BAD???

BAD???
MR. CONAN



Akhirnya Adri pergi turun kebawah sambil berjalan beriringan seperti sepasang kekasih. Adri bahkan gak sadar kalo disana ada Samudra dan teman-temannya yang sedari tadi memperhatikan kedekatan mereka berdua.


" Gue duluan ya, misi jadi detektif Conan sepertinya harus dimulai dari sini " Kata Samudra sambil bangkit berdiri.


" Siapkan mental sama pikiran loe Dra, siapa tau loe punya penyakit lemah mental " Kata Tirta bercanda.


" Sukses ya bro " Teriak pelan Reza dan Wirya bersamaan.


" Oke thanks my brother's, dan untuk loe Tir, asal jangan si junior aja yang lemah " Jawab Samudra sambil terkekeh pelan sambil pamit pergi menyusul Adri. Ia berjalan agak pelan karena kakinya sedikit bengkak akibat cedera saat pertandingan pagi tadi, beruntung Adri memberikan pertolongan pertamanya hingga ia masih bisa berjalan sendiri walau sedikit kesakitan.


Ketiga teman Samudra nampak terkejut mendengar perkataan nya barusan, bahkan melihat semangat dan antusias nya Samudra membuat mereka semua menggelengkan kepala mereka karena tak percaya.


" Sepertinya kawan kita sudah banyak berubah semenjak kedatangan si Adri di sekolah, entah mengapa gue sangat senang dengan perubahan itu. Bahkan gue juga ikut terbawa suasana hingga kebiasaan buruk suka merendahkan orang sepertinya mulai menghilang, benar gak sih? " Ucap reza bertanya pada kedua temannya itu.


" Ya seperti itu lah kenyatannya sekarang, gue akui kalo kita semua ikut terpapar dampak dari perubahan kawan kita itu. Bagi gue sih, itu adalah hal yang patut kita syukuri, karena kita emang gak bakalan hidup seperti ini terus. Sebentar lagi kita akan lulus dan kuliah di jurusan masing-masing, untuk itu lah kita harus belajar menghargai orang dan bersahabat dengan yang lainnya " Kata Wirya dengan wajah sendu nya.


" Kita masih bisa ketemu dan kumpul bareng bro, mungkin kita juga masih bisa satu universitas walau jurusan kita terpisan nanti. Yang pasti kita masih tetap akan berkawan baik selagi Tuhan belum memisahkan dengan mencabut nyawa kita " Ucap Tirta menyemangati kedua temannya.


Mereka bertiga larut dalam percakapan yang terkesan seperti sebuah perpisahan dan pertemuan akhir mereka, padahal waktu perpisahan pun masih beberapa bulan lagi, tapi mereka sudah merasakan kehilangan satu sama lainnya sebelum hari itu tiba.


Sementara di lantai bawah, Adri dan Radit sedang berada di meja kasir. Mereka terlihat sedang berdebat tentang sesuatu, sedangkan sang kasir dari tadi hanya bisa diam dan sesekali tersenyum canggung melihat dua sejoli itu berdebat. Sang kasir yang tak lain adalah seorang wanita, nampak sangat kagum dengan wajah cantik Adri begitu pun dengan perawakannya bulenya, namun lebam biru di sudut bibir nya menjadi nilai minus untuk kecantikannya itu.


" Loe ini dasar ya, tau gini loe gak usah ngajakin gue makan disini kali bang. Gue kira loe bakal traktirin gue " Ucap Adri dengan kesal sambil bersedekap dada.


" Ya maafin gue dek, tadinya gue emang mau traktir loe makan. Tapi kan dompet gue ketinggalan di mobil yang di bawa sama si Sandy, mana di saku celana gue cuman ada duit ceban aja. Gimana dong dek, masa ia gue harus ngutang dulu sih " Ucap Radit mengacak rambut nya dengan prustasi, terlebih saat melihat jumlah tagihan yang di kasih kasir tersebut membuatnya mendengus kesal.


" Gimana kalo Mas nya nelpon temen atau sodara aja, kasihan pacar mas nya di jadiin tontonan sama yang lain " Kata si mbak kasir memberikan saran.


Benar saja, sedari tadi Adri dan Radit sudah menjadi tontonan pengunjung disana dan menjadi bahan perbincangan mereka. Tak jauh dari sana, Samudra juga mendengarkan perdebatan mereka berdua hingga ia bersorak kemenangan saat melihat adegan itu.


Karena Adri sudah jengah dan kesal, ia kemudian mengambil kartu milik nya yang ia simpan di casing HP nya. Lalu ia memberikannya kepada sang kasir, bahkan si mbak kasir menatap tak percaya melihat kartu Nolimit milik Adri yang hanya di miliki oleh orang kaya atau sejenis pengusaha terkenal gitu. Begitu pun dengan beberapa pengunjung yang dengan sengaja memperhatikan Adri dan ingin melihat apa yang akan dilakukannya sangat tercenangang melihat kartu Nolimit itu.


Samudra juga begitu terkejut saat melihat Adri mengeluarkan kartu Nolimit itu, ia tidak habis pikir dan begitu terkejut bahkan saat ini dirinya semakin penasaran dengan sosok Adri.


" Siapa sebenarnya Adri, bagaimana dirinya mempunyai kartu tak terbatas itu. Bahkan di keluarga sekelas pengusaha kaya papi gue aja cuman punya satu kartu, dan itu pun papi yang selalu pegang. Siapa sebenarnya loe ini Dri, kenapa loe menyembunyikan identitas loe selama ini dan membuat loe di hina hingga di cemooh semua orang termasuk gue dan keluarga gue " Batin Samudra sambil termenung.


Balik lagi sama Adri dan Radit dan mbak kasir, terlihat mbak kasir begitu kagum dengan sosok Adri saat ini. Terlebih ia sadar jika Adri bukan orang sembarangan dan begitu menawan.


" Permisi dek, mau pakai pin atau tanda tangan ya " Tanya mbak kasir.


" Tanda tangan aja mbak " Jawab Adri datar. Ia masih merasa kesal dengan Radit yang menjanjikan traktiran dan malah berakhir dirinya yang harus membayar tagihan itu.


" Sudah selesai dek, terimaksih sudah berkunjung. Kami dengan senang hati menunggu kunjungan adek sama pacarnya lagi " Ucap mbak kasir sambil tersenyum ramah.


" Iya mbak, Sama-sama. Lain kali kami akan berkunjung lagi kesini, tempat sama makanan nya sangat memuaskan " Jawab Adri sambil tersenyum tipis.


Lalu Adri dan Radit pun lekas pergi dari sana sambil beriringan, Radit bahkan masih bungkam dengan keterkejutannya saat melihat kartu Nolimit milik Adri. Namun hal yang membuatnya tak lagi bicara adalah rasa malu sebagai pria yang melanggar janjinya untuk mentraktir Adri, dan ia merutuki dirinya karena ceroboh meninggalkan dompet nya di dalam mobil.


Sesampai di dalam mobil, Adri kembali duduk di kursi penumpang dan Radit yang akan menyetir. Radit terlihat masih bungkam, padahal Adri tidak mempersalahkan bahkan berdebat masalah tadi. Melihat wajah murung Radit, Adri hanya bisa menghela nafas nya dengan kesal. Lalu ia membuka percakapan dengan Radit dan menghilangkan semua kecanggungan yang terjadi.


" Loe masih kepikiran yang tadi bang, udah lah gak usah di pikirkan. Lagian gue gak papa kok, hanya besok lagi jangan ceroboh seperti tadi. Beruntung loe makan bareng gue, gimana kalo loe makan sama gebetan elo bang " Kata Adri menasehati Radit, ia tidak habis pikir jika Radit melakukan hal tadi bersama dengan salah satu pacarnya itu. Adri hanya bisa bergidik ngeri membayangkan cacian sama makian yang akan di dapat Radit di depan umum.


_________________________________________________


Jangan lupa untuk tinggalkan vote, like dan komen ya..


See next chapter Say... πŸ˜πŸ˜πŸ‘‹πŸ‘‹πŸ‘‹