
Flashback....
( Baca chapter 35 Teka-teki ).
" Dri awas di belakang loe " Galuh berteriak dengan keras pada Adri.
Pranggg...suara hantaman benda keras yang di banting dan menghantam sesuatu.
Adri pun melihat kebawah dan ia sangat terkejut melihat siswa yang hendak memukulnya tadi sudah terkapar dengan darah yang menggenang di aspal. Darah tersebut berasal dari kepala nya yang sudah di pukul oleh botol.
Adri melihat kearah Saputra yang masih memegang botol pecah dan ada darah di bagian botol yang runcing tersebut. Adri terlihat kebingungan dengan kondisinya yang masih kaget, ia melihat seringaian dan tatapan mata tajam dari Saputra.
Mereka segera pergi dari sana karena takut jika ada warga yang melaporkan hal itu kepada polisi.
" Dri loe gak Kenapa-kenapa? " tanya Galuh pada Adri.
" Gue gak papa, sebaiknya kalian pulang saja. Gue ada urusan lain, dan ya sebaiknya kalian segera balik dan obati luka di seluruh badan kalian." Adri sangat serius mengatakan hal tersebut, ia menatap keempat kawannya dan hendak pergi.
Setelah pergi jauh dari tempat teman-temannya, Adri bergegas kembali ke gang tempat mereka tawuran tadi. Sesampai disana, Adri nampak begitu terkejut melihat siswa tadi belum ada yang membawanya untuk di obati. Disana hanya ada satu temannya yang nampak sangat ketakutan.
Melihat hal itu Adri segera mendekati siswa itu dan meminta teman nya untuk melepas seragam untuk di gunakan sebagai perban agar darahnya tidak mengalir terus. Adri kemudian menelpon Max dan menyuruhnya untuk datang membawa ambulance ke tempat itu. Sementara menunggu kedatangan Max, Adri mulai menanyakan apa penyebab mereka ingin membuly Saputra dan sampai mau menghajarnya. Siswa yang di panggil Uci itu pun mulai menjelaskan kronologi awal sebelum terjadi kesalah pahaman itu, Adri yang mengerti pun langsung meminta maaf karena sudah salah. Namun Uci juga melakukan hal yang sama kepada Adri, ia meminta Maaf dan juga berterima kasih kepada Adri.
Tak lama kemudian Max datang dan ada beberapa warga yang datang melihat karena mobil ambulance yang masuk kedalam jalan gang kecil. Setelah menaikan Ruly, Adri memberitahu Max kalau kejadian ini adalah kesalahannya. Adri pun meminta Max untuk mengurus serta merawatnya dengan baik, dan Max hanya mengangguk dan mengikuti kemauan dari Adri.
Back again...
" Bukankah Uci ikut bertanding Basket, apa dia tidak memberitahumu " Tanya Ruly pada Niken.
Niken hanya bisa diam tanpa mengucapkan sepatah katapun, karena Uci sudah memperingatkan dirinya untuk tidak mendengarkan ucapan dari saputra waktu di lapangan hari itu.
Jam pun terus memutar dan siang pun berganti dengan malam, tepat di rumah sakit tempat Adri di rawat. Ruangan kelas VVIP itu kini terlihat di penuhi oleh banyak orang yang datang menjenguk, namun Adri masih belum menampakan diri akan sadar dari koma nya. Disana sudah ada keluarga Sanjaya, lalu keluarga Haryanto dan keluarga Garda yang masih setia menunggu Adri.
Mereka terlihat begitu akrab karena dan berbincang layak nya orang dekat, padahal mereka baru ketemu saat itu.
" Jeng, aku pamit pulang dulu ya. Soalnya udah malem, besok-besok lagi saya akan jenguk nak Adri. Semoga anak cantik ini cepet sembuh " Kata Lena, ibu dari Sigit.
" Oh iya jeng, Hati-hati dijalannya ya dan Terima kasih sudah mau menjenguk putri ku " Ucap Nia sambil memeluk Lena dan saling cipika-cipiki.
" Gue pamit dulu ya, sorry gak bisa nemenin malam ini. Soalnya gue mau sekolah besok, sama buat jelasin ke pak Budi soal Adri " Kata Sigit ikut pamit.
" Iya loe hati-hati ya " Kata Radit sambil beradu tos dengan Sigit.
Setelah kepergian Sigit dan keluarganya, ruangan itu agak sedikit sepi. Karena Tia yang biasanya ngoceh sekarang malah diam dan hanya berbicara seperlunya saja, sedangkan untuk teman Adri mereka tidak bisa menjenguk secara bersamaan karena kesibukan dengan urusan pribadi mereka. Disana hanya menyisakan Max, Jess, keluarga Garda dan Radit, lalu ada Alif dan Doni, Rido dan Malik.
Tepat saat mereka sedang berbincang dan makan-makan, penjaga di luar membuka pintu kamar dan memberi tahu jika ada keluarga Batara yang datang untuk menjenguk. Edi lantas mempersilahkan mereka semua untuk masuk, namun Max menolak nya dengan alasan Adri terluka seperti itu di sebabkan masalah mereka, tapi Edi kembali menasehati nya dan berhasil membuat Max lebih tenang dan terkendali.
" Assalamualaikum, selamat malam... " Sapa Candra di iringi oleh Hanna dan Galuh yang ikut masuk.
" Waalaikumsalam pak Candra.. " Sapa balik Edi sambil menjabat tangan Candra. Begitu pun dengan orang tua Radit, mereka saling menyapa dan merangkul satu sama lain.
Terlihat Galuh ikut duduk bergabung bersama dengan Max, Jess, Garda, Radit, Doni, Rido dan Malik. Mereka duduk di lantai yang sudah di alasi oleh karpet, dan para orang tua duduk di sofa. Mereka terlihat berbincang karena mereka adalah kolega bisnis dan sudah sering ketemu saat pertemuan antara perusahaan.
Galuh terus mencuri pandangan kearah Adri, tatapannya terlihat begitu sayu menyiratkan kesedihan didalam pandangannya. Max yang sedari tadi memperhatikan gerak - gerik Galuh yang terus mencuri pandang kearah Adri, ia kemudian berdehem hingga semua orang menoleh kearahnya.
" Kenapa...? " Tanya Max karena semua orang melihat kearahnya.
" Loe yang kenapa, bikin orang kaget saja " Tegur Radit pada Max, karena mereka semua terkejut gara-gara ulah nya. Termasuk dengan Galuh yang langsung memalingkan wajah nya yang terlihat seperti maling ketahuan.
" Apa dia akan baik-baik saja, kenapa dia jadi kebo dan gak mau bangun " Guman Radit sambil mengepal tangannya ketika bayangan Adri kesakitan memenuhi pikirannya.
" Dia pasti kuat, adek gue gak mungkin lemah dia hanya perlu istirahat karena sudah lelah membaski serangga pengganggu " kata Garda dengan tatapan sayu.
" Dia bukan cewek lemah, gue yang selalu bersama nya sebelum tragedi dulu terjadi. Dia selalu ada dan berdiri di jajaran paling terdepan untuk melindungi semua temannya. Aku masih ingat ketika kita terpojok sama anak SMK, Adri dan Jo adalah pasangan yang sangat cocok dan serasi. Hah.. Aku merindukan masa-masa itu " Cerita Alif sambil menghela nafas panjangnya.
" Kau benar Lif gue juga sangat merindukan kebersamaan kita, sungguh kisah yang sangat indah dan sempurna. Selalu bersama, saling melengkapi dan melindungi. Aku masih ingat saat Adri merokok di gudang dan ketahuan sama si Jo, ***** gue hampir ngompol di celana gara-gara tu anak " Tawa Doni dengan kocak.
" Hahaha... Gue inget, loe tau gak bang. Si Adri sampe naik pohon mangga yang ada deket gudang gara-gara pengen ngerokok, tapi si Jo udah kaya dukun *****. Dia pasti tau kalo si Adri lagi gabut terus ngerokok, pasti dia bakal nemuin tuh anak, mau ngerokok di atas pohon kek, mau di Semak-semak kek, mau di belakang WC, tetep aja ketemu sama si Jo " Sambung Alif sambil ketawa mengingat kejadian lucu mereka.
" Gue gak nyangka kalo mereka ternyata punya hubungan lebih dari sekedar teman, tapi gue emang niatnya buat jodohin mereka. Eh malah kedahuluan sama merekanya, tapi gue seneng karena mereka tidak menyangkut pautkan hubungan mereka dalam persahabatan kita " Kata Doni sambil tersenyum.
" Dia memang anak yang baik, tapi gue gak suka sama dia karena dia adek gue jadi gak manja lagi sama gue. Tapi gue bersyukur kalo dia baik-baik saja dan bisa tersenyum bahagia " Ucap Max.
" Andaikan Adri sadar saat ini, mungkin dia akan jadi dokter buat kita. Kau tahu betapa sadisnya tuh anak kalo ngobatin luka, kalian lihat ini, dia menjahit luka tebas saat tawuran dulu dengan sangat rapih. Tapi dia gak bilang kalo mau di suntik dan asal jahit aja, gue bahkan sampe gak mau ketemu sama si Adri selama seminggu akibat trauma " Cerita Rido sambil memperlihatkan bekas luka dan bergidik ngeri membayangkan kejadian itu.
" Bagi gue dia adalah penyelamat nyawa gue, kalo malam itu Adri gak dateng mungkin gue udah gak ada disini. Dan berkat bang Max, gue bisa sehat dan gabung sama keluarga kalian " Ucap Radit sambil tersenyum bangga.
_________________________________________________
jangan lupa untuk dukung terus cerita aku.. ๐