
Sedangkan Adri kembali menutup matanya, karena sedari tadi ia sudah menangis, ditambah cerita dari sang suster membuatnya semakin terus bersedih dan hancur. Adri merasakan begitu bahagianya dirinya memiliki Max yang selalu ada dan selalu melindunginya, walau terkadang Adri sangat kesal dengan sikap overprotective dari Max. Namun sekarang ia tahu kenapa dirinya melakukan itu, dan Adri semakin menyayangi dan mengagumi sosok Max yang begitu lembut terhadap dirinya.
Galih kini sudah duduk di sofa, dengan Max, Arjanta dan Abimanyu yang juga duduk disana. Max akan menjadi pribadi lemah jika sudah berhadapan dengan Adri, apalagi Adri saat ini sedang terlihat kacau. Ia hanya bisa melamun dan memikirkan tentang Adri saat ini, hingga Abimanyu membuatnya sadar dan memberikan wejangan kepada Max agar tidak terbawa suasana. Karena Abimanyu yakin jika Adri bisa melewati masa-masa ini dengan baik, dan dia pasti akan kembali seperti dulu lagi.
" Sudahlah, dia tak akan marah terlalu lama. Dia sangat menyayangimu dan saat ini dia butuh waktu untuk menenangkan diri nya sendiri. Kau jangan lemah seperti ini, dan tunjukkan jika kau juga baik-baik saja " Ucap Abimanyu kepada Max.
" Aku tidak sanggup jika melihat Adri seperti ini kepadaku, walaupun aku tidak selalu di dekatnya setiap saat. Tapi aku selalu mengkhawatirkan nya, dan selalu ingin melihatnya tertawa lepas. Tapi itu seperti khayalan ku saja, karena dia pasti selalu berhadapan dengan masalah karena menolong teman atau orang lain " Jawab Max dengan sendu.
" Aku sangat malu kepada diriku sendiri, karena aku orang tuanya yang sudah menelantarkannya begitu saja. Andai aku tahu akan masa depan, mungkin dulu aku tidak akan melakukan hal seperti itu hingga membuatnya terluka seperti ini " Kata Abimanyu.
Arjanta terlihat memeluk Abimanyu dan saling menguatkan satu sama lain. Sedangkan Galih merasa senang karena Adri sudah menerimanya, walau ia masih belum menjelaskan perihal dirinya waktu dulu.
π...π...π...π...π
Pagi harinya, Adri masih tertidur dan belum menunjukan akan bangun. Abimanyu memutuskan untuk pulang dan memberitahu yang lain mengenai kondisi Adri, sedangkan Galih juga ijin pulang untuk membersihkan diri serta mengganti pakaian nya. Disana tersisa Max dan Arjanta yang sedang menemani Adri, hingga seorang suster membawakan makanan untuk Adri dengan troli makanan yang didorong. Suster itu nampak berbincang dengan Max dan terlihat begitu serius, hingga akhirnya Max minta izin kepada Arjanta untuk pergi keluar sebentar karena ada urusan yang sangat penting.
Kini Arjanta tinggal sendiri disana, dia duduk di samping ranjang tempat Adri tidur. Dengan iseng Arjanta menganggu Adri dengan mengelus-elus rambut Adri, hingga sang empunya terbangun karena ulah dari Arjanta.
" Morning Oni, maaf ya abang udah ganggu tidur nyenyak kamu " Ucap Arjanta dengan lembut kepada Adri.
Adri hanya tersenyum dan mencoba bangkit dari tidurnya, ia masih belum sepenuhnya sadar dan masih menguap karena menahan kantuk.
" Jam berapa ini, cepat amat perasaan paginya " Gerutu Adri.
Kemudian Adri kembali berbaring lagi dan membiarkan Arjanta yang menatap heran kearah Adri.
" Hey, kenapa kau malah tidur lagi. Ayok bangun ini sarapan pagi mu masih hangat, ayok makan dulu " Bujuk Arjanta pada Adri.
" Gue masih ngantuk bang Max, entar aja gue makan " Jawab Adri sambil menenggelamkan seluruh tubuhnya dalam selimut.
Ekspresi Arjanta tiba-tiba langsung berubah menjadi masam karena Adri mengira jika dirinya adalah Max, karena kesal dengan sikap Adri. Arjanta lantas menarik selimutnya hingga kepala Adri terlihat, dan itu membuat Adri kesal karena tidurnya sudah di ganggu.
" Apa sih bang, gue masih ngantuk. Kasih gue waktu 5 menit buat ngumpulin dulu nyawa gue oke " Pinta Adri sambil memejamkan kedua matanya.
Adri sontak kaget mendengar suara yang lain, karena Adri sangat mengenal suara Max. Sedangkan suara bass yang sedang berbicara kepadanya jauh berbeda dengan Max, lantas Adri langsung membuka matanya dan melihat orang yang sudah berbicara kepadanya.
Saat Adri membuka kedua matanya, pandangan Adri terpaku pada pemuda yang sangat tampan. Rambut hitam dengan iris mata yang hitam juga, namun lekuk wajahnya sangat mirip sekali dengannya. Jantung Adri berdetak kencang saat dalam pikirannya di penuhi oleh gambaran tentang sang kakak yang hilang dulu. Seketika air mata Adri tumpah dan membasahi kedua pipinya, ia menangis saat memikirkan tentang ilusi sang kakak yang selalu datang dalam pikirannya.
Adri kemudian bangun dengan di bantu Arjanta, Adri langsung memeluk erat Arjanta dan menangis di dada bidang sang kakak. Adri menumpahkan semua kerinduan dan rasa kehilangan yang selama ini ia pendam.
" Apa kau benar-benar bang Arja, apa kau bukan ilusi. Apa kau nyata? " Kata Adri dengan penuh tanya kepada Arjanta sambil menangis.
" Aku abang mu dek, aku Arjanta abang mu. Aku sangat merindukan dirimu dan aku sangat senang jika kau mengenal diriku " Jawab Arjanta yang juga ikut menangis harus sambil memeluk Adri dengan lembut.
" Kau kemana saja selama ini, kau tau Papa sama Mama pergi meninggalkan aku sendiri dan tak pernah lagi memperdulikan ku. Aku sangat sedih dan aku sangat depresi karena hal itu " Ungkap Adri kepada Arjanta.
" Mulai sekarang kau tidak akan sendiri lagi, aku akan selalu ada disamping mu dan akan menjaga mu dengan baik. Jangan menangis lagi, sudah cukup untuk terakhir kalinya kau menangis. Air matamu terlalu berharga untuk di keluarkan dan di perlihatkan pada orang lain " Ucap Arjanta kepada Adri.
Adri kemudian melepaskan pelukannya dan tersenyum kearah Arjanta, dengan sangat lembut Arjanta juga menghapus air mata Adri dan mencium kedua pipi Adri lalu kening dan puncak kepalanya dengan penuh kasih sayang.
" Kau sudah semakin besar dan sangat cantik sekali, tapi kau gadis nakal dan tingkah mu lebih parah dari terakhir kita ketemu. Lihatlah badan mu sekarang penuh luka, padahal aku dulu menjaga mu dengan sangat baik dan tak membiarkan mu terluka. Seperti nya aku harus protes sama bang Max karena gagal menjaga mu " Ucap Arjanta kepada Adri sambil tersenyum.
" Luka ini hanya luka kecil, dan aku anak yang sangat kuat. Jadi kau tidak perlu khawatir oke " Ucap Adri sambil tertawa.
" Apa kau mau sarapan sekarang, biar aku yang menyuapi mu " Kata Arjanta.
" Aku mau ke toilet dulu dan membersihkan muka, dan kau barusan mencium bekas iler gue. Hahaha " Tawa Adri dengan keras.
" Hah.. Sepertinya aku harus mencuci bibirku agar higienis " Canda Arjanta sambil ikut tertawa.
_________________________________________________
jang lupa buat dukung cerita awak oke guyssss