BAD???

BAD???
Sisi Lain Michel Aleskey



" Dia akan baik-baik saja, kau tenang lah. Apa kau sudah lupa bagaimana kehidupannya dan bagai mana cara ia bertahan dan berjuang sendiri. Kau memiliki adik, maksudku kita mempunyai seorang putri yang sangat kuat. Aku yakin dia mampu bertahan, kita berdoa saja kepada Tuhan agar dia di berikan keselamatan " Ucap Edi sambil merangkul Max dan memberikannya dukungan dan nasehat.


" Sebaiknya kalian semua pulang dan membersihkan badan serta luka-luka di tubuh kalian itu, biar aku dan dan istri ku yang menunggu disini " Ucap edi pada keempat pemuda di dekatnya.


" Aku akan menunggu disini, aku tak apa dan luka ini tidak sebanding dengan apa yang Adri rasakan saat ini. Kami memang bukan teman yang baik, dan kami tidak bisa menyelamatkan jo dan gagal menolong adri serta membuatnya merasakan kesakitan ini. Sekali lagi maafkan kami " Ucap Alif dan doni sambil menunduk.


" Tidak.. Kalian tidak bersalah, justru aku sangat berterima kasih karena kalian selalu ada untuk Adri dan itu sudah sangat cukup baginya " Ucap nia sambil mengusap kepala alif dan Doni.


" Terimakasih tante.. " Ucap mereka berdua.


" Baiklah, sebaiknya kalian pergi untuk membersihkan badan terlebih dahulu " Kata Edi mengingatkan mereka.


" Tidak, aku akan menunggu disini dan akan tetap disini. Aku tidak ingin pulang dan meninggalkannya lagi, sudah cukup dia kabur dan berakhir seperti ini lagi " Kata Max sambil memandang pintu ruang operasi dengan tatapan nanar.


" Baiklah, biar aku yang menyuruh pelayan rumah untuk membelikan pakaian serta makanan untuk kalian. Dan kalian semua sekarang pergilah terlebih dahulu untuk membersihkan tubuh dan luka di ruangan Max " Titah Edi.


" Baiklah.. Panggil kami jika ada sesuatu " Kata Garda sambil membantu Max untuk bangun dan mengikutinya keruangan kerja miliknya.


Sementara Edi langsung menghubungi pelayan rumahnya dan menyuruh membawakan pakaian anaknya dan untuk kedua temannya serta Max, tak lupa ia juga menyuruh membawa banyak makanan untuk mereka disana. Sementara Nia meminta izin untuk menghubungi Alfred kepada suaminya itu, karena ia merasa tak enak dan berharap kedua orang tua Adri akan pulang kembali ke Indonesia.


Setelah menunggu cukup lama, pelayan keluarga mahardika sudah sampai disana dan Edi langsung menyuruhnya untuk pergi ke ruang kerja milik Max setelah memberitahu jalannya. Tak lama kemudian, Candra datang dengan jalan yang gontay. Sebenarnya ia sudah sampai sedari tadi, cuman ia sangat ragu untuk menemui kerabat Adri. Namun karena rasa bersalah yang sangat besar, serta kebaikan Adri dan keluarganya. Candra memberanikan diri untuk menemui mereka.


" Hallo pak Handika, selamat pagi " Sapa Candra kepada edi dan istrinya.


" Selamat Pagi pak Candra, tumben pagi-pagi udah datang kesini. Apa ada kerabat dari pak Candra yang sedang di rawat disini? " Tanya balik Edi.


" Ah tidak.. Aku memang sengaja datang kesini, sebenarnya aku.. Sebenarnya aku ingin meminta maaf atas kejadian ini semua " Kata Candra dengan gugup dan sedih.


" Maksud dari pak Candra apa ya, saya tidak mengerti "ucap Edi dengan wajah kebingungan.


" Maksud ku... Maksud ku, aku ingin meminta maaf karena anaku nak Adri jadi seperti ini. Aku sangat bersalah dan berharap kalian memaafkan diriku, ini semua terjadi karena keluargaku. Sekali lagi maafkan aku.. Maafkan aku " Ucap Candra dengan wajah sendu dan beberapa kali menunduk.


" Kau, untuk apa kau datang kemari. Kau lihat apa yang telah kalian lakukan hah, adik ku saat ini sedang sekarat dan sedang berjuang antara hidup dan mati. Ini semua gara-gara mu pak Candra, kami sudah membantu keluarga mu dan apa yang kalian lakukan pada kami. Kau menghina dan menghujat serta mempermalukan adik ku di depan umum, dan karena ulah di masa lalu mu juga adiku menjadi korban. Apa kau puas sekarang hah... " Teriak Max dengan penuh amarah yang sudah ada di belakang Edi.


" Kau tidak tahu terimakasih, aku sudah berjuang untuk membantu anak mu itu. Dan kalian... Dasar ****** tak tahu Terima kasih" Maki Max dengan kasar.


Sementara Edi hanya bisa menenangkan Max yang sedang emosi, karena ia merasa tak enak dengan Candra yang sudah tak lagi muda dan malah di bentak-bentak seperti itu. Sedangkan Candra hanya bisa pasrah dengan apapun yang akan terjadi.


Max menjadi seperti itu, karena saat berada di ruang kerjanya untuk mengganti pakaian serta mengobati Garda, Alif dan Doni. Alif memberitahu Max, kalo kejadian saat Jo terluka dan kejadian saat ini itu dikarnakan masalah balas dendam kepada keluarga Batara. Alif sempat mendengar saat Galuh menceritakan kepada kedua orang tuanya saat di kantor polisi tadi.


" Maafkan aku Dok, aku tidak tahu jika hal ini terjadi karena urusan pribadi ku di masa lalu. Sungguh aku tidak pernah menduga akan berakhir seperti ini, aku minta maaf pada kalian semua. Apapun yang kalian minta, aku akan memberikannya " Kata Candra sambil berlutut di hadapan Max.


" Bahkan harta yang kau miliki tidak sebanding dengan nyawa serta pengorbanan adik ku itu " Jawab Max dengan remeh.


Dari arah berlawanan, nia datang sambil berbincang dengan seseorang di telponnya. Nia sangat kaget melihat Candra yang notabenya adalah seorang pengusaha terkaya kedua se-Indonesia itu berlutut di lantai. Ia kemudian berlari sambil terus berbincang dengan lawan telponnya.


" Nak, kakek mu ingin berbicara. Dia ingin mengatakan sesuatu kepadamu, ini bicaralah baik-baik " Kata Nia sambil menyerahkan ponsel dengan merek terkenal itu kepada Max.


Max yang sedang emosi pun malah bertambah emosi lagi setelah mendengar Nia menyebutkan kata kakek nya. Max terlihat menggenggam erat ponsel Nia dan rahangnya mengeras karena menahan amarah.


" Dasar kau John Alfred Aleskey sialan, kau kakek tua tidak berguna " Bentak Max dengan emosi sambil membanting ponsel yang ia pegang dinding rumh sakit dengan begitu kuat.


Seketika Nia berteriak kaget dengan apa yang barusan terjadi, begitu pun dengan yang lainnya. Mereka tidak menyangka jika Max akan berubah menjadi sangat marah seperti itu. Sedangkan Nia hanya menatap nanar ponsel keluaran terbaru yang baru seminggu ia beli, ponsel mewah yang malang itu kini sudah hancur tak berbentuk lagi.


๐Ÿ‡บ๐Ÿ‡ธโ€ฆ ๐Ÿ‡บ๐Ÿ‡ธโ€ฆ ๐Ÿ‡บ๐Ÿ‡ธ...


Sementara di Amerika, seorang kakek parubaya yang terlihat masih segar dengan otot kekar yang sangat bagus. Ia terlihat begitu gelisah dan beberapa kali menghela nafas beratnya, ia sudah menduga jika cucu besarnya itu pasti akan sangat marah besar terhadapnya. Saat itu waktu disana menunjukan pukul 17:30, Alfred langsung menghubungi anak buah nya untuk menyiapkan jet pribadi nya untuk berangkat menuju Indonesia sekarang juga.


Namun sebelum itu, dia akan pulang terlebih dahulu kemansion untuk menjemput dua orang lagi agar ikut bersama nya. Tak lupa ia juga mengabari anak dan juga menantunya yang ada di Eropa dan memberi tahu kabar yang baru saja ia dapat.


_________________________________________________


See you next chapter..