
Sementara di ruang kepala sekolah, kini tiga guru tersebut sedang duduk di depan kepala sekolah.
" Ada hal apa yang mau bapak sampai kan pada kami? " tanya Iken dengan berani.
" Apa kalian tau kesalahan kalian sebagai guru " tanya Supyan pada mereka.
" Kesalahan kami yang mana pak, kami tidak merasa melakukan kesalahan " jawab Budi dengan polos dan nada sopan.
" Huh gak murid, gak guru sama saja tukang nge les. Kalo saja bocah berandal itu bukan anak pemilik sekolah ini, udah pasti aku langsung keluarin " ucap Supyan dalam hatinya.
" Kalian seharusnya memberikan contoh yang baik pada anak kalian, memberikan arahan serta perhatian yang benar dan baik. Lalu yang tadi saya lihat apa, kalian sebagai gurunya malah ikut bikin keributan dan membuat sekolah heboh hingga proses belajar mengajar juga terganggu. Karena tingkah kekonyolan kalian sekolah kita bisa di Cap sebagai sekolah dengan predikat buruk " jelas Supyan dengan tegas.
ketiga guru tersebut hanya menunduk dan diam setelah mendengar ucapan dari kepala sekolah. Mereka mengaku bersalah karena menyebabkan keributan atas tindakan mereka.
" Baiklah kalian boleh keluar sekarang " ucap Supyan.
" Baik Pak, terimakasih " jawab mereka serempak.
ππππππ
Kini Adri tengah berada di warnet tempat ia biasa membolos sekolah, Keempat temannya juga sedang bersama dirinya dan sedang bermain game online disana. Ia bahkan tidak pernah takut dengan ancaman yang di berikan oleh sekolah, dan untuk masalah bersama bu Selly kemarin. Adri di hukum dengan mengerjakan tugas yang dikasih bu Selly dengan sangat banyak. Namun hal itu adalah hal mudah bagi Adri.
" Eh bro, gue denger besok bakalan ada rapat orang tua. Kalian mau sekolah atau bolos " tanya Galuh pada keempat temannya.
" Kayaknya sih gue gak bisa bolos deh, soalnya gue pasti bakalan diajak bareng sama nyokap gue " jawab Garda sambil pokus bermain gamenya.
" Gue juga sama sih, lagian gue gak bisa bikin ulah kalo ada nyokap gue. Yang ada gue gak di kasih jatah jajan selama sebulan " jawab Sigit.
" Kalo loe Dri gimana? besok loe dateng sama siapa, nyokap atau bokap? " tanya Leksana pada Adri.
" Oh, gue dateng sama nyokap gue Cok. Kenapa emang, loe mau minang gue hah " tanya Adri membuat ketiga temannya ketawa. Namun Garda hanya diam tidak bersuara, ia sangat tahu jika kedua orang tua Adri tinggal di luar negri dan sudah lama tak kembali ke Indonesia.
" Bener juga tuh ide loe Dri, gue mau sekalian minta restu sama calon mertua gue " celetuk Galuh pada Adri.
" Hahaha emang keluarga loe bakal Terima, lagian ya, mana ada yang mau sama gue yang misquin dan berandal gini. Secara orang tua kalian itu orang kaya semua " Adri ketawa dengan keras, namun tak lama kemudian ia berhenti dan memasang wajah datarnya kembali.
Semua teman Adri tidak lagi menyaut perkataan dari nya, mereka langsung diam dan memilih pokus pada game yang sedang mereka mainkan. Adri sangat tahu jika mereka akan langsung bungkam dengan apa yang ia katakan, dia juga mengerti kasta lebih dominan diantara mereka yang lebih kaya. Namun Adri memahami hal tersebut dan masih lekat menjaga solidaritas pertemanan antar mereka.
" Gue mau keluar dulu, kalian tunggu sebentar disini. Gue gak lama " ucap Adri sambil pergi meninggalkan keempat temannya.
Kini Adri tengah berada di luar warnet tersebut, ia kemudian berjalan menuju pedagang sosis yang berada tak jauh dari sana. Adri merasa lapar karena ia memang tak sarapan sejak pagi, setelah sampai ia langsung memesan 10 sosis karena ia berniat membelikan untuk temannya sekalian.
" Ini dek, pesannya udah selesai semua " ucap abang penjualnya.
" Berapa bang jumlah semuanya " tanya Adri pada penjual nya.
" Semuanya 50 ribu dek " ucap penjual nya.
" Ini bang, makasih ya " Adri memberikan selembar uang 50 ribu pada penjual nya dan segera mengambil bungkusan pesanan milik nya.
Namun saat hendak pergi dari sana, Adri melihat segerombolan anak SMA Bakti sedang mengerumuni seorang siswa. Adri melihat dengan teliti, ia menyimpulkan bahwa mereka sedang membuli siswa tersebut. Namun sedetik kemudian, kedua matanya menjadi sangat tajam dan memperhatikan siswa yang sedang di bully tersebut.
" Hah itu kan si Saputra mata empat Antek-antek nya Si Albert Einstein, ngapain dia berurusan sama anak SMA Bakti. Gak puas apa di sekolah sering di bully sama kakak kelas " gumam Adri saat melihat teman satu angkatannya berada dalam kerumunan anak SMA Bakti.
Adri pun segera menyebrang jalan dan berniat untuk menghampiri gerombolan tersebut, ia berpikir jika dirinya akan mencoba berkenalan dengan mereka.
Tak lama kemudian Adri sudah sampai di tempat kerumunan tersebut, ia dengan santai mendekat dan menyapa mereka.
" Hai kak, boleh kenalan gak. Oh ya dia kawan satu sekolah sama gue, Btw ada apa ya? kok kakak ngerubungi kawan gue ini " ucap Adri dengan santai dan ekspresi Datar nya.
" Wah ada kawan nya dateng nyelamatin ni kunyuk, Bawa apa dek? kayaknya enak tuh. Boleh dibagi dong " ucap salah satu siswa SMA Bakti.
" Enak aja main bagi, beli sendiri. Lagian ya gue itu bukan Bansos yang selalu ngasih bantuan, dasar gak tau malu. Kerja nya cuman bisa malakin orang aja " jawab Adri dengan ketus.
" Sialan loe, Berani-beraninya loe ngatain gue. Dasar cewek sialan " marah siswa tersebut.
" Tangkap nih bocah sialan, jangan biarin dia lolos dengan mudah " perintah siswa tersebut pada temannya.
Melihat mereka akan bergerak menuju dirinya, Adri segera menendang siswa yang ngebacod tadi hingga ia terjatuh. Kemudian Adri segera menarik tangan Saputra untuk berlari menghindari kemarahan mereka.
" AnjinX sialan loe ya, loe udah berani nendang gue. Kalian ngapain malah bengong liatin gue, loe pada **** atau apa hah. Tangkap mereka jangan sampai mereka lepas " teriak siswa tersebut dengan gurat kemarahan yang terlihat jelas di wajahnya. Ia sangat marah karena sudah direndahkan oleh seorang siswi dan bahkan mempermalukan dirinya.
Kini Adri dan Saputra terus saja berlari menuju sebuah jalan di gang yang cukup sepi, Adri mencoba berhenti sejenak dan menghubungi keempat kawannya.
" Tunggu sebentar, gue mau panggil Gang Kucluk trulala dulu. Loe awasin sekitar, takutnya mereka udah sampai di dekat kita " ucap Adri sambil Ngos-ngosan.
" I.. iya, m.. m.. makasih ya u.. udah nolongin aku " jawab Saputra gugup.
Adri tidak mendengarkan perkataan dari Saputra, ia lebih pokus untuk menghubungi temannya dan memberitahukan pada mereka jika ia sedang di kejar anak SMA Bakti.
Tut.. tut.. tut..
" Hallo Ji "
" Ngapain loe telpon gue sih, perasaan loe baru keluar juga " dengus Sigit.
" Ckk eh Aji kamprett loe Bawa tiga cunguks ke jalan gang deket warnet ya, gue lagi di kejar sama anak SMA Bakti " ucap Adri dengan suara kerasnya.
" Hah loe habis ngapain sih Buketu, sampe di kejar sama anak SMA Bakti " teriak Sigit dengan keras, ia lupa jika disana juga ada anak SMA Bakti yang sedang main game.
" Ya udah gue tutup dulu, kalian dateng cepetan terus loe gak usah banyak bacod " ucap Adri lalu mematikan sambungan telponnya.
Sementara di warnet tempat Sigit, Ketiga temannya langsung panik karena Sigit berteriak dan menyebut SMA Bakti. Galuh yang mendengar teriakan Sigit dan menyebut Adri segera menghentikan permainannya. Ia juga memberi kode pada Garda dan Leksana untuk segera meninggalkan warnet tersebut. Apalagi disana juga ada anak SMA Bakti juga yang sedang membolos.
" Ups, sial gue lupa kalo gue lagi di warnet. Hadeh mana banyak Anak Bakti lagi " Sigit hanya pasrah dengan apa yang telah ia lakukan.
" Cok, Ji cepet kita pergi keluar, kayaknya disini banyak aura negatif deh " Bisik Galuh pada ketiga temannya.
" AnjinX ya si Adri itu, gak bisa apa gak bikin ulah sehari aja. Perasaan kemaren ia udah bikin onar sama bu Selly, sekarang apa lagi " umpat Garda, ia merasa kesal.