anda terlalu berlebihan dalam memuji ku " Jawab Hanzo.


" Kalo gitu aku akan memindahkan nona besar ke ruangan yang lain. Dan dokter Max, aku perlu berbicara kepadamu berdua " Ucap Hanzo.


Max kemudian mengajak pergi Hanzo dan menanyakan apa yang perlu di bicarakan kepadanya. Karena Max sangat khawatir jika Hanzo membahas tentang Adri yang kenapa-napa.


" Jadi apa yang perlu kau bicarakan kepada ku? " Tanya Max dengan penasaran.


_________________________________________________


Jangan lupa untuk membuat vote dan dukung terus cerita aku ya πŸ˜„πŸ‘