BAD???

BAD???
Hilang



" Kau berbicara seolah Adri tinggal di rumah kontrakan saja, rumah dia bahkan lebih besar di bandingkan rumah gue Ja " Ucap Alif kepada Arja.


" Aku hanya bertanya, bukan maksudku untuk menyinggung kalian. Jadi maafkan aku jika kalian tersinggung " Kata Arja.


" Kau bahkan lebih menyebalkan dibanding wajah datar adik loe itu, kalian kakak beradik yang sangat aneh " Celetuk Doni.


" Gue masih ada disini, kalian gak usah jelek-jelekin cewek gue anjirrr.. " Teriak Galih tak Terima.


" Lupa kalo si pacar si bos udah balik lagi, sorry gue cuman bercanda " Ucap Doni sambil cengengesan.


" Tapi emang si Adri itu paling nyebelin, ditambah wajah datarnya itu minta di unyel-unyelin. Hah membayangkan nya saja jadi geli *****.. " Ucap Sigit sambil bergidik.


Katrina dan Abimanyu hanya tersenyum melihat kedekatan antara anak-anak dan temannya itu. Mereka bahkan tidak jadi pergi karena perdebatan kecil antara mereka.


Tanpa mereka sadari, tangan Adri tiba-tiba bergerak. Kebetulan si Jo juga lagi melepaskan tangan Adri dan sedang bergabung dengan temannya. Gerakan tangan Adri semakin terlihat jelas, bahkan ia seperti sudah bisa mengepalkan tangannya itu. Dari sudut mata Adri, keluar cairan bening yang meluncur menuju pipinya. Ia seperti sadar dengan keadaan sekitarnya, dan terlihat sedang berjuang untuk segera menyadarkan dirinya.


Katrina kemudian lekas pergi dari sana, karena mereka hampir lupa dengan apa yang harus mereka siapkan tadi. Sedangkan Alfred juga ikut untuk pergi ke Mansion karena ia sangat lelah berjaga disana, sedangkan teman dan kakak Adri mereka akan pergi mengunjungi rumah Adri yang di ceritakan Max. Dan tak lama kemudian Max juga ijin pamit sebentar karena ada panggilan darurat dan hanya menyisakan Galih dan Adri disana.


Galih terlihat duduk di kursi sambil memainkan ponselnya, ia sedang melihat-lihat gambar Adri yang dikasih dari Galuh saudara kembarnya. Ternyata Galuh selama ini diam-diam mengambil gambar Adri di setiap momen yang pas. Namun karena dia tahu jika Galih sudah kembali, maka ia memberikan semua barang yang berhubungan dengan Adri kepada Galih. Karena ia tidak ingin menghancurkan dan membuat dirinya semakin merasa bersalah.


Tiba-tiba Galih terlihat menaruh ponselnya di atas nakas dan berlari kecil menuju toilet. Sedangkan Adri ia tinggal sendiri, karena semua orang pergi dengan urusan mereka masing-masing. Tak lama kemudian, Adri terlihat seperti membuka kelopak matanya secara perlahan. Ia terlihat beberapa kali mengerjap untuk mengatur intensitas cahaya yang diterima retina matanya.


Adri berusaha menggerakan badannya, namun ia malah merintih kesakitan dan seperti lemas tak berdaya. Hingga ia bisa mengangkat kedua tangannya walau itu perlu perjuangan yang cukup membuatnya kesakitan. Adri melepas alat bantu pernapasannya dan menghirup udara luar, ia mengedarkan pandangannya dan hanya bisa melihat alat bantu rumah sakit yang ada di samping tubuhnya itu. Adri bahkan tidak menemukan siapapun disana, Adri berpikir jika apa yang dia dengar hanyalah mimpi belaka yang selama ini ia alami, sama persis saat tawuran pada malam itu.


" Ternyata hanya mimpi saja, apa mereka semua baik-baik saja. Bagaimana keadaan kawan-kawanku, Galuh dan Samudra " Gumam Adri, karena ingatannya kembali di penuhi oleh kejadian di malam itu.


Sedangkan Galih, ia sedang menggerutu karena perutnya mengalami mules dan membuatnya harus meninggalkan Adri sendirian.


Setelah itu, Adri melepas semua alat yang menempel di tubuhnya mulai dari selang infus, alat pedeteksi jantung, dan juga alat bantu pernapasan. Adri mengambil botol air mineral yang ada di atas nakas dan meminumnya, setelah itu Adri mencoba untuk turun dari ranjang dan segera pergi dari sana. Beruntung luka yang ia derita sudah kering dan hanya tinggal menunggu sembuh, Adri juga mengambil ponsel yang ada diatas nakas dan berpikir jika ponsel itu miliknya.


Setelah berhasil berdiri dan sempat jatuh beberapa kali, karena kakinya masih lemas. Adri berjalan dengan sempoyongan keluar dari ruangan itu, beruntung nya disana sudah tidak ada lagi penjaga yang menjaga ruangan itu, hingga mempermudah Adri untuk lolos kabur dari sana.


Setelah perjuangan yang sangat berat dengan berjalan menuju ke luar dari rumah sakit, Adri kemudian menghentikan sebuah taksi dan pergi pulang menuju rumahnya. Ia juga merasa sangat lapar dan ingin segera menyantap makanan yang ada dirumahnya. Supir taksi itu juga awalnya sedikit ragu dengan Adri, karena melihat kondisi Adri yang pucat dan masih memakai pakaian pasien rumah sakit. Namun Adri memberikan alasan kalau dirinya habis memeriksakan tubuhnya disana, hingga supir taksi pun tidak salah paham.


Sementara di kamar VVIP rumah sakit itu, Galih terlihat masih memegang perutnya dan berjalan dengan lemas menuju sofa untuk merebahkan tubuhnya. Namun belum juga Galih memejamkan matanya, pendengarannya mendengar bunyi pendeteksi jantung yang terdengar aneh. Seketika Galih bangun karena teringat dengan Adri, dan langsung menghampiri brangkar Adri yang di tutup oleh tirai tebal.


Galih seketika terkejut melihat brangkar yang sudah kosong dan Adri sudah menghilang, saat ia hendak mengambil ponselnya, ia kembali terkejut karena ponselnya juga ikut menghilang. Lantas Galih segera menekan tombol darurat yang ada di dekat brangkar, agar Max datang dan ia bisa bertanya tentang apa yang ia lihat.


Galih terlihat begitu cemas dan terus saja menggerutu kepada dirinya sendiri, ia tidak menyangka jika dirinya lalai dan membuat Adri menghilang. Tak lama kemudian, Max, Hanzo dan beberapa perawat datang dengan wajah yang panik karena mendengar alarm darurat dari kamar Adri.


" Apa yang terjadi, kenapa alarm darurat berbunyi? " Tanya Max dengan begitu cemas sambil menatap Galih.


Karena pendengaran Hanzo sangat peka, ia langsung menghampiri brangkar yang tertutup tirai dan memastikan sendiri keadaan nya. Namun ia begitu terkejut dengan apa yang ia lihat, pendengarannya ternyata benar, karena ia mendengar alat pedeteksi jantung berbunyi karena sudah lepas dan Adri sudah tidak ada lagi disana dan hanya menyisakan alat medis yang sudah terlepas.


Para perawat juga langsung membantu membuka tirai penghalang itu, hingga brangkar kosong itu terpampang dengan begitu jelas disana. Max yang melihat itu sangat syok, kemudian ia menatap Galih dengan penuh tanda tanya dan emosi yang karena sang adik kesayangannya itu sudah hilang.


" Apa maksudnya ini, kemana adiku? Kenapa ranjangnya kosong? " Tanya Max dengan keras kepada Galih.


" Sungguh aku juga tidak tahu, aku tadi habis dari toilet karena mendadak perut ku sakit. Tapi setelah aku kembali aku mendengar monitor itu berbunyi sangat aneh, dan setelah aku lihat dia sudah menghilang " Jawab Galih dengan sedikit takut.


" Kau... " Bentak Max dengan kesal.