
" Sudah hentikanlah , aku memang orang yang tak berguna, Garda benar aku memang pembawa sial dalam kehidupannya. Mana ada yang mau berteman sama anak berandalan dan urakan seperti ku, seharusnya dia memang tak pernah bertemu dengan ku dan tumbuh bersama " Ucap Adri dengan Terbata-bata. Ia memegang perut atasnya dan menahan sakit yang sangat teramat.
Adri kemudian mencoba bangun, namun sayangnya tangan nya malah menekan serpihan keramik yang pecah hingga tangan Adri terluka. Nia juga terlihat ingin mendekat, namun dengan cepat ia menghentikannya. Dengan sisa tenaga yang Adri punya Adri bangkit dan mencoba untuk berdiri. Beberapa kali Adri Terbatuk-batuk dan menyerang kesakitan, namun ia terus memaksa untuk berdiri dan menatap orang yang begitu membenci dirinya.
Edi yang tak kuasa melihat Adri bersusah payah untuk berdiri dengan menahan sakit yang dibuat oleh anak kandungnya. Ia melepas cengkraman di baju garda, hingga garda menjadi berlutut di samping Edi. Saat Edi akan mendekati Adri yang terlihat kehilangan keseimbangan dan akan jatuh, Adri dengan cepat menolak dan membuat Edi berhenti mendekatinya.
" Aku__aku kesini hanya ingin menyerahkan ini kepadamu, semoga setelah melihat ini kau bisa sadar. Aku tau aku memang tak lebih baik di bandingkan dengan Rosa dimatamu " Kata Adri sambil terengah-engah. " Aku sangat menyayangi dan mencintai mu sama seperti Arja, aku memang sudah di buang oleh orang tua kandung ku. Paman dan tante sukarela menyayangi ku dan mencintai ku sama seperti mu, tapi asal kau tau saja mereka lebih mencintai dan menyayangi dirimu Da. Mereka bahkan menitipkan dirimu padaku, dan sedari dulu aku sudah berjanji akan selalu melindungi dirimu " Ucap Adri dengan sedih. Tanpa disadarinya air mata menetes dari kedua sudut mata Adri, ia merasa hancur dan kecewa dengan Garda.
" Sudah cukup nak, kamu jangan pernah menceritakan hal itu. Aku sangat malu dengan apa yang aku minta kepadamu, dan anak ku sendiri yang sudah melukai dan mengecewakan mu nak. Aku minta maaf karena sudah membuat dirimu terbebani dengan keinginan kami, maaf kami karena kami tidak tegas dan terlalu memanjakan nya " Edi jatuh berlutut di hadapan Adri, ia tak kuasa berdiri, seakan ia tak punya tenaga untuk berdiri di depan Adri. Edi yang terlihat tegas dan berwibawa tinggi jatuh berlutut sambil menunduk dan menangis di hadapan semua pelayannya. Ia bahkan tidak lagi memperdulikan tentang jabatan yang ia pegang saat ini, hati seorang ayah lah yang sudah menguasai nya kali ini.
Nia juga melakukan hal yang sama dengan sang suaminya ia tak mau menatap Adri yang berdiri di hadapannya. Sedangkan Adri hanya menatap Garda walaupun pandangannya sedikit buram, karena sebelah matanya bengkak akibat pukulan Garda.
" Loe tau Garda, kedua orang tua loe sangat sedih saat melihat loe di kencingi sama kakak kelas loe waktu SD. Mereka melihat dirimu di perlakukan layak nya sampah, dan apa yang loe lakuin. Apa loe melawan mereka, apa loe kembali membalas apa yang mereka lakuin sama elo. Gue yang udah bikin pembalasan bagi mereka, setiap orang yang macam-macam sama elo. Gue selalu lebih dulu menghajar dan menjauhkan itu dari elo, kenapa gue ngelakuin itu semua. Karena gue sayang sama loe Da, gue gak mau loe di sakitin sama mereka, gue mau loe bisa ketawa bebas dan bahagia, hanya itu Da, hanya itu yang selama ini gue lakuin " Kata Adri dengan nada sedih.
Adri menjatuhkan flashdisk di depan Edi dan Garda, mereka langsung menatap kearah Adri dengan bertanya-tanya. Adri hanya tersenyum sedikit sebelum ia berbalik dan hendak pergi dari sana, namun langkah Adri terhenti sejenak.
" Paman, tante, aku mungkin sudah selesai dengan semua janji ku. Aku juga gak akan membuat kalian repot lagi mulai sekarang, aku sangat berterima kasih banyak karena kalian sudah menyayangi diriku sepenuh hati kalian " Ungkap Adri. " Dan satu hal lagi, jangan mencemaskan aku, karena aku akan Baik-baik saja " Kata Adri untuk terakhir kalinya.
" Tidak nak, jangan seperti itu, jangan pernah katakan itu nak. Kami sangat menyayangi dirimu, jangan pernah mengatakan hal itu " ucap Edi lirih.
Adri tak menghiraukan nya, ia kemudian menyeret tubuhnya yang sudah penuh dengan luka babak belur, ia berusaha bertahan dan tidak jatuh lalu pingsan disana. Setelah berusaha dengan tenaga yang tersisa, Adri akhirnya sampai di mobilnya. Ia langsung masuk dan menyenderkan tubuhnya di kursi penumpang bagian depan. Adri kemudian menghubungi Max untuk datang kesana, ia juga menyuruhnya untuk naik taksi karena nanti akan membawa mobil Adri.
Tak lama kemudian Adri mendengar ada suara mobil yang berhenti di dekatnya, dan tak lama kemudian langsung pergi lagi dari sana.
" Oh shit... Apa yang sudah terjadi dengan mu kali ini, lalu darah apa yang ada disana " Teriak Max kaget.
Namun belum sempat Adri menjawab pertanyaan nya, Adri merasakan sakit di bagian dadanya dan di susul dengan cairan kental dan amis yang menyeruak ingin keluar dari dalam kerongkongan nya. Seketika Adri langsung memuntahkan darah lagi dan memegang handel yang ada di pintu mobil dengan kuat, ia merasakan sakit yang teramat di bagian dadanya.
Tanpa bertanya lagi, Max segera membantu Adri dan kembali menyenderkan tubuh Adri di jok mobilnya. Ia sangat tahu jika seseorang sampai muntah darah, berarti ada luka dalam yang sangat serius. Max langsung menutup pintu mobilnya dan berjalan memutar dan langsung membuka pintu mobil satunya lagi, ia duduk di kursi pengemudi dan langsung menutup kembali pintunya. Ia kemudian membantu memasangkan save belt pada Adri, namun ia melihat Adri meringis kesakitan sambil memegang dadanya.
Max akhirnya memutuskan untuk membuka sweater yang ia kenakan dan mengganjal save belt agar tidak terlalu menekannya, ia juga menaruh jas kedokterannya di atas paha adri, untuk berjaga-jaga jika dia muntah darah lagi. Setelah itu, max segera membawa adri kerumah sakit.
Disepanjang perjalanan menuju kerumah sakit, Max sesekali melihat kondisi Adri karena ia merasa sangat khawatir, ia melihat Adri meringis menahan sakitnya, bahkan Adri nampak sangat lemah kali ini. Berbeda halnya saat Adri habis tawuran dan berkelahi sampai habis di kroyok, tapi dia tetep masih kuat dan dia masih bisa merayakan kemenangan bersama kawan-kawan nya. Max bertanya-tanya dalam pikirannya, tentang kenapa Adri sampai bisa seperti ini dan tidak seperti biasanya, dan siapa yang sudah melakukan hal ini, lalu kenapa harus di dekat kediaman Mahardika, pertanyaan itu terus berputar di dalam kepala Max, bahkan lebih banyak lagi pertanyaan yang ingin sekali ia ungkapkan pada Adri.
_________________________________________________
Hai kak, maaf ya chapter yang kemarin gak lulus review. Jadi aku tulis ulang dan sedikit di ubah jalan ceritanya..
semangat terus kak, tunggu kelanjutan kisah Adri ya ππ