
" Jo.... " Ucap Adri sambil menangis.
" Iya aku disini, aku sudah menepati janjiku untuk selalu ada di samping mu bukan. Jangan menangis seperti ini, kau terlihat aneh kalau menangis " Ucap Galih sambil menyeka air mata Adri.
Galih lantas duduk di kursi yang ada di depan Adri, hingga posisi mereka sejajar. Lalu Galih menarik kursi roda Adri hingga jaraknya lebih dekat lagi dengannya.
" Apa kabar sayang, aku sangat merindukan mu dan sangat-sangat merindukan mu " Ucap Galih sama Adri.
" Apa kau benar-benar Jo, dan bukan ilusi yang selama ini datang dalam mimpi ku " Tanya Adri dengan sedih.
Seketika Galih tersenyum mendengar perkataan Adri, ia merasa senang karena Adri tidak melupakan dirinya selama ini.
" Kau lihat ini, ini adalah salam sambutan pertemuan untuk pertama kali nya dari mu. Bukankah ini bukti jika aku bukan ilusi, jika kau tak percaya, kau boleh memukul ku lagi. Asal jangan membuat mu terluka " Ucap Galih sambil tersenyum memperlihatkan luka lebam kebiruan di perutnya yang sixpack.
" Maafkan aku, aku kira kau hanya ilusi. Apa itu sangat sakit, maafkan aku Jo. Aku tak bermaksud menyakiti mu " Ucap Adri.
" Hey, aku tak apa oke. Kau jangan menangis lagi, kenapa sekarang kau menjadi sangat cengeng dan mirip seperti bayi " Ledek Galih sama Adri. Ia memegang kedua pipi Adri dan mengusap air mata yang masih menetes.
" Kenapa kau meninggalkan aku sendiri Jo, mereka jahat dan selalu menuduhku yang telah membunuhmu. Sejak kejadian itu, mereka pergi dan tak lagi peduli padaku. Kenapa Tuhan tidak adil padaku Jo " Keluh Adri sambil memeluk Jo dengan erat.
" Aku tidak akan pergi lagi dan meninggalkan mu sendirian lagi, maafkan aku karena membuatmu berada dalam situasi itu. Maafkan aku sayang, aku benar-benar minta maaf " Ucap Galih sambil memeluk lembut tubuh Adri.
Galih yang merasakan jika tubuh Adri mulai mendingin dan bergetar, lantai ia melepaskan pelukannya segera membuka jaket tebalnya, lalu memasangkannya pada Adri agar ia tidak kedinginan.
" Kenapa kau melepas jaket mu Jo, kau pasti kedinginan " Kata Adri heran.
" Aku tidak ingin melihat mu kembali sakit dan terbaring lemah, sudah cukup aku menunggu dirimu yang tak kunjung bangun. Mulai saat ini kau harus menuruti perintah ku lagi, dan jangan membantah apa yang aku katakan. Karena aku sangat mencintai mu dan sangatlah merindukan gadis nakal ku ini " Ucap Galih sambil kembali memeluk Adri dengan lembut. Tak lupa ia memberikan ciuman di kening dan juga puncak kepala Adri.
" Apa meluknya sudah puas, sebaiknya kita kembali sebelum bang Max kembali memarahi ku lagi seperti tadi siang. Jika masih kangen masih ada waktu esok, jadi kamu bisa meluk aku sepuasnya oke " Ucap Galih sambil tersenyum geli.
Adri kemudian melepaskan pelukannya, ia terlihat kesal setelah mendengar perkataan dari Galih barusan.
" Bagaimana kau bisa tahu kalo aku disini Jo " Tanya Adri penasaran.
" Aku tadi bangun saat kau memainkan rambutku, dan mengikuti kalian sampai disini " Jawab Galih dengan singkat. Adri kembali terdiam dan tak berkata apapun lagi.
" Jo, ada yang perlu aku sampaikan sama kamu. Mendekatlah " Ucap Adri dengan wajah seperti menahan tawa.
" Terima kasih buat selimut dan jaket nya " Bisik Adri, lalu langsung mencium Galih di ujung bibirnya dengan cepat.
" Yang, kau semakin nakal ya. Udah berani kaya gituan, padahal dulu juteknya minta ampun " Ucap Galih menjahili Adri.
" Ayok kita balik, gue udah dingin kelamaan di luar " Kilah Adri dengan memasang wajah datarnya lagi. Padahal dalam hatinya ia sedang berbunga-bunga dan berusaha menyembunyikan rasa malunya itu.
" Cie yang sedang malu, tapi di sembunyiin. Sok pake wajah datar lagi " Goda Galih sambil mencubit pipi Adri dengan gemas.
" Jo, gue serius tau. Dan gak usah lebay deh, pake sayang-sayangan segala." Ucap Adri dengan kesal.
" Iya Adri ku tersayang, kita balik sekarang " Jawab Galih sambil bangkit dan mencium bibir Adri dengan cepat. Lalu Galih segera berjalan kebelakang kursi roda untuk membawa Adri masuk, dan menyembunyikan pipinya yang sudah merona.
Adri juga sangat terkejut dengan tindakan Galih barusan, ia sangat malu sama blushing dan tersenyum karena hal itu. Mereka hanya terdiam di sepanjang perjalanan tanpa ada yang berbicara sedikitpun.
Sesampai di kamar, yang lainnya sudah menunggu dan terbangun karena menyadari Adri kembali hilang dari sana. Namun suster yang membantu Adri menjelaskan jika Adri sedang ada ditaman, untuk menenangkan pikiranya. Saat Adri dan Galih memasuki ruangan itu, terlihat Max yang sudah berdiri menghadap kearahnya dengan tangan yng di lipat didada nya. Ia terlihat begitu marah dan menatap kesal kearah Galih dengan tajam.
" Habis dari mana kalian, dan kau Jo. Bukankah loe tau kalo adek gue lagi sakit, kenapa loe malah bawa dia keluyuran malam-malam gini hah " Bentak Max dengan keras.
" Ini bukan salah Jo, gue sendiri yang minta sama Mbak suster buat nganterin aku ke taman. Gue hanya ingin menenangkan diri gue dulu, jadi bang Max gak usah khawatir " Ucap Adri dengan wajah datarnya.
" Kenapa tidak membangunkan ku saja, aku bisa mengantarmu dan menemani mu tadi. Bagaimana kalo terjadi sesuatu lagi " Ucap Max dengan lembut sambil mendekati Adri.
" Aku baik-baik saja, dan aku ingin istirahat sekarang. Makasih Jo sudah membantu ku. Mbak bisa kah kamu membantu ku untuk naik ke ranjang ini " Kata Adri.
Max hanya bisa pasrah melihat sikap Adri yang dingin kepadanya, tapi Max tidak menyerah. Ia memberi kode kepada suster untuk tidak melakukan perintah Adri, dan menggantikan dirinya untuk melakukan yang diminta Adri tadi. Max lantas memangku Adri dari kursi roda dan meletakan nya di atas brangkar, begitupun dengan kantong infus yang kembali di gantung di tiang penyangganya.
" Apa kau sudah merasa baikan, bagaimana dengan punggung mu. Apa kau tidak merasa sakit atau keluhan yang lainnya " Tanya Max kepada Adri.
" Aku tidak merasakan apapun, Terima kasih bang dan aku minta maaf karena sudah merepotkan mu selama ini " Kata Adri sambil memunggungi Max.
" Tak apa, kau adik ku dan kau selalu menjadi adik kesayangan ku. Aku sangat senang kalau kau datang kepadaku, dan aku sangat merindukan sikap manja mu yang dulu. Cepatlah sembuh agar kita bisa berkumpul kembali " Ucap Max sambil mencium kepala Adri. Lalu ia beranjak dari sana dan membiarkan Adri untuk menenangkan dirinya dan beristirahat.
_________________________________________________
Jangan lupa ya ๐, koment dan vote..