
Flashback on...
Orang yang di panggil Jo itu pun terlihat sudah pasrah dengan kelakuan Adri, ia juga terlihat beberapa kali menghembuskan nafasnya secara kasar.
" Untung sang pawang udah dateng ya kan Don, jadi kita bisa santuy dengan aman " Alif tersenyum senang dengan penuh kemenangan, karena ia bisa tenang dan bebas dari asap rokok yang menyelubungi gudang tersebut.
Adri langsung mendelik dan memberikan tatapan tajam kearah Alif, karena ia tak suka dengan ucapan yang di lontarlan Alif kepadanya. Orang yang di panggil Jo pun segera mendaratkan pukulan di kepala Alif.
" ****** loe kira gue apaan Lif, seenak jidat loe manggil gue pawang. Loe kira si Adri hewan liar apa.. " dia berhenti melanjutkan ucapannya, dan beralih menatap kearah Adri yang sudah terlihat marah.
Glekkk.. dia bersusah payah menelan ludahnya yang terasa kering seketika. Tatapan marah Adri memang bisa membuat siapapun merasa takut, ditambah mood nya yang sedang hancur menambah kesan garang padanya.
Jo langsung mendekat dan berusaha bersikap seperti biasa, sedangkan kedua temannya terlihat sedang bersiap mengambil Ancang-ancang, Sewaktu-waktu emosi Adri membuncah tak terkendali.
" Yang jangan kebanyakan merokok ya, gue gak mau lihat loe sakit. Kalo loe ada masalah cerita sama gue, bukannya malah ngelampiasin sama rokok " bujuk nya sambil mengambil bungkus rokok yang ada di meja depan Adri.
Adri hanya mendengus mendengarkan ucapan kawannya tersebut, ia malah menyulut rokok nya lagi dan menghisap nya kembali. Jo pun segera mematahkan rokok yang sedang dihisap Adri dan membuangnya. Jo sangat tau jika Adri sedang ada masalah, karena Jo memang sudah mengenal Adri dengan baik. Dan Adri gak bisa nolak apa yang di ucapkan oleh Jo.
" Yang kamu denger aku kan, aku gak... "
" Gak panggil gue sayang, pala lu botak Panggil-panggil gue sayang. Berasa jijik gue " sanggah Adri dengan ketus.
Jo tersenyum melihat wajah kesal Adri, karena menurutnya. Adri lebih baik memasang wajah cemberut nya dibanding wajah datar dan dingin ciri khas nya. Jo kemudian duduk di samping Adri, ia merapikan rambut pendek dan berwarna milik Adri yang terlihat sangat berantakan. Baginya Adri adalah sosok yang sangat kuat dan tegar, ia juga tahu dibalik penampilannya yang terlihat urakan. Adri menyimpan begitu banyak luka dan beban yang sukses ia sembunyikan di balik topeng Bar-bar nya.
Adri merasa sangat nyaman jika berada dekat dengan Jo, karena dia mampu membuat hati dan pikiran Adri singkron dengan rasa nyaman dan tenang. Adri menyandarkan punggung nya dan menutup kedua matanya, ia begitu nyaman merasakan elusan lembut yang sedang di lakukan Jo dengan rambutnya.
Senyuman bahagia sukses terbit dari wajah Jo, ia sangat senang karena Adri selalu menerima perlakuan kasih sayang darinya.
" Serasa obat nyamuk gue liat loe pada. liat kondisi dong, setidaknya hargai spesies jomblo kaya gue ini " sindir Alif.
Bukkk.. botol bekas air mineral sukses mendarat di wajah Alif. Sedangkan sang empunya hanya mendengus dan bibirnya yang terlihat Berkomat-kamit gak jelas. Tapi yang pasti Alif sedang mengumpat dan menyumpahi Adri di dalam hatinya.
" Fttttt... rasain loe, makanya jangan terlalu lama jomblo tanggung sendiri kan akibatnya " bisik doni di telinga Alif, ia berusaha menahan tawanya melihat kawan nya tersebut. Lalu ia lekas pergi keluar dari area gudang tersebut.
" Gak usah Komat-kamit segala, dan awas aja kalo loe berani nyumpahin gue " ucap Adri Tiba-tiba.
Alif pun lekas pergi sambil mendengus kesal dengan apa yang di ucapkan Adri, ia merasa sangat kesal dengan Menghentak-hentakan kakinya saat berjalan. Terkadang juga akan menendang benda apa saja yang ia lihat sebagai pelampiasan rasa kesalnya. Niat mau mengerjai orang malah dirinya yang kena batu sendiri.
Tinggal Adri dan Jo yang sedang duduk berdua di gudang tersebut, mereka hanya diam tak bersuara. Adri beberapa kali menghela nafas dengan kasar, ia tak bergeming dari posisinya. Jo langsung mengubah posisi duduknya dengan menyender kemeja di depan Adri, ia menopang kepala dengan tangan kanan nya. Dan tangan kirinya sedang asik mengelus dan memainkan rambut pendek milik Adri. Kini wajah mereka saling berhadapan dan Jo tak melepaskan pandangannya dari wajah Adri.
Tak lama kemudian Jo merasakan sakit di bagian ulu hatinya, melihat bulir bening yang jatuh dari sudut mata Adri. Ini adalah kali pertama Jo melihat Adri menangis, selama ini Adri tak pernah memperlihatkan sisi rapuhnya pada siapapun. Bahkan saat Adri terluka cukup parah saat tawuran pun, ia masih bisa ketawa dan menunjukan jika dirinya kuat.
" Jo apa salah gue.. " kata Adri dengan nada parau.
" Loe gak salah salah Apa-apa, loe selalu benar dan selalu hebat di mata gue Dri. Jangan pernah berpikiran tak ada orang sayang sama loe Dri, disini gue bakal selalu ada buat loe " dia sudah paham jika Adri menangis karena keluarganya, ia juga menyeka air mata Adri dengan kedua tangannya.
" Jo.. "
" Hey jangan begini oke, loe gak pantes nangis kaya gini. Loe terlihat lebay tau, lihat idung loe jadi merah kan " Jo terkekeh melihat wajah Adri yang sedikit memerah, sangat kontras dengan warna kulit putih nya.
Adri membuka matanya pelan, ia menatap mata jo yang berwarna coklat terang. Mata yang selama ini selalu mengawasi dirinya, mata yang selama ini selalu membuatnya luluh dan mata yang selalu membuat Adri rindu akan tatapan tajam nya. Ia bisa melihat Jo tersenyum, hal yang selalu membuat hati Adri menghangat. Adri pernah berpikir jika dirinya jatuh cinta untuk yang pertama kali pada lelaki selain ayah dan juga kakak nya. Dan itu tak lain adalah Jo, orang yang sedang ia tatap saat ini.
" Dengarkan Kata-kata gue, selama ini gue sangat sayang sama loe Dri. Gue gak mau liat loe sedih dan terpuruk dalam kelam nya masalalu, gue tau loe sedih karena keluarga loe. Gue pengen ngasih tau loe, kalo gue Benar-benar sayang dan cinta sama loe Dri, Loe adalah cinta pertama gue pada seorang wanita selain Mami gue. Kisah kita sama, loe dan gue Sama-sama mengharapkan kasih sayang dari orang tua kita. Gue gak mau loe lemah kayak gini, loe harus kuat Dri, gue lebih seneng liat loe Marah-marah dan brutal ketimbang melihat loe kaya gini. Gue juga merasakan apa yang loe rasain Dri, gue juga sakit saat loe merasa sakit. Jadi mulai sekarang loe gak boleh nunjukin hal kaya gini lagi, karena gue benci loe yang seperti ini " Jo sangat serius mengucapkan Kata-kata nya.
" Jangan pernah tinggalin gue Jo, gue juga sayang sama loe. Gue gak mau loe jauh dari gue, loe Satu-satu nya orang yang paling ngerti dengan keadaan gue " tangis Adri pecah setelah Jo mengatakan perasaan nya. Adri memeluk erat tubuh Jo, seakan ia merasakan jika Jo akan pergi ninggalin dirinya.
" Gue bakal selalu ada buat loe, jadi mulai sekarang loe adalah milik gue dan gue gak mau loe jadi milik siapapun untuk Selama-lamanya. Loe juga harus nurut sama perkataan gue, kurangi kebiasaan ngerokok loe dan juga berhentilah meminum air yang gue benci. Gue gak mau loe sakit Gara-gara hal itu " ucap Jo sambil membalas pelukan Adri.
Adri tidak menyahut apapun yang dikatan Jo, ia lebih nyaman berada di pelukan Jo dan mendengarkan suara menenangkan yang berasal dari detak jantung Jo. Selama ini Jo memang selalu melarang Adri untuk mengurangi kebiasaan merokok. Bahkan ia tak Segan-segan langsung membuang rokok atau botol minuman beralkohol, saat Adri minum saat itu juga. Dan Adri hanya pasrah dan menuruti semua ucapan dari Jo.
" Udah puas meluk gue, gue udah pegel nih kelamaan nahan tubuh loe yang Gede " ucap Jo sambil tertawa.
Adri menatap horor kearah Jo yang mengatai badan Gede padanya, sedangkan Jo hanya tersenyum melihat wajah Adri yang lucu menurutnya.
" Gak usah natap gue kayak gitu juga kali Dri, loe mau tuh mata loe loncat keluar " Jo tertawa puas melihat Adri yang cemberut Gara-gara ucapannya.
Cupp.. Jo mendarat kan ciuman di kening Adri, entah keberanian dari mana ia bisa mencium Adri. Namun yang anehnya Adri malah memasang wajah datarnya kembali, sedangkan Jo langsung blushing dengan tingkah yang ia lakuin barusan. tak lama kemudian Adri tersenyum kearah Jo yang terlihat lucu, wajah dan dan telinganya memerah karena menahan malu.
Adri langsung merangkul leher Jo dan merapatkan dada mereka. Adri menahan lumayan lama pelukan nya yang di balas juga oleh Jo. ia sangat senang jika Adri membalas perasaan nya juga. ia dapat merasakan detak jantung milik Adri yang berdetak sangat kencang, begitu pun Adri yang merasakan hal yang sama.
" Jo gue suka suara detak jantung loe, seakan jantung loe ada dalam diri gue. Sekarang gue bisa merasakan jika suara detakan nya memenuhi kepala gue Jo " ucap Adri.
" Benarkah, kalo begitu gue titip jantung gue sama loe. Jangan pernah loe ganti jantung gue dengan jantung orang lain, gue mau jantung gue yang Satu-satu nya ada salah tubuh loe. Gue memang sangat egois jika itu semua menyangkut tentang loe Dri, ingat ini Baik-baik. Walau suatu hari nanti gue gak ada disisi loe, tapi loe harus yakin jika gue selalu ada dalam diri loe, ingat hal itu Dri " ucap Jo
Adri semakin memper erat pelukannya, ia tidak ingin melepas Jo begitu saja. Entah mengapa Jo seakan mengucapkan Kata-kata perpisahan untuk nya.
" Udahan dong meluknya, tuh bel masuk udah bunyi loh " ucap Jo.
" Bolos aja ya, udah lama gak ke warnet gue " jawab Adri dengan santai sambil melepas pelukannya.
" Hemm.. terserah loe aja lah, percuma juga gue debat sama loe gak bakalan menang juga " Jo menghela nafas mendengar ucapan Adri. Ia tidak bisa menolak atau pun melarang apa yang dia mau kecuali rokok dan alkohol.
Akhirnya mereka berdua keluar dari gudang dan secara Diam-diam mereka pergi membolos dan memanjat tembok pembatas sekolah. Hal itu sudah biasa Adri lakukan bersama Kawan-kawannya jika mereka sedang bolos atau sekedar gabut aja.
_________________________________________________
Gimana kak ceritanya semakin penasaran gak..
Ini chapter yang paling epic bagi Author, karena nulis nya sampe dua hari. sekaligus cerita yang lumayan panjang. Jangan lupa ya dukungannya agar Author semakin semangat buat nulis nya.
Siapa sosok Jo sebenarnya..?
( Ingat ya Jo hanya nama panggilan nya saja..)
Jangan lupa Komen, Like dan vote nya ππ
See next chapter...