
π§β¦ π§β¦ π§... π§β¦ π§β¦ π§...
Sementara di lain tempat jauh dari posisi Adri saat ini, tepatnya di rumah Adri yang terlihat gerbang rumah di biarkan tidak terkunci. Security komplek yang sedang berkeliling melihat hal itu merasa curiga, ia pun mengetuk pintu dan membunyikan bel rumah Adri untuk memastikan dugaan nya itu.
Karena suara berisik yang dihasilkan oleh bel, membuat Max yang sedang tidur terlelap sampai kaget dan sempat mengumpat karena menganggu tidur nyenyak nya. Tanpa menoleh ke arah tempat tidur dan ia masih dalam keadaan ngantuk dan belum sadar sepenuhnya, Max berjalan dan menghampiri pintu utama dan melihat orang yang sudah mengganggu tidurnya.
" Selamat malam Pak, maaf sudah menganggu istirahat Bapak, saya petugas penjaga sip malam. Apa bapak ada yang janggal atau kehilangan sesuatu, soalnya saya dapati gerbang rumah bapak terbuka lebar barusan " Ucap security itu pada Max.
" Tidak ada yang hilang pak, mungkin aku tadi lupa untuk menutup gerbang nya. Makasih ya pak sudah mengingatkan saya, lain kali saya akan berhati-hati " Kata Max dengan mata yang masih merem karena mengantuk.
Kemudian security itu lekas pamit dan pergi dari sana sambil menutup gerbang rumah Adri, begitu pun dengan Max yang kembali masuk kedalam rumah dan menguncinya kembali. Saat Max berjalan menuju kamar tamu lagi, ia sempat menengok jam yang ada di dinding rumah itu.
" Hah baru jam 10 pagi, sebaiknya aku tidur lagi. Lagian diluar masih hujan deras " Gumam Max sambil berjalan untuk merebahkan tubuhnya di sofa tadi.
Saat Max sampai di sofa, ia kembali menelungkup tubuhnya dan mencari posisi yang nyaman serta menghangatkan tubuhnya. Namun seberapa sering ia berganti posisi tidurnya, ia tidak menemukan titik ternyaman untuk melanjutkan tidur nya itu. Karena kesal ia kemudian bangun, dan melangkah kaki nya menuju toilet. Ia mencuci muka dengan air yang begitu dingin dan lekas mengeringkan nya dengan handuk kecil. Setelah selesai, Max kembali ke kamar tamu, namun kali ini dirinya tidak tidur melainkan duduk di sofa tempat ia tidur tadi.
Max yang sudah mencuci muka dan kesadarannya sudah penuh, dirinya terkejut melihat selang infus yang menggantung dan sosok yang sedang ia jaga sudah menghilang. Seketika Max terkejut dan langsung mencari keberadaan Adri, ia terlebih dulu memeriksa toilet yang baru saja ia masuki. Namun mereka tak bisa menemukan sosok Adri, ia mencari Adri ke dapur sambil terus merutuki kelalaian nya hingga Adri berhasil kabur.
Sesampainya di dapur, Max bernafas dengan lega melihat bubur yang ia masak sudah habis tak bersisa. Max akhirnya mencari Adri kekamarnya yang ada dilantai atas, namun sesampai disana, max tidak lagi menemukan Adri. Hingga ia memutuskan untuk masuk kedalam ruangan pribadi Andri, sebenarnya ia ragu untuk masuk karena ia tahu ruangan itu pasti dikunci.
Saat Max akan membuka pintu itu, betapa terkejutnya melihat kamar itu didapati tidak terkunci. Max akhirnya memutuskan untuk masuk dan mencari tombol saklar, namun tiba-tiba kaki nya menendang benda karena Max menyeret kaki nya bukan melangkahkan, karena ia takut menendang atau menginjak sesuatu di sana. Setelah berhasil menemukan tombol saklar dan menyalakannya, betapa terkejutnya ia melihat ruangan itu yang sudah berantakan. Pecahan kaca dari botol minuman dan meja kaca yang menyebar memenuhi lantai ruangan itu, begitupun dengan bau alkohol yang mengisi ruangan itu.
" Apa yang sudah terjadi, apa ini ulah si Adri " Kata Max sambil meringis melihat lantai di ruangan itu.
Dan ternyata udara dingin yang terasa disana itu bukan dari AC melainkan karena pintu menuju balkon terbuka hingga udara dingin malam masuk kedalam. Max mengambil benda yang sempat ia tendang tadi, ternyata itu ponsel yang Adri banting hingga layar HP nya retak. Ruangan itu masih memiliki aroma buble gumm yang begitu harum menyeruak masuk kedalam indra penciuman Max yang bercampur dengan aroma alkohol dari minuman. Max kemudian menyalakan ponselnya, dan ternyata masih bisa menyala walau di bagian sudut ponsel sudah menghitam. Setelah membuka kunci layar ponsel Adri, Max merasa heran melihat Vidio yang pertama kali muncul.
Karena Max penasaran, ia mengirimkan vidio itu ke ponselnya untuk menontonnya karena melihat kondisi ponsel Adri membuatnya was-was jika langsung mati. Setelah berhasil dikirimkan, ia melihat isi ponsel itu dan mendapati banyak chat dari temannya dan juga nomor asing yang mengirimkan vidio itu. Akhirnya Max memutuskan untuk menutup pintu kaca agar ruangan tidak banjir oleh air hujan dan ia duduk disofa untuk melihat isi vidio itu.
Saat melihat isi dari vidio itu, betapa terkejutnya melihat dua pemuda yang tak lain Galuh dan Samudra yang sedang di sekap, namun saat vidio itu setengah jalan. Tiba-tiba ponsel Adri mati secara mendadak, Max yang mengerti situasi kacau ini langsung saja keluar untuk mengambil ponselnya yang ada di kamar tamu. Saat menuruni tangga, ia sempat melirik kearah nakas tempat Adri biasanya menaruh Katana kesayangannya. Dan Max di buat semakin gelisah dan ketakutan saat menyadari jika Katana milik Adri sudah tidak ada disana, ia kemudian bergegas menuju kamar tamu sambil berlari.
Max segera melakukan panggilan kepada semua orang yang tak lain mereka adalah teman Adri yang ada di grup melalu aplikasi pintar di ponselnya. Satu per satu nomor yang ia hubungi mulai tersambung dan Max menyambungkan semuanya hingga mereka bisa mengobrol dan mendengar secara bersamaan.
" Bisakah kalian membatu ku, dia menghilang dan dia juga membawa Katana kesayangannya untuk pergi. Kalian bersiaplah dan beritahu semua rekan kalian agar membantu dia " Ucap Max dengan suara yang gemetar karena merasa takut.
" Hey, santay bro. Dari sore kita mencoba menghubungi loe dan sekarang loe nelpon kita semua dan berbicara gak jelas " Ucap Malik sambil ketawa.
" Bang loe kemana aja, dari siang kita ngehubungin elo sama si Adri tapi gak ada yang nyambung. Apa dia baik-baik aja " Tanya Radit dengan penasaran.
" Kalian lagi bahas apa sih, ini udah malem lagian ini juga lagi hujan ganggu orang lagi tidur aja " Gerutu Sigit dengan kesal.
" Bang, apa Adri ada sama elo. Gue khawatir sama dia, dari tadi aku hubungin nomor nya gak bisa " Kata Garda dengan nada cemas.
" Woy kok gue gak dikasih tahu kalo Adri ada masalah " Teriak Rido marah.
" Gue lupa bang, lagian saking cemasnya sampe lupa buat hubungin yang lain juga " Kata Alif.
" Bisakah kalian diam " Teriak Max dengan keras dan sudah tersulut emosi karena karena tak ada yang mendengarkan perkataannya.
Semua orang yang tersambung dengan telpon langsung terdiam dan tak ada yang berbicara maupun keluar dari panggilan.
" Adek gue sedang sakit, gue dikasih tau sama orang yang nemuin Adri pingsan di makam nya si Jo tadi pagi. Dan kalian tahu jika itu terjadi karena masalah saat di sekolah tadi, dan sialnya sekarang dia kabur dan mencabut selang infus yang aku pakaikan. Dia juga terlihat marah besar karena ruang pribadinya sekarang sudah hancur berantakan. Dan dia pergi membawa Katana nya untuk menemui seseorang yang menyuruhnya untuk datang. Jadi tolong bantu aku untuk melindungi adik ku, jangan biarkan dia terluka lagi. Jika kalian tidak percaya aku akan mengirimkan buktinya pada kalian, dan ponsel nya si Adri rusak karena sudah ia banting. Gue harap kalian segera menolong nya sebelum terlambat " Kata Max dengan suara parau.
_________________________________________________
Part yang membuat ku malas untuk menulisnya, tapi ini juga bagian penting nya. heheheπππ
Jangan lupa like, koment, vote dannn.....dukung terus lah pokoknya... πππ