
Wanita yang ada di hadapannya itu semakin kesal dengan Adri yang tak mengerti kemauan nya, Akhirnya ia mendekati Adri dan menjewer terlinganya. Sontak Adri kaget dan berteriak kesakitan karena ulah wanita yang ada di hadapannya tersebut. Adri juga terlihat mensejajarkan tubuhnya, karena tinggi badri dan wanita parubaya itu sedikit berbeda. Adri memang memiliki tinggi badan jauh di atas Rata-rata tinggi siswi di sekolah tersebut.
" Akhhhhh... sakit nyonya, aku bahkan tidak melakukan kesalahan apapun sama anda " pekik Adri dengan keras. Ia berpura-pura kesakitan agar semua orang merasa kasihan padanya.
" Ck.. kau ini suka sekali berbohong ya, ikut aku. Biar aku ingatkan kamu tentang semua kesalahan kamu pada ku " ucapnya dengan sangat jengkel.
" Nyonya, ampuni anak saya. Dia tidak salah Apa-apa, biar saya saja menerima hukumannya " ucap Suni dengan wajah memelas.
Sontak semua orang kembali membicarakan Adri dan juga Suni, mereka kembali mencela dan mencemooh nya dengan sinis.
" Huh dasar, bukannya bantuin malah kesenangan dapet hiburan geratis " gerutu Adri dalam hatinya.
" Kamu juga ikut saya sekalian, biar aku hukum kalian berdua " ucap wanita itu sambil memasang wajah marah nya.
Akhirnya Adri mengikuti kemana wanita itu pergi, karena telinganya masih di jewer olehnya. Sedangkan Suni memasang wajah sedih dan mengekori mereka berdua. Ia terlihat sangat pasrah karena sudah terlibat dalam kekacauan yang di buat Adri.
Sedangkan tak jauh dari sana, Galuh dan ketiga kawannya hanya menatap dan memperhatikan adegan yang membuat mereka terkejut. Kecuali Garda yang merasa bosan sekaligus jengkel, melihat drama yang terjadi diantara Adri dan wanita yang tak asing lagi baginya. Dia adalah mommy dari Garda, wanita yang menjewer dan memarahi Adri adalah mommy nya sendiri.
" Eh gue kira si Adri itu anak pengusaha loh, ternyata dia dari keluarga miskin ya " ucap Leksana.
" Loe gak cerita sama gue Cok, kalo Adri emang dari keluarga miskin " tanya Galuh sambil menatap tajam kearah Garda.
" Loe gak nanya sama gue kan " jawab Garda dengan santai. Ia sudah menduga kalo mereka pasti bakal nanya seperti itu padanya.
" Emang kenapa sih, lagian Buketu kan sama kaya kita. Dia itu kawan kita, Dia juga bagian dari kita dong " ucap Sigit dengan penuh keyakinan. Ia memang tak pernah memiliki teman seperti Adri, apalagi penghianatan oleh teman semasa kecilnya membuat ia trauma dan sering di bully.
Flashback Sigit...
Di belakang sekolah, ada seorang siswa yang sedang terpojok dan di kelilingi oleh 5 siswa lainnya. ia terlihat sangat ketakutan dan hanya menundukan kepalanya, saat itu salah satu siswa itu hendak membuka resleting celana nya. Ia akan mengencingi siswa yang sudah terduduk di tanah tersebut.
Bughhh.. siswa tersebut jatuh tersungkur di samping siswa yang sedang mereka bully, mereka semua sontak kaget dan melihat sang pelakunya.
" Apa loe liatin gue, mau gue tambah lagi hah. Loe gak tau ya kalo mau ngompol tuh di WC, apa loe emang jorok orangnya. Ngompol ditempat sembarangan " ucap orang yang nendang tadi.
Dia tak lain adalah Adri, ia tak sengaja lewat sana dan melihat siswa yang sedang di bully.
" Hooo... ternyata ada superhero yang kesiangan " teriak siswa yang Adri tendang barusan.
" Hahahaha hero katanya.. Dan loe **** anjinx" Adri tertawa dengan sinis, namun langsung merubah ekspresinya menjadi datar dan mengatai mereka.
" Sialan loe, baru juga jadi murid baru disini. Sikap loe udah songong aja " ucap siswa tadi.
" Ngapain loe pada malah bengong liatin gue, hajar dia " teriak siswa yang Adri tendang.
Akhirnya terjadilah perkelahian antara Adri dan keempat siswa tersebut, mereka tak lain adalah kakak kelas 12 IPS. Mereka memang selalu membully dan memalak uang jajan adek kelas yang terlihat cupu. Dan contoh nya adalah siswa yang saat ini sedang duduk dan menatap Adri dengan tatapan kagum sekaligus berbinar seperti melihat jagoan nya sedang beraksi.
" Loe gak papa kan, tuh iler loe bersihin sampe kaya air terjun aja tu iler " ucap Adri pada siswa yang di bully.
" Akh... makasih ya My Hero Cuteyy " jawabnya sambil mengusap iler yang netes.
" Sama-sama, jadi siapa nama loe. Kenapa loe bisa berurusan sama mereka " tanya Adri sambil duduk di dekat siswa itu.
" Nama aku Sigit, mereka suka malakin duit sama aku. Tapi aku gak mau kasih ke mereka, lagian enak amat sih maen minta segala " jawab Sigit dengan wajah kesalnya.
" Oh jadi nama loe Sigit, gue panggil loe dengan sebutan Git atau Aji mulai sekarang. Dan kenalin, Nama gue Adriani " Adri mengulurkan tangannya sambil tersenyum.
Sigit segera membersihkan tangannya dengan mengusapkan ke pakaian yang ia kenakan, lalu ia membalas menjabat tangan Adri sambil tersenyum senang.
" Mulai sekarang kalo loe butuh bantuan, Loe panggil gue aja ya. Kalo loe mau loe bisa gabung sama gue sama yang lainnya, Loe dateng aja kewarung yang ada di sebrang jalan depan gerbang sekolah kita " tawar Adri.
" Apa kamu gak bakalan ngehianatin aku " tanya Sigit dengan wajah serius.
" Huh.. siapa yang loe sebut penghianat, emangnya wajah gue kaya penghianat ya " tanya Adri dengan menampilkan ekspresi bodohnya.
" Enggak aku emang tak punya teman selama ini, aku trauma karena teman masa kecilku menghianati diriku. Ternyata selama ini aku hanya dimanfaatkan olehnya karena harta kedua orang tua ku. Dan ternyata ia memang mau berteman karena aku anak orang kaya dan hal itu lah yang ia mau dari pertemanan kita. Sejak saat itu, aku selalu sendiri dan jadi bahan bully an " cerita Sigit. Ia terlihat murung dan sedih saat menceritakan hal itu.
" Loe tenang aja, gue bukan tipe orang yang suka Berpoya-poya kok. Lagian gue juga bukan orang berada, tapi gue gak pernah mandang kasta. Selama ini gue hanya mencari kebahagiaan dan kesenangan buat gue dan orang yang ada disini sekitar gue. Loe bisa anggap gue teman loe mulai sekarang, dan berhentilah menjadi orang lemah mulai saat ini. Karena berteman dengan gue itu pasti bakalan terlibat banyak masalah, contohnya kaya yang tadi " ucap Adri.
" Terima kasih Adri " jawab Sigit dengan tulus.
Back again.....
Sigit memandang Galuh, begitu pun Leksana yang memandangi nya dengan wajah sendu. Karena Leksana tau jika momy Galuh tidak terlalu menyukai orang yang berkasta rendah, dia juga akan marah jika Galuh berteman dengan orang yang suka buat masalah.
" Loe yakin mau lanjutin hubungan loe sama si boss, loe udah liat sendiri gimana si boss kita. Apa loe yakin momy loe bakal Terima si boss " tanya Leksana pada Galuh.
" Entahlah gue gak yakin dengan hal itu, secara loe tau sendiri Cok semenjak kematian abang gue, Momy jadi ngebatasi pergaulan gue. Kalau saja gue udah tau tu cewek berandalan, gue udah bales kali perbuatan yang udah dia perbuat sama abang gue " jawab Galuh dengan wajah sendu. Ia mengingat kembali wajah abang nya yang terkapar di brangkar rumah sakit.
" Maksud loe Jo, loe punya abang yang lain selain bang Pram " tanya Garda dengan penasaran.
" Hemm, Galuh emang punya kembaran, dan Abang kembaran nya meninggal Gara-gara temen cewek berandalan nya. Sayang nya juga dulu sekolah Galuh berbeda dengan abang nya, jadi dia tidak tau seperti apa cewek yang udah buat Abang nya Galuh sampe mati demi tu cewek " jawab Leksana.
" Kenapa gue jadi gak asing lagi ya sama cerita mereka " batin Garda.
_________________________________________________
**Jangan lupa vote like dan komen..
See next chapter**