
Orang tersebut tak lain adalah Max dan Galih, mereka berhasil melacak Adri melalui ponsel Galih yang di bawa oleh Adri. Max hanya bisa pasrah melihat tingkah kelakuan Adri dan memijat pelipisnya karena pusing dengan apa yang ia hadapi. Sedangkan Galih terlihat kesal menatap Adri yang dengan santai malah asik santai makan dan minum alkohol serta rokok nya.
" Nih anak emang kebangetan banget ya, gue ampe emosi dan hampir aja hilang kendali gara-gara nih anak ngilang. Taunya dia malah santuy kaya gini, ya Tuhan andai aja dia bukan adek kesayangan gue. Gue serahin balik deh, kalo perlu gue bejek-bejek dulu ni bocah bandel " Gerutu Max dalam hatinya.
" Baru juga siuman udah langsung makan junkfood, dan itu juga alkohol sama rokok nya juga. Huh.. Anak ini memang gak bisa di percaya " Keluh lagi Max.
" Orang sibuk kelimpungan gara-gara dia, dia malah santai sambil minum-minum disini. Awas aja nanti ya, aku bakal kasih pelajaran buat kamu yang udah bikin aku khawatir tingkat tinggi " Gumam Galih sambil menatap Adri kesal dan gemas.
Adri masih tidak menyadari jika dirinya menjadi bahan tontonan disana, ditambah suara game yang ia mainkan di stel dengan suara yang full. Tak lama kemudian, Adri bangkit dan berjalan menuju dapur. Saat Adri ada di dapur, rombongan Arjanta dan Garda sampai disana dan langsung menghampiri Max dan Galih. Mereka terlihat begitu cemas dan seperti habis lari keliling lapangan.
" Gimana bang, apa si Adri nya udah ketemu " Tanya Sigit.
" Dia baik-baik aja kan bang, lalu ngapain kalian nyuruh kita kesini lagi? " Tanya Arjanta juga.
" Anjirr.. Gila tuh anak, baru sadar udah maen ngilang aja " Ucap Alif sambil menggelengkan kepalanya.
Belum sempat Max menjawab, Adri tiba-tiba aja nongol di depan mereka sambil membawa segelas air. Namun mereka di buat keheranan dan juga kesal sendiri, karena ekspresi Adri sangat datar dan seperti acuh terhadap mereka. Lantas Adri kembali duduk tanpa bertanya atau pun berkata sedikitpun, ia kemudian melanjutkan kegiatannya bermain game nya dan makan.
" Tu muka udah kaya jalan tol aja, lurus amat gak ada ekspresi lain apa. Abang sama pacar nya udah balik bukannya kaget, malah di cuekin. Dia pikir kita ini patung manekin apa " Celetuk Garda dengan kesal.
Max lantas memberi kode pada Galih dan Arjanta untuk tak mendekati Adri dulu, ia berinisiatif untuk menjelaskan secara perlahan kepada Adri tentang mereka. Agar Adri tidak terkejut dan kembali drop, karena Max tahu Adri masih sangat rentan setelah ia sadar dari tidur panjangnya.
Max kemudian duduk di samping Adri dan memeluknya, Max mencium pucuk kepala Adri dan menumpahkan semua kerinduan terhadapnya, yang selama ini ia rasakan.
" Apa kau baik-baik saja, kau sangat nakal dan selalu membuatku khawatir dengan tingkah mu itu. Lain kali jangan kabur dan membuat kita semua mengkhawatirkan mu " Ucap Max dengan lembut sambil mengusap rambut Adri yang udah sedikit memanjang.
" Aku baik-baik saja, jadi bang Max gak usah ngasih obat tidur lagi untuk merawatku " Ucap Adri santai.
" Kau ini, kau baru saja sadar dan sudah meminum air itu, dan lihat lah makanan berat ini sangat tidak sehat dan kau malah memakan semuanya " Ucap Max dengan gemas, namun ia sempat keterangan dengan maksud dari perkataan Adri. " Sebaiknya kau kembali kerumah sakit untuk menjalani perawatan, luka-luka mu masih dalam proses penyembuhan. Aku sangat takut jika luka mu kembali terbuka dan menyebabkan infeksi " Ucap Max kepada Adri.
" Aku udah baik bang, lagian aku masih bisa melompat atau menerjang tubuh loe kalo perlu pembuktian " Jawab Adri dengan santai.
" Sepertinya rumah ini perlu di bersihkan lagi, terlalu banyak hantu yang bergentayangan di rumah ini. Aku gak bakal tenang kalo hantu-hantu itu berada di sekeliling ku " Jawab Adri.
Seketika Max keheranan, sedangkan Alif, Doni, Sigit dan Garda berusaha menahan tawanya. Dan untuk Galih ia terlihat begitu kesal saat mendengar Adri menyebutkan hantu, sedangkan Arjanta terlihat sendu mendengar perkataan Adri.
Adri ternyata menganggap jika Galih dan Arjanta ternyata hanya ilusi yang selama ini datang dalam pikirannya, terkadang ia juga akan melihat sekilas bayangan mereka. Karena hal itulah, saat pertama kali Adri melihat mereka dari dapur. Adri terlihat biasa aja dan malahan cuek kepada mereka, karena Adri pikir mereka itu adalah ilusi yang di ciptakan oleh pikirannya.
Adri terlihat akan meminum kembali tequila nya, namun hal itu tak terjadi. Galih merasa sangat kesal dengan sikap Adri, dan dirinya langsung merebut gelas sloki dan juga botol tequila itu lalu membantingnya hingga pecah. Lantas Max langsung terkejut melihat apa yang dilakukan oleh Galih, begitupun dengan yang lainnya.
Lalu Brughhh... Adri kemudian bangkit dan langsung mendorong tubuh Galih hingga ia terpental dan membuat tubuhnya membentur makas panjang tempat TV. Adri seketika memandang telapak tangannya, ia merasakan sentuhan yang begitu nyata. Hingga Arjanta mencoba menenangkan Adri dan mendekatinya.
" Oni, apa kau benar-benar sudah melupakan ku. Aku arja, abang mu sendiri Oni. Apa kau sudah benar-benar melupakan kasih sayang ku selama ini " Ucap Arjanta sambil menangis dan berjalan semakin mendekati Adri.
" Ini tidak benar, ini semua hanya ilusi. Tuhan hanya ingin mempermainkan diriku, dan ini tidak nyata " Kata Adri dengan tangan yang sudah mengepal dan bergetar.
Dan bughh.. Adri memberikan dorongan keras kepada Arjanta hingga ia jatuh tersungkur di lantai, wajah Adri masih terlihat seperti menahan rasa sakit. Dan baju yang ia kenakan ternyata menampilkan bercak darah di daerah punggungnya. Max yang melihat itu pun begitu panik, karena luka Adri kembali terbuka.
Namun kejadian barusan ternyata sudah di saksikan oleh alfred, Katrina dan juga Abimanyu. Mereka sampai di sana tepat saat Adri mendorong tubuh Arja hingga dirinya jatuh tersungkur dilantai.
" Apa yang terjadi disini.. " Ucap Alfred dengan keras.
Lantas Adri memandang kearah suara yang tak asing lagi baginya, wajah Adri kembali menjadi datar, dan matanya seperti menyiratkan kebencian yang begitu besar. Bahkan Adri tidak menghiraukan Max yang mencoba menenangkannya dan mengingatkan tentang luka yang sedang ia alami.
" ******... " Gumam Adri sambil menggeram penuh amarah.
Lantas Adri pergi dari sana, ia tidak menghiraukan perkataan Max dan berpura-pura tuli. Adri berjalan dengan tertatih-tatih sambil menahan rasa sakit yang kembali ia rasakan, Adri bahkan beberapa kali berhenti saat menaiki tangga karena luka yang sudah mengering kembali terbuka.
_________________________________________________
Jangan lupa untuk dukungannya oke ππ