
Adri, Alif dan Doni terlihat sudah semakin akrab seperti saat mereka di SMP dulu, mereka tertawa terbahak-bahak dan mengenang kelucuan mereka pada saat itu.
" Dri loe tau gak, kalo si alif di putusin sama pacarnya gara-gara dia pindah sekolah. Gila ya tuh cewek, cuman pindah doang langsung minta putus " Doni ketawa ngakak melihat ekspresi Alif yang sudah cemberut. Sedangkan Adri hanya tersenyum mendengar cerita Doni.
" Mungkin si Alif jelek Don, makanya ceweknya mutusin tuh anak " Timpal Adri.
" Loe juga sama, loe bahkan lebih parah dari gue. Cewek loe mutusin loe karena loe ketahuan ngerokok, lagian ya gue itu udah gak suka aja sama dia yang udah deket sama kakak kelas " Jawab Alif membela dirinya.
Tak lama kemudian, Sigit datang bersamaan dengan Garda yang mengikutinya di belakang. Dia terlihat gugup dan menundukan kepalanya kebawah, ia juga terlihat menenteng plastik berisi minuman dan Sigit yang membawa plastik cemilannya.
" Wah kayak nya seru nih, pada debat apa sih? " Tanya Sigit sambil mendekat ke arah mereka.
Adri langsung menoleh bersamaan dengan Doni dan Alif, Adri langsung menyuruh Sigit untuk segera duduk dan ikut bergabung.
" Oh ya, si Garda juga ingin ikut gabung Dri. Bolehkan, lagian tadi aku mampir ke kelas dan liat dia cuman duduk sendirian, sedangkan yang lain ikut ke lapangan buat melihat acara Sertijab nya kak Samudra " Jelas Sigit sambil menaruh plastik cemilannya di meja depan Adri.
Adri kemudian menatap Garda dan kebetulan mereka beradu pandangan, namun dengan cepat Garda kembali menundukan kepalanya kebawah.
" Sini duduklah, gak usah sungkan seperti itu. Kita bukan orang lain " Kata Adri sambil menggeser kursi di samping nya.
Akhirnya Garda langsung duduk di samping kiri Adri, ia kemudian menaruh plastik cemilannya di meja depan yang ada di hadapannya. Sedangkan Sigit duduk di samping kanan Adri, di sebelahnya ada Doni lalu Alif dekat Garda.
" Kenalin Git, mereka teman yang udah gue ceritain sama loe. Mereka Doni dan Alif teman gue dari SMP " Kata Adri sambil menunjuk mereka satu persatu.
" Gak usah sungkan sama gue, anggap gue seperti kalian menganggap Adri sebagai teman atau sodara " Kata Doni sambil menyalami Sigit dan Garda.
" Yoi Don, kalo kalian butuh bantuan. Kalian bisa panggil kita kapan pun " Kata Alif sambil menyalami Sigit dan Garda.
" Nih pesenan loe Dri, gue beli dua bungkus cukupkan buat kita " Sigit menaruh rokok nya di depan Adri.
" Cukup ini juga, lagian mereka mungkin masih puasa " Kata Adri sambil melihat Doni dan Alif secara bergantian.
Tanpa di sangka Doni langsung mengambil satu bungkus rokok dan langsung membukanya, setelah mengambil sebatang, ia menyerahkan bungkusan rokoknya pada Alif dan ia menerimanya dengan senang. Adri pun melakukan hal sama, ia membuka satu bungkus yang tersisa di hadapannya. Setelah mengambil dan menyalakannya, giliran Sigit yang mengambil dan langsung menyulut rokok itu. Disana yang tidak merokok hanyalah Garda, ia hanya memandang kearah Sigit dengan tatapan tak percaya. Karena setahunya, Sigit tidak pernah merokok bahkan memegang barang tersebut.
" Loe tau Dri, semenjak gue pindah. Gue ngalamin hal yang sama seperti loe, gue merasa kehilangan elo yang selalu bersama gue. Loe sangat berarti dalam hidup gue sebagai sahabat dan juga sodara, termasuk Galih yang sudah tenang di alam sana " Alif terlihat sedih dan kembali menghisap batang rokok nya.
" Gue juga benci anjink, cewek gue selingkuh sebelum gue pindah sekolah dulu. Saat itu gue gak sembunyi lagi pas mau ngerokok, dan sialnya dia malah yalah ini gue. Di balik itu, hal yang paling menyakitkan adalah perpecahan kita yang membuat kita terpisah dan saling menjauh. Mungkin sekarang Jo sangat bahagia, melihat kita kembali berkumpul " Kata Doni sambil menghembuskan asap rokok nya.
Doni dan Alif tersenyum sambil melihat kearah Adri yang nampak bahagia di wajahnya, sedangkan Garda hanya tersenyum bahagia mendengar percakapan hangat tersebut. Walau ia tidak mengerti apa yang mereka bicarakan dan siapa sosok yang sedang mereka ungkapkan itu.
" Loe mau Da? Loe harus cobain ini, sebagai lelaki loe harus coba yang kaya ginian. Biar kata orang loe gentleman " Tawar Alif pada Garda.
Garda kemudian menoleh kesamping dan melihat Adri yang tersenyum sambil menghembuskan asap rokoknya, lalu ia mengambil satu batang rokok dan menyalakannya.
" Terimakasih Lif " Kata Garda sambil tersenyum.
" Sama-sama " Jawabnya.
Garda sedikit Terbatuk-batuk saat pertama kali menghisap nya, ia masih belum terbiasa dengan asap rokok yang mengisi kupang Paru-paru nya. Namun setelah menghabiskan dua batang rokok, ia sudah terlihat lebih santai dan menikmatinya.
Adri tidak banyak merokok kali ini, ia langsung memakan cemilan sembari mengechat semua kawannya. Ia mengabari mereka untuk datang kerumah nya dan memberikan mereka alamat rumah Adri, ia juga memberitahu bebas untuk membawa orang terdekat mereka asal jangan anak di bawah umur.
" Oh ya, nanti malam kalian dateng kerumah gue. Nanti gue kasih alamat rumah gue di chat. Gue harap kalian semua bisa dateng, biar gue bisa kenalin sama yang lainnya juga " Kata Adri sambil memakan cemilannya.
" Emang ada acara apaan Dri, tumben ngundang segala " Tanya Sigit penasaran.
" Cuman pesta BBQ doang Git, lagian ini juga buat mempererat persahabatan kita " Jawab Adri santai.
" Oh, terus kalo ajak adek boleh gak? " Tanya Sigit lagi.
" Boleh, asal jangan anak di bawah umur aja. Gue gak ijinin " Kata Adri. Sigit pun hanya mengangguk tanda paham, namun ia masih bingung maksud dari ucapan Adri barusan.
" Emang BBQ harus di atas 17 tahun ya, kan cuman manggang daging sama sosis doang. kenapa gak boleh sama anak di bawah umur " batin Sigit heran.
" Gue minta No loe yang baru dong, no lama loe udah gak ada " Pinta Doni sambil di angguki oleh Alif.
Adri kemudian memberikan no ponselnya kepada kedua temannya, tak menunggu lama, kedua temannya itu langsung men chat Adri dan Adri langsung memberikan alamat rumahnya melalui aplikasi Whatsapp.
" Dri ke warung bi sumi yuk, laper nih gue. Lagian ini juga udah siang nih " Ajak Sigit.
" Yaudah, beresin dulu nih cemilannya. Loe bawa aja buat entar nyemil di sana " Kata Adri sambil bangkit.
Sigit dan Doni merapikan sisa bungkusan cemilan yang masih utuh dan memasukannya lagi kedalam plastik, sedangkan bungkusan kosong nya Sigit buang ke tong sampah yang ada disana. Setelah itu mereka bergegas pergi menuju warung bi Sumi.