BAD???

BAD???
Bukti yang konkrit



Adri dan Sigit pun berjalan beriringan, mereka terlihat lebih dekat lagi setelah kejadian kemarin. Namun belum sampai di lorong kelas, Hadi sudah mencegat Adri karena ketahuan telat lagi. Pada akhirnya Adri dapat hukuman lagi, dan kali ini, dia harus membersihkan toilet Guru.


" Apes mulu perasaan hari ini gue Dri, udah mobil gue di sita ditambah lagi disuruh bersihin wc lagi " Keluh Sigit.


" Gak bosen apa ngedumel mulu Git, kapan selesai nya kalo loe cuman diam sambil ngeluh mulu " Tegur Adri, ia tidak habis fikir sama tingkah sigit yang banyak bicara.


" Loe aja deh Dri, gue gak mau tau jijik bersihin toilet punya orang, lagian gue juga gak pernah bersihin toilet aku sendiri kok " Kata Sigit sambil memandang jijik ke arah kloset yang sedang Adri bersihkan.


" Huh... Yaudah loe jaga di depan pintu masuk, gue selesaikan dulu tugas nya " Jawab Adri pasrah.


Sigit segera melangkah menuju pintu awal ia masuk, ia kemudian berdiri disana dan sesekali mengintip keadaan di luar toilet. Tak lama kemudian Adri sudah selesai dan langsung menghampiri Sigit, mereka akhirnya keluar dari sana dan bergegas masuk kedalam kelas.


Setelah dapat ijin masuk kedalam kelas untuk mengikuti pelajaran, Adri dan Sigit langsung duduk di kursi tempat biasa mereka duduk. Banyak sekali perbedaan disana setelah kejadian kemarin, tidak ada sapaan atau obrolan singkat antara teman Adri. Mereka tampak acuh seakan Adri memang tak ada di dekat mereka, apalagi si Garda, saat Adri masuk dan melewatinya, dia seakan memberikan tatapan penuh amarah dan kebencian pada adri.


Sedangkan untuk Adri sendiri, ia akan membiarkan dulu sikap Garda seperti itu. Sebelum mendapatkan bukti rekaman dari Jess Adri tidak akan bertindak dulu, ia ingin melihat sampai mana Garda ingin melawan dirinya dan memberikan bukti jika si Rosa wanita Baik.


Dan untuk si Galuh dan Leksana, Adri tidak akan menanggapi sikap mereka bahkan menanyakan masalah nya. Ia akan menunggu sampai mereka berbicara padanya secara Baik-baik dan menjelaskan penyebab mereka menjauhi Adri.


Sigit hanya memandang Adri dengan tatapan sedih, sekarang ia juga tahu dan bisa merasakan rasa sakit yang Adri pendam. Mungkin Adri terlihat acuh, santai dengan ekspresi wajah datar nya, Namun jauh di lubuk hatinya ia merasa kecewa dengan apa yang di lakukan oleh Teman-temannya.


πŸƒ πŸƒ πŸƒ πŸƒ πŸƒ πŸƒ


Kini sudah lebih dari tiga Hari semenjak kejadian perdebatan di kantin sekolah, sejak saat itu pula ketiga temannya sudah berubah total. Mereka menjauhi Adri dan tidak lagi saling sapa atau pun berbicara, terlebih Garda, ia seakan membuat benteng pembatas diantara mereka. Setiap hari ia selalu bermesraan dan juga memamerkan keromantisan dia bersama Rosa di depan umum, bahkan ia tak segan membantu Rosa mengatai Adri saat berpapasan di lorong kelas.


Saat ini Adri sedang berada di klub tempat Jess, sudah dari tadi sore Jess mengabari jika rekaman yang Adri minta sudah ia siapkan. Adri memandang benda kecil yang sangat penting buat orang yang selama ini ia jaga, namun dalam hati nya ia merasa sangat sakit setelah selama ini ia menjaga dan berakhir dengan penghinaan dan cacian yang ia dapat.


" Loe kenapa dek, harusnya loe senang sudah dapat bukti yang sangat jelas ini. Dia pasti gak bisa berkutik, lalu kenapa wajah loe malah sedih " Kata Jess sambil menyodorkan sebuah cocktail kearah Adri.


Adri tidak menjawab pertanyaan Jess, ia sangat malas membicarakan hal yang sudah membuatnya sangat emosi saat mengingat kejadian tiga hari yang lalu. Adri meremas flashdisk yang ada ditangannya, lalu ia langsung meneguk habis minuman yang di buatkan Jess hingga habis tak tersisa. Adri mengerang menahan marah dan mencengkram kuat gelas itu, tak lama kemudian Adri membanting nya di meja bar hingga gelas itu pecah dan menghambur.


" Huh... Dasar ****, siapa sih yang sudah membangkitkan iblis itu " Umpat Jess dengan wajah kesalnya. Ia menyuruh pekerja lain untuk membantu dirinya membersihkan serpihan kaca yang berasal dari gelas yang Adri banting.


Adri mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi, tujuan utama kali ini adalah rumah utama keluarga Mahardika. Ia ingin segera menyelesaikan tugas dirinya sebagai orang yang selalu menjaga dan melindunginya, ia tidak ingin lagi terlibat dengan orang yang tidak tau diri seperti Garda.


Akhirnya mobil Adri sampai di dekat rumah Mahardika, Adri segera turun dari mobil nya, ia sengaja memarkirkan mobilnya agak sedikit jauh dari gerbang luar rumah tersebut. Adri berjalan kearah gerbang dan memanggil security untuk membukakan pintunya.


" Non Adri tumben dateng kesini nya gak pake mobil, udah lama sekali bapak gak lihat neng Adri, semakin cantik aja neng. Silahkan masuk " Sapa security tersebut.


" Gak papa pak, sekalian olahraga biar sehat " Canda Adri. "Kalo begitu Adri masuk dulu ya pak " Pamitnya sambil tersenyum.


" Iya Non "


Adri berjalan dengan santai menuju rumah megah berlantai 3 itu, ia tidak asing lagi dengan rumah di depannya.Namun sudah lama sekali Adri tidak mengunjunginya dan sibuk bersama teman dan juga aksinya.


Tingtong... Tingtong.. Adri menekan bel rumah tersebut.( ya kali rumah segede badag kaya gitu di ketok). Tak lama kemudian seorang pelayan datang membukakan pintu dan menyuruh Adri untuk masuk, tanpa bertanya lagi, Adri melangkahkan kaki nya menuju ruang keluarga rumah tersebut. Ia berfikir jika pemilik rumah tersebut pasti sudah berkumpul di jam segini, dan benar saja di ruangan tersebut ada sepasang parubaya yang sedang berbincang sambil menonton televisi. Adri kemudian merangkul leher kedua parubaya itu dan mencium pipi mereka secara bergantian. Mereka tak lain Edi Mahardika dan Nia Mahardika.


" malam Mami, malam juga Papi " Kata Adri sambil mencium pipi mereka. " Gimana kabar kalian hari ini, gak kangen apa sama princes kalian ini " Adri mengerucutkan bibirnya.


" Eh.. Tumben kamu Nak kesini, biasanya juga nunggu di paksa dulu buat dateng kerumah ini. kita Baik-baik saja nak, lalu Gimana dengan kabar mu cantik " Sapa balik Edi itu sambil mencium pipi Adri.


" Hemm.. Tanya tuh sama Mami, dia udah ngancam Adri sama jewer telinga Adri di depan umum " Keluh Adri pada Edi. Adri segera melepas rangkulan nya dan berjalan kearah sofa single , ia kemudian mendudukan tubuhnya dengan nyaman.


" Itu karena kamu udah nakal ya, masa Pah dia dandanin Suni kaya gelandangan, ya jelas mamah kesal Pah. Ditambah lagi sama cemoohan dan ejekan para orang tua dan dia malah diam saja, ya udah Mami jewer telinganya " Bela Nia sambil terkekeh pelan.


_________________________________________________


Hi kak, jangan lupa ya dukungannya...