
Karena Adri juga ikut kepancing emosinya, ia juga ikut baku hantam dengan anak yang lain. Kini wajah Adri juga sudah di hiasi oleh lebam yang ia dapat dari anak Bakti.
" Persetan dengan persahabatan, sorry bukan gue yang mulai kali ini " umpat Adri dalam hatinya.
Bhukkk.. bhukkk.. bhukkk
Adri terus memukuli siswa Bakti dengan lincah dan kuat, walau sebenarnya dirinya dan juga Kawan-kawan nya kalah jumlah dengan anak SMA Bakti. Adri juga terlihat sangat kewalahan dan beberapa kali kena tendang dan tersungkur, tapi ia tetap bangkit dan melayangkan pukulannya kembali.
Beruntung luka nya berada di tangan kirinya, jadi ia lebih leluasa buat mukul lawannya. Beberapa anak Bakti ada yang mundur dan lebih mengalah, karena mereka sudah tak kuat lagi untuk bertarung. Kini hanya tersisa satu lawan satu, kecuali Adri yang masih meladeni dua orang.
Sigit dan Garda sudah tumbang karena memang mereka agak letoy dalam berkelahi, sedangkan Galuh dan Leksana masih setia meladeni bogeman lawan. Walau tubuh mereka sudah di penuhi memar. Sedangkan si Saputra juga sedang berkelahi dengan salah satu lawan mereka.
Brukhhh....
Adri berhasil mengalahkan kedua lawannya, mereka langsung jatuh tersungkur di depan Adri dengan wajah yang sudah penuh dengan lebam. Bahkan di beberapa sudut wajahnya juga terlihat darah yang sudah mengering, karena luka lecet dan juga dari tangan Adri yang sudah mengeluarkan darah karena tangan Adri juga lecet.
Karena Adri sedikit lelah, ia tidak terlalu pokus pada keadaan sekitar. Adri juga terlihat Ngos-ngosan seperti habis lari maraton, keringat yang mengucur deras membasahi seluruh badan Adri. Tanpa sadar di belakang dirinya salah satu anak Bakti dengan balok kayu yang ia pegang sudah siap untuk menghantam kepala Adri. Namun hal mengejutkan lain lah yang membuat semua orang kaget.
" Dri awas di belakang loe " mata Galuh terbelalak melihat tanda bahaya pada Adri, dengan spontan Galuh berteriak dengan keras pada Adri.
Mendengar Galuh berteriak menyebutkan nama dirinya, Adri segera menoleh kearah belakang. Matanya terbelalak melihat siswa Bakti yang sudah siap menghantamkan balok kearah kepalanya. Namun sedetik kemudian Adri menutup matanya, dan suara keras yang disusul luka di wajah Adri membuat yang empunya sedikit meringis dan darah segar mengalir dari dahi dan juga pipinya.
Brakkk.. suara hantaman benda keras yang di banting dan menghantam sesuatu.
" Adriiii.... " teriak keempat kawannya, mereka sangat syok dengan kejadian tersebut.
Adri langsung membuka sedikit demi sedikit matanya, ia mulai mengedarkan pandangannya untuk melihat apa yang sudah terjadi. Namun Adri sangat terkejut saat melihat Saputra yang sedang memegang botol beling yang sudah pecah. Lalu Adri pun melihat kebawah dan ia sangat terkejut melihat siswa yang hendak memukulnya tadi sudah terkapar dengan darah yang menggenang di aspal. Darah tersebut berasal dari kepala nya yang sudah di pukul oleh botol.
Adri melihat kearah Saputra yang masih memegang botol pecah dan ada darah di bagian botol yang runcing tersebut. Adri terlihat kebingungan dengan kondisinya yang masih kaget, ia melihat seringaian dan tatapan mata tajam dari Saputra.
" Huh.. huh.. huh.. tatapan itu.., lalu iris coklat mata itu.. dan seringaian itu.. Al... Aldi.. Aku tidak salah kan, kenapa dia sama seperti Aldi " ucapnya dalam hati, Adri bernafas dengan kasar, ia sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Bukan terkejut dengan siswa yang terkapar itu, tapi ia terkejut dengan ekspresi wajah dari Saputra.
Seluruh siswa SMA Bakti yang berkelahi tadi langsung mengerubingi siswa yang sudah terkapar bersimbah darah. Terlihat wajah kemarahan sekaligus dendam yang tersirat dari mereka. Adri masih diam mematung, ia sedang berfikir keras dengan beberapa bayangan yang sedang berkecamuk dalam pikiran nya.
" Ini tidak benar, kenapa malah menjadi seperti ini " guman Adri, ia merasa kan kehawatiran yang gak biasa, raut wajah yang melukiskan kecemasan dirinya sangat terlihat jelas. Biasanya dia akan santai dan tak mempermasalahkan hal seperti ini, namun sekarang ia merasa sangat berbeda.
Namun belum juga Adri menemukan jawaban dengan segudang pertanyaan dan juga pernyataan yang sedang bergelut dalam pikiran nya. Tangannya ditarik oleh Saputra, hingga lamunannya terpuyarkan dan ia segera berlari mengikuti kemana Saputra berlari. Keempat kawannya juga mengikuti Adri dari belakang untuk berlari.
Tanpa menghiraukan rasa sakit yang diderita nya, adri terus berlari bersama Teman-teman nya untuk menjauh. Kini mereka sudah berada jauh dari tempat kejadian tadi, Saputra juga sudah berhenti berlari dan terlihat Ngos-ngosan. Keempat temannya juga terlihat kecapean, karena mereka habis berantem tadi.
" Dri loe gak Kenapa-kenapa? " tanya Galuh dengan raut wajah khawatir. Lalu ia mendekat kearah Adri dan melihat nya dengan jelas, jika sang kekasihnya tidak terluka parah.
" Loe pulang sama gue ya, biar gue bawa loe ke puskesmas. wajah lu penuh luka, loe enggak merasa sakit, bahkan lukanya mengeluarkan banyak darah " Galuh berusaha mencegah kepergian Adri dan membujuknya untuk pulang bersama dirinya.
" gue tak apa oke, hal seperti ini sudah biasa bagi gue " Adri berusaha menolak ajakan Galuh dengan bersikap tenang. ia tahu jika Galuh sangat mengkhawatirkan dirinya.
" Tapi... "
" Gak usah di paksa Jo " Garda pun mulai berbicara.
" Heh buat loe, mulai besok loe gabung sama gue. Karena loe hutang banyak penjelasan sama gue, ingat gue gak suka sama orang yang berani bermain Macam-macam dengan gue " tunjuk Adri, ia berusaha memperingati dirinya jika berani bermain dengannya. Adri segera pergi dari dana dan meninggalkan kawan nya.
" Loe tenang aja Jo, dia bakal Baik-baik aja. Hal seperti ini sudah biasa bagi Adri yang selalu melakukan hal Bar-bar. Setidaknya mulai sekarang hidup gue bakal gak tenang Gara-gara tu bocah " Garda menepuk pundak Galuh, ia juga mengeluhkan apa yang selama ini ia hindari.
" Loe hutang penjelasan sama gue Cok, gue kira si Adri cuman nakal kaya bolos sama suka bikin onar sama guru doang " Galuh merasa semakin penasaran.
"Gue juga baru tau kalo Adri ternyata suka berantem dan berubah jadi beringas kaya tadi, gue sih masih ngerti kalo Adri suka gertak atau ngelabrak. Tapi yang tadi, dia bisa berubah kaya kesetanan Gara-gara kena tinju doang " ucap Leksana tak percaya.
" Iya gue semakin mengidolakan Buketu gue, dia sangat keren tadi pas ngehajar anak SMA Bakti " Sigit hanya tersenyum dan membayangkan perkelahian Adri.
" Nanti gue ceritain tentang sosok yang loe puja itu Git, dan kalian pasti gak bakalan percaya dengan semua cerita yang bakal gue kasih tau nanti " Garda segera berjalan pergi untuk pulang.
Mereka juga ikut menyusul Garda dan lekas pulang kerumah untuk mengobati luka di wajah serta badannya.
" Heh, ngapain gue malah ngebanggain si bocah sialan itu. Harusnya gue marah tadi, karena dia udah berani nyeret gue buat ikutan tauran lagi. Sialan loe anjinx " umpat Garda dalam hatinya. Ia sudah sadar dengan apa yang ia katakan tadi, karena selama ini dirinya sedang menghindari Adri dan enggan berurusan dengan sosok tersebut.
_________________________________________________
Holla Kakak-kakak sekalian gimana ceritanya, Jangan lupa untuk like, vote dan juga komen ya.
Apa yang Adri cemaskan tentang kejadian tadi..??
Menurut kalian siapa sosok Aldi yang Adri sebut..??
Lalu apa yang sebenarnya Saputra lakukan, dan siapa dia sebenarnya..??
Tunggu kelanjutannya ya kak
See next chapter ๐