BAD???

BAD???
Ganteng nya Macan Tutul



" Hey bangunlah, ini sudah hampir malam. Kau belum makan dari siang, setidaknya kau makan malam lah terlebih dahulu " ucap seorang pemuda yang duduk di pinggir sofa tempat orang tersebut berbaring.


Orang yang tidur di samping pemuda tersebut pun tak bergeming sedikit pun, ia merasakan kantuk yang berat dan kedua kaki nya pegal. Namun pemuda itu terus saja berusaha untuk membuatnya terbangun.


" Hey dek bangun dong, gue gak ada temen. Masa gue cuman liatin loe tidur sih, lagian loe juga belum makan dari siang. Itu Bibi udah siapin makan malam, Ayok cepetan kita makan bareng " pemuda itu berkata sambil menggoyangkan tubuh orang tersebut.


" Ck... loe ini bisa gak sih gak ganggu gue, kalo bukan Gara-gara loe ngajakin gadang kemaren. Lagian ngapain loe masih di rumah gue, jangan bilang kalo loe gak punya rumah dan berniat tinggal di rumah gue " decak kesal orang tersebut. Ia bahkan tak bergeming dari sofa tersebut, ia hanya membalikan badan nya menjadi terlentang dan menutup kedua mata dengan salah satu lengan nya.


" Hello, gue juga punya rumah kali. Cuman gue sengaja nginap disini, sekalian liburan sama adek baru. Jhahaha " Tawa Radit


" Jijik gue dengernya, lagian loe gak sekolah apa. Terus orang tua loe gimana, mereka pasti nyariin keberadaan loe " jawabnya.


Seketika ia langsung teringat dengan keluarganya yang mengacuhkan dirinya, entah mengapa ia sangat menyesal berkata demikian. Ia kembali merasakan sakit yang luar biasa di bagian dadanya, rasa sesak yang sudah Bertahun-tahun ia tahan. Adri yang sedang melamun tidak mendengarkan ucapan dari Radit dan membiarkannya terus bercerita.


" Heh malah tidur lagi, Dri bangun dong. Gue udah laper nih, ayok cepetan kita makan bareng " gerutu Radit. Ia sudah sangat bosan berbicara pada Adri yang tak mendengarkannya dan malah kembali tertidur.


" Jam berapa sekarang " tanya Adri pada Radit.


" Udah hampir jam setengah delapan, buruan bangun. Tuh iler loe ampe netes ke sofa, sana buruan bangun " senyuman Radit mengembang, saat ia mengerjai Adri.


Mendengar apa yang Radit katakan, Adri langsung bangun dengan wajah datar plus kucel nya. Ia kemudian Berpura-pura mengelap sudut bibirnya dengan telapak tangannya dan menggosokan nya ke baju Radit. Sontak Radit pun menjauh karena jijik dengan apa yang di lakukan Adri.


" Ih kok cewek jorok sih, masa ilernya di usapin ke baju aku. Sana mandi dulu, badan loe bau keringet " Radit Berpura-pura menutup hidungnya dan mengibas-ngibaskan lengannya.


" Terserah loe aja lah, lagian gue gak pernah ileran. Gak kaya loe, tidur udah kaya suara **** pake toa. Ngorok loe keras kalo tidur " jawab Adri dengan santai.


Radit pun merasa malu karena malam kemaren ia pasti mendengkur pas tidurnya. Karena ia terbiasa mendengkur saat keadaan tubuhnya dalam kondisi kelelahan atau drop, tapi ia akan tidur dalam keadaan tenang jika kondisi tubuhnya normal.


Adri langsung bangkit dari sofa, tak lupa ia membawa tas sekolahnya dan berjalan menaiki tangga. Setelah memasuki kamarnya, Adri menaruh tas dan pergi ke arah toilet. Ia segera membuka semua pakaiannya dan melemparnya ke keranjang tempat pakaian kotor. Setelah itu ia segera mengguyur seluruh badannya dengan air shower.


Setelah selesai dengan ritual mandinya, ia segera memakai handuk dan berjalan ke arah walk in klosetnya. ia langsung memakai setelan baju tidur berbentuk kimono berwarna biru gelap. Lalu ia keluar dari sana, Adri pun langsung mengeringkan rambutnya dengan hair dryer dan menyisir rambut panjangnya. Setelah semuanya selesai, ia langsung keluar dari kamarnya dan menuruni tangga, lalu ia segera berjalan kearah dapur untuk makan.


" Ganteng dari mana nya coba, wajah loe udah kaya Macan Tutul gitu masih di bilang ganteng. Lagian ya gantengan juga Abang-abang gue di bandingin elo " jawab Adri dengan nada ketus. Ia segera menggeser kursi di samping Radit dan mendudukan tubuhnya.


" Gak papa sekarang loe panggil gue kaya macan tutul, tapi lihat nanti kalo gue udah sembuh. Pasti gue bakal jadi Abang terganteng no satu milik loe Dri " ucap Radit dengan percaya diri.


" Terserah loe ajah lah, males denger bacotan loe " jawab Adri dengan ketus.


" Iiih, kok gitu sih dek. Gue kan tadi udah muji loe, masa gue malah di gitu in sih. Gak adil tau " Radit merajuk karena sikap adri yang terkesan cuek dan dingin kepadanya.


" Bi ayok kita makan bareng, aku udah laper nih " ucap Adri, ia berusaha untuk tidak menanggapi ucapan Radit yang merajuk padanya. Ia sudah pusing dengan kejadian tadi siang saat di sekolahnya, yang telah membuat dirinya kesal.


" Baik neng, sebentar ya, bibi ambil dulu sayur ya " ucap Bibi sambil mengangkat panci kecil dari atas kompor.


Setelah itu, semua orang yang ada disana makan dengan hidmat dan hanya suara denting sendok dan garpu yang terdengar. Sesekali Radit menatap kearah Bibi dan juga Adri, ia baru merasakan makan bersama dengan pembantunya. Namun saat melihat kearah Adri, ia merasa kagum. Disaat seorang gadis bergelimangan harta, Adri adalah gadis langka diantara spesies nya. Ia begitu ramah dan juga baik, bahkan tak Segan-segan makan di tempat lesehan pinggir jalan, ketimbang makan di kafe atau restoran mewah. Namun yang sangat disayangkan adalah sikap Rani yang kadang terlihat dingin dan cuek, walau terkadang ia akan berubah menjadi bersikap absurd dan Bar-bar Sewaktu-waktu.


Radit juga sudah mengetahui asal usul Adri dari bi Sumi, walau bukan perkara mudah untuk mendapatkannya, dengan perjanjian jika Radit tidak akan menceritakan apa yang bi Sumi katakan pada orang lain. Selain Radit, Dokter Max, Gang Skateboard ( Tessa, Malik dan Robi) dan Gang Bando (Rido dan Andi ). Mereka sudah mengetahui asal usul Adri sudah lama, apa lagi Gang Bando/ Gang motor. Mereka sudah dekat dengan Adri sejak ia masuk SMP, dan Adri sering terlibat balapan liar bersama mereka. Sedangkan untuk Gang Skateboard, mereka kenal dengan Adri saat mereka tawuran dan di penjara bersama. Adri sudah menganggap mereka keluarga atau kakak olehnya.


Akhirnya mereka sudah selesai makan malam nya, Bibi juga sudah membereskan meja makan dan juga dapur. Tak lupa Adri juga menyuruh Bibi untuk beristirahat setelah nya, karena Adri tahu jika Bibi mudah kelelahan, karena umurnya yang sudah menua. Sedangkan Adri dan Radit menuju ke ruang tengah untuk nonton film.


Saat sedang asik nonton, Tiba-tiba ponsel Adri bergetar menandakan pesan masuk. Setelah melihat ponselnya, ia segera naik ke kamarnya dengan wajah gelisah.


_________________________________________________


Hallo Kakak-kakak semua, jangan lupa ya kome ntar πŸ“ & like πŸ‘.


- Menurut para reader's, siapakah yang sudah mengirim pesan kepada Adri, dan kenapa Adri sangat gelisah saat melihat isi pesan tersebut?


Tunggu kelanjutannya ya kak.


See you next chapter πŸ˜˜πŸ‘‹