
" Kamu ini gak pernah berubah nak, tapi Papi sangat bangga sama kamu. Setidaknya kamu selalu memandang ramah semua orang, sedangkan teman kamu yang biasa saja malah suka pamer dan memaksakan keadaan pada kedua orang tuanya " Puji Edi. Adri hanya tersenyum mendengar pujian tersebut.
" Silahkan kalian para Putri dan Ratu papi lanjutkan obrolan kalian, papi harus menyelesaikan beberapa dokumen buat rapat besok " Edi segera bangkit dan pergi meninggalkan Adri dan Nia.
" Pih ingat jangan kebanyakan selingkuh sama dokumen, entar Mami cemburu sama Papi " Teriak Adri sambil ketawa.
" Gak papa sengaja buat Mami cemburu biar romantis sedikit " Jawab Edi.
Nia hanya menggelengkan kepala mendengar jawaban dari suaminya. Akhirnya mereka melanjutkan berbincang atu lebih tepatnya Nia menanyai Adri seperti seorang wartawan.
" Mi si Garda belum balik ya " Tanya Adri.
" Iya nak, semenjak ia punya kekasih, ia selalu pulang malam dan langsung tidur. Dia bahkan sudah berani mengajak pacarnya kerumah ini, dia sangat cantik loh. Tapi sayang Mami gak suka sama dia, masa dia minta dibeliini Barang-barang mewah, terus dia juga gak mau makan di restoran biasa, dia selalu ngajak kita makan di restoran mahal dan berbintang " Keluh Nia pada Adri.
" Cinta mungkin Mih " Ucap Adri asal.
" Nak walaupun kalian itu pacaran belum tentu kalian itu akan berjodoh, apalagi si Garda yang baru berumur belasan tahun, paling juga masih cinta monyet " Kata Nia dengan kesal. " Sudahlah Mami akan buat dulu minuman dan bawa cemilan dulu " Nia akhirnya pergi meninggalkan Adri.
Tak lama kemudian Nia datang membawa nampan berisi Segelas susu, lalu ada kopi dan juga cemilan. Ia menaruh gelas susu dan cemilan di meja depan Adri, kemudian ia pamit untuk memberikan kopi pada suami nya di ruang kerja.
" Kamu tunggu sebentar ya, Mami akan keruangan kerja Papi dulu. Habiskan susu sama cemilannya, biar kamu nambah sehat dan kuat " Kata Nia sambil tersenyum. Ia pun segera pamit pergi dari sana dan pergi menuju ruang kerja suaminya.
Adri dengan santai menikmati cemilan nya dan meminum susu yang dibuatkan Nia, ia merasa hatinya menghangat dan sedikit melupakan masalah nya dengan Garda. Namun itu tak berlangsung lama, orang yang Adri tunggu sudah datang. Ia berjalan sedikit sempoyongan, namun masih dalam keadaan sadar, rambut dan juga pakaian yang terlihat sangat berantakan.
" Dari mana loe Da, tumben loe sekarang minum alkohol " Sapa Adri sambil berdiri di depan kursi. Ia memasang wajah datarnya kembali dan dengan santai melangkahkan kalinya menuju kearah Garda.
" Ngapain loe dateng kerumah gue, loe udah di buang sama orang tua kandung loe. Dan sekarang loe mau rebut orang tua gue juga, gitu " jawab Garda dengan suara keras.
" Gue dateng kesini cuman nyuruh loe buat pisah sama si ****** Rosa, dia cewek yang gak baik buat loe " Kata adri masih sama.
"Jadi loe dateng kesini buat ngelaporin itu ke bokap sama nyokap gue " Ucapnya sinis. " Denger ya Baik-baik Adriani, setidaknya Rosa itu cewek lembut dan Dia jelas cewek Baik-baik, dan loe yang harusnya menjauh dari kehidupan gue, karena elo yang berpengaruh buruk dan membawa sial dalam hidup gue " Kata Garda dengan menahan emosi, ia juga mencengkram kuat leher jaket adri dengan sangat kuat.
" Sialan *******, kenapa loe gak pergi aja dari kehidupan gue hah " Balas Garda sambil mendorong tubuh adri dengan kuat. sehingga punggung nya terbentur sudut nakas yang berada di dekat tangga.
Adri sedikit meringis menahan sakit di bagian tulang punggung dan rusuk yang kebetulan mengenai sudut nakas tersebut.
" Sialan loe Garda, selama ini gue selalu ngelindungi loe dari orang yang hendak membully loe, dan sekarang loe balik membenci gue " Adri sangat emosi kali ini.
Garda kembali mencengkeram jaket Adri dengan kuat, ia menatap nyalang kepada nya. Kebencian dan juga amarah yang sedari dulu ia tahan, seketika muncul begitu saja dalam pikiran Garda.
" Dari dulu gue emang selalu benci sama elo Adri, gue benci karena sudah mengenal loe dari kecil, dan gue benci semua hal tentang elo Adriani. Apalagi orang tua gue lebih sayang sama elo " Emosi Garda sudah tak tertahankan lagi, ia kemudian membanting Adri ke lantai pergi meninggalkannya.
" Kenapa hah, kenapa gak dari dulu loe buktikan kebencian loe itu, kenapa gak dari dulu loe lampiaskan kebencian dan kemarahan yang loe pendam. Kenapa hah, loe gak berani lawan gue, loe emang pantas di sebut sampah Garda, loe emang cupu dan si anak **** yang mau-maunya di manfaatin oleh cewek ****** seperti dia. Loe pemuda pang ****** yang pernah gue temui, dan gue menyesal karena sudah melindungi manusia gak guna kaya elo " Teriak Adri dengan suara keras. Ia juga beberapa kali mengeram karena menahan emosi nya.
Galuh merasa terpancing oleh omongan Adri, ia berbalik menuju kearah adri dan menghajar Adri dengan sangat brutal. Ia melampiaskan semua kebencian dan perasaan yang selama ini ia pendam. Adri bahkan tidak melepaskan pukulannya ataupun membalas tendangan Garda, namun ia berusaha beberapa kali menghindar tapi tetap percuma.
" Kenapa huh, kenapa loe gak balas gue. Kenapa malah diam aja hah, apa loe udah lemah sekarang, hahahaha ternyata loe sudah lemah dan **** kayak gini " Maki Garda sambil terus memukul dan menendang Adri dengan keras.
Tempat itu sangat kacau dan banyak guci dan Barang-barang yang hancur. Karena ruang tengah sangat berisik, salah satu pelayan melihat kearah sumber suara. Ia seketika memekik kaget saat melihat banyak hiasan yang rusak dan pecah, darah bercecer dimana-mana. Dan yang lebih mengejutkan adalah tuan muda nya sedang menghajar tamu yang tadi ia sambut. Seketika ia memanggil pelayan lain dan juga security untuk memisahkan Galuh dan Adri.
Tak butuh waktu lama security datang dan beberapa pelayan hanya melihat dari jauh karena takut terkena imbasnya, sedangkan pelayan yang tadi melihat segera memanggil nyonya dan tuan nya. Hingga suara keras yang terdengar seperti sedang marah menggema di ruangan itu, dibarengi tangisan yang mengisi ruangan tersebut. Semua pelayan menunduk begitu pun security yang sedari tadi mencoba menarik Garda langsung menunduk hormat.
Edi sangat marah melihat anak nya menjadi brutal dan hampir saja membunuh anak angkat kesayangan nya, Edi sangat malu karena tidak menghentikan perkelahian anak nya tersebut dikarnakan ruang kerjanya kedap suara. Nia juga sudah meraung-raung manangisi kedua anaknya yang sedang berkelahi. Ia sangat sakit melihat anak kandung nya sendiri memukuli Adri yang sudah ia anggap putrinya nya itu. Terlebih kondisi Adri terlihat sangat mengerikan dengan darah yang berceceran di lantai.
Edi segera merebut keramik yang sedang Garda pegang dan hendak di hantamkan kearah kepala Adri, ia terlihat sangat murka dengan apa yang dilakukan oleh anak nya sendiri. Edi mencengkram kuat kerah baju Garda dan mengangkatnya keatas untuk mensejaharkan dengan nya. Dengan penuh emosi Garda di tampar Habis-habisan oleh Edi, ia sangat kecewa dengan apa yang telah dia lakukan.
" Dasar anak gak guna kamu, aku membesarkan mu dan mendidik kamu untuk menjadi orang yang baik dan berguna, aku juga sudah memohon kepada dia untuk menjaga anak tak tau diri seperti dirimu ini. Dan kau ingin membunuh orang yang sudah aku minta untuk menjaga mu selama ini, kau memang anak gak tau diri, kau anak ****, aku kecewa sama kamu. Aku kira kamu sudah berubah dan tidak memiliki sikap culun dan pemalu lagi, kalau seperti ini sedari dulu aku kirim kau kesekolah asrama di luar negeri sekalian " Maki edi dengan sangat murka.
Sedangkan Garda hanya menerima makian serta tamparan keras untuk ia, ia tidak tahu jika ternyata ayah dan ibunya meminta Adri untuk selalu melindungi dirinya. Ia sangat menyesal karena sudah salah paham dengan semua nya, ia juga merasa kecewa terhadap dirinya sendiri.