
Kini adri sudah berada di depan gerbang sekolah, banyak mobil mewah yang masuk kedalam sekolah. Adri tersenyum geli saat menyadari jika dirinya menjadi pusat perhatian semua orang yang ada disana.
" Ck.. ternyata gue lebih eksis dibandingkan artis ya, baru aja gue turun dari mobil udah jadi pusat perhatian " decak Adri sambil berjalan memasuki gerbang.
" Non Adri, Mbak pulang aja ya. Mbak merasa gak enak di liatin sama nyonya-nyonya kaya, mana Non Adri nyuruh Mbak pake daster lecek kaya gini lagi. Lebih baik Mbak nyuci mobil koleksi Non Adri aja deh dari pada ikutin rencana Non Adri ini" Suni terlihat memelas memohon pada Adri.
" Gak usah Mbak, lagian ini jadwal giliran Mbak buat jadi momy nya Adri. Sedangkan yang lain udah dapet gilirannya, entar Adri kasih bonus deh, terus Adri ajakin ke Mall ya. Jadi Mbak Suni sekarang Pura-pura aja ya, hadiahnya Mbak bisa belanja baju sepuasnya di Mall milik papi. Oke " bujuk Adri sambil senyum menyeringai puas.
" Huh.. Non Adri ini emang ya, padahal kebayakan anak orang kaya tuh pengennya pamer harta kekayaan orang tuanya. Lah ini, malah Susah-susah buat nyamar jadi orang miskin " gumam Suni dalam hatinya.
Flashback...
Adri baru saja sampai di Mansion nya, ia segera masuk dan membawa sebuah paper bag. Ia langsung duduk di ruang tengah setelah menemui kepala pelayan disana.
" Jadi siapa yang belum dapet giliran menjadi peran momy " tanya Adri langsung.
Di depan Adri sudah duduk semua pelayan yang ada di Mansion Adri, mereka sengaja Adri kumpulkan untuk menjalankan rencana nya kali ini.
" Non Adri disini yang belum dapet dl giliran hanya Mbak Suni aja, tapi kalo Non mau yang lain juga gak papa " jawab Nita sangat kepala pelayan di Mansion Adri.
" Baiklah biar Mbak Suni aja yang memainkan peran momy Adri kali ini. Dan untuk kostum nya Adri sudah siapkan, ini silahkan di pakai " Adri menyerahkan paper bag berisi pakaian kepada Suni.
Suni akhirnya menerima pemberian Adri dan Mbak Nita juga sudah membubarkan mereka untuk kembali bekerja. Adri pun berjalan kearah kamarnya untuk mengganti pakaian yang akan ia kenakan.
Setelah selesai Adri segera turun menuju ruang tengah kembali, ia melihat semua pelayan wanita sedang berkumpul melihat tampilan Suni. Adri menghampiri mereka yang sedang asik ketawa dengan penampilannya Suni, bahkan pelayan yang bekerja di rumah Adri pun tak pernah memakai pakaian sejelek itu. Karena hampir setiap bulan para pelayan yang kerja di Mansion keluarga Adri selalu mendapat pasilitas yang cukup baik dan loyal, termasuk untuk keluarga yang di tinggalkannya juga.
" Wah gimana rencana ku kali ini " tanya Adri dengan semangat.
" Non Adri memang selalu punya rencana nakal, bahkan yang kali ini terlihat sangat meyakinkan " jawab Nita dengan senyuman nya.
" Siapa dulu dong, Adri gitu loh " bangga Adri sambil ketawa.
" Andai saja nyonya dan tuan besar ada dan selalu memperhatikan Non Adri, mungkin Non Adri akan selalu tertawa bahagia seperti ini. Aku sangat salut terhadap Non Adri, walaupun ia tidak mendapat didikan sepenuhnya dari kedua orang tuanya dan ia sudah kaya dengan harta yang berlimpah. Tapi ia tetap baik serta sopan santun terhadap orang lain, semoga saja Non Adri selalu di berkahi dan bahagia " ucap Semua pelayan dalam hatinya.
Adri segera pamit kepada semua orang dan pergi ke sekolah, Suni hanya mengikuti Adri dan pasrah dengan apa yang akan di lakukan Adri nanti padanya. Mereka segera naik taksi yang sudah di pesan oleh Adri sebelumnya.
Back again...
" Eh kirain sekolah ini itu sekolah elit, kok ada murid yang miskin kayak gitu sih " cibir salah satu Ibu-ibu.
" Iya Jeng, mana gaya anak nya songong lagi. Liat tuh, dia bahkan tanpa malu berjalan melewati kita " ucap salah satunya lagi.
" Mungkin saja dia murid beasiswa Jeng, jadi dia bisa sekolah di sini " jawab Ibu-ibu satunya lagi.
Adri menyeringai puas dengan apa yang ia lakukan, sedangkan Suni terlihat kesal dengan ucapan dari Ibu-ibu tukang gosip tersebut. Ia terus saja mengikuti Adri tanpa bertanya pergi kemana. Sebelum tiba di dekat Kawan-kawan nya, Tiba-tiba Adri menghentikan langkahnya saat ia melihat seorang wanita yang tak asing lagi baginya. Wanita tersebut terlihat marah dan berkacak pinggang sedang menghadang Adri.
" Kamu ini sekarang tambah nakal ya, mana sekarang kamu jadi sombong lagi " sungut wanita tersebut, ia nampak kesal dengan sikap Adri yang tak melihat dirinya.
" Akh maaf kan saya nyonya, saya nakal apa ya. Saya tidak merasa kalo saya bikin ulah sama nyonya " jawab Adri sambil tersenyum namun ia segera memasang wajah memelas nya.
" Kamu yakin gak bikin ulah sama orang tua ini, kamu masih punya hutang sama kami. Jadi kamu harus melunasi hutang mu segera " marah wanita tersebut. Namun dalam hatinya ia tersenyum puas setelah melancarkan aksinya.
" Saya memang tak merasa punya hutang sama nyonya" jawab Adri dengan jujur.
Suni yang melihat adegan tersebut hanya kaget dan melongo. Setelah sadar, Suni segera melerai perdebatan mereka berdua. Karena suasana disana nampak ricuh akibat perdebatan kecil yang gak ada paedah nya tersebut.
" Nyonya besar, nak Adri tolong hentikan perdebatan kalian. Apa kalian tidak tahu jika disini suasana nya sudah ricuh " ucap Suni pelan.
Suni terlihat beberapa kali menghela nafas dari tadi, ia sangat tidak suka jika berada di lingkungan seperti saat ini. Karena ia tidak ingin mendengar celaan dari Orang-orang yang sok kaya, dan hanya meremehkan orang yang berpenampilan sederhana. ia juga sudah beberapa kali menghentikan perdebatan antara Nona mudanya dengan Nyonya dari keluarga Mahardika.
" Eh liat tuh, si anak songong itu buat masalah sama orang paling kaya. Dasar anak tak tahu diri " ucap seorang Ibu-ibu.
" Iya ternyata hanya kedok nya aja yang sok kepedean, ternyata aslinya dia tukang hutang " ucap temannya.
" Iya rasain tuh anak songong, lagian dia udah nyari Gara-gara sama nyonya dari keluarga Mahardika " ucap salah satu temannya lagi.
" Malu-malu in orang tua aja tu anak "
Semua Ibu-ibu yang datang ke acara rapat itu hanya menghina dan mencela Adri. Bahkan ibu Galuh dan ibunya Samudra juga mencela dan menghardik Adri, mereka bahkan sangat tidak menyukai Adri. Mereka mengira jika Adri berasal dari kasta yang rendah dan tidak sesuai dengan kasta mereka.
Semua murid juga nampak membincangkan Adri, begitu pun Gang nya Rosa yang menyeringai puas setelah mengetahui kondisi Adri yang mendapat hinaan dan celaan dari semua orang.