
Sementara di kantor polisi, semua orang yang terlibat dalam tawuran itu sedang didata dan polisi menghubungi orang tua mereka masing-masing. Karena hampir sebagian dari mereka kebanyakan masih anak sekolah, dan sebagian lagi sudah tidak sekolah. Untuk korban yang mengalami luka parah pihak polisi membawa mereka ke rumah sakit untuk di rujuk dan segera menerima penanganan medis.
Terlihat beberapa orang tua dari mereka datang kesana dengan ekpresi yang berbeda-beda, ada yang terlihat marah, kesal, sedih, dan juga khawatir. Nia dan Edi juga sampai disana, mereka langsung menemui Garda dan berbicara dengannya. Mereka sangat terkejut saat memasuki kantor polisi yang sudah di penuhi oleh anak pemuda yang berpenampilan mengerikan dan seluruh tubuh yang di penuhi lumpur dan juga noda darah.
" Apa yang sudah kamu lakukan Garda, kamu bilang ijin untuk pergi kerumah nya adik kamu. Kenapa malah tawuran dan berurusan dengan polisi " Ucap Edi sambil menahan amarah nya.
" Pah tenang lah dulu, anak kita pasti tidak melakukan hal itu dengan sengaja. Pasti dia punya alasan nya sendiri pah " Kata Nia mencoba untuk menenangkan suaminya.
" Nak, kamu baik-baik saja kan. Kenapa kamu ikut tawuran dengan menyebut jika Adri sakit " Tanya Nia dengan lembut.
" Aku tidak apa-apa Mi, tapi.... " Kata Garda sambil terbata-bata dan seketika ia bungkam tak dapat lagi berkata, ia menunduk karena tak bisa menatap wajah kedua orang tuanya. Seketika tubuh Garda bergetar dan tangan Garda mengusap air matanya yang sudah menetes.
Melihat tingkah Garda yang aneh, seketika Nia bangkit dan berjalan menghampiri Garda lalu memeluknya. Nia tahu jika Garda sedang tidak baik-baik saja dan ia baru sadar jika Garda sedang merasa tertekan dan sedang menangis.
" Apa semuanya baik-baik saja, jangan khawatir Mami akan selalu ada bersama mu " Ucap Nia sambil mencium kepala Garda.
" Maafkan aku, aku tidak bisa menjaga nya dengan baik. Aku memang bukan sodara yang baik dan malah membiarkan dirinya terluka " Ucap Garda lirih.
Edi yang merasakan ada yang tidak beres dengan anaknya, ia merasakan pirasat buruk yang terjadi saat itu. Ia mencoba menenangkan Garda dan menanyakan apa yang telah terjadi.
" Tenangkanlah diri mu, apa kau tidak malu dengan umur mu yang sudah dewasa. Kau sangatlah cengeng, kau sebaiknya belajar dari sodari mu dan belajarlah untuk menjadi kuat dan lebih dewasa " Ucap Edi sambil menepuk pundak Garda.
" Dia tertembak.. Adri terluka karena tertembak saat berkelahi tadi, aku dan yang lain telat untuk menghentikannya dan sekarang dia terluka parah. Ini semua salah ku, maafkan aku Pah " Ucap Garda.
Brughh... Nia tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri di atas lantai, Edi pun sangat syok mendengar perkataan Garda. Edi pun langsung mengamripi sang istri begitupun dengan Garda yang sedang memangku kepala sang ibu.
Karena ia tak ingin berlama-lama disana dengan perasaan yang sedang tak karuan setelah mendengar perkataan anak nya barusan. Ia kemudian menebus anaknya itu kepada pihak kepolisian, Garda juga menyerahkan bukti jika dirinya hanya ingin menolong Adri bukan sengaja ingin melakukan tawuran. Namun melihat alif dan Doni yang tak kunjung datang orang tuanya, Garda meminta ayahnya untuk menebus mereka berdua dan segera pergi dari sana.
Edi dan Garda membawa Nia dan memasukannya kedalam mobil yang Garda bawa, karena Edi dan Nia datang bersama supir tadi. Sedangkan Garda akan membawa mobil Adri, begitu pun dengan Doni dan alif yang akan ikut kerumah sakit.
Sedangkan untuk Sigit, dirinya di bawa pulang oleh kedua orang tuanya. Dan untuk Radit, ia juga memilih untuk pergi dulu mengantarkan ibunya yang sudah syok dan histeris setelah mendengar penjelasan dari nya. Keluarga Samudra terlihat begitu khawatir dengan anak nya dan lekas membawa pulang anak nya itu. Sedangkan Galuh, Candra sangat syok dengan penjelasan dari anaknya itu. Begitupun Hanna yang sangat khawatir melihat kondisi Galuh yang babak belur.
Candra tidak berkata sepatah kata pun, ia hanya diam mematung setelah mendengarkan cerita dari anaknya itu. Hingga Galuh menyadarkan Candra karena semenjak ia menceritakan kejadian tadi, Candra terlihat seperti orang yang tanpa memiliki jiwa. Wajahnya sudah jelas menyiratkan kesedihan yang begitu dalam dan juga kekecewaan.
" Pah, aku sangat menyesal dan sudah salah tentang dia. Ternyata yang sudah memukul Galih adalah anak dari keluarga Handika. Mereka melakukan itu untuk membalas dendam kepada keluarga kita, mereka menyebutkan jika perusahaan papa sudah merebut saham dan membuat perusahaan mereka bangkrut hingga tuan dan nyonya Handika bunuh diri. Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang pah " Ucap Garda sama Candra.
Candra terlihat lemas setelah mendengar kebenaran yang ternyata dirinyalah yang menyebabkan kejadian mengerikan ini. Candra langsung bangkit bangun dan menyelesaikan permasalahannya dengan polisi, setelah urusan nya selesai. Candra lalu bergegas pergi meninggalkan anak dan istrinya, ia tidak mengatakan apapun hingga membuat Hanna dan Garda merasa ada hal aneh dengan nya.Candra lalu pergi dengan menggunakan taksi menuju rumah sakit.
π β π β π β
Sementara di rumah sakit, Max terlihat begitu memprihatinkan. Pakaian yang sudah kotor dengan noda darah dan lumpur, lalu rambut yang sangat berantakan di tambah mata yang sembab dan berkantung karena tak henti menangisi Adri. Dia masih duduk di lantai depan pintu ruang operasi, padahal tak jauh dari tempat nya duduk, terdapat kursi untuk duduk menunggu. Tapi Max lebih memilih duduk disana sambil menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya yang di tekuk.
Suster dan beberapa rekan dokternya juga sudah mencoba membujuk Max untuk membersihkan dirinya dan beristirahat. Tapi tak satu pun dari mereka yang berhasil membujuknya, dan berakhir dengan bentakan keras dari Max karena ia merasa terganggu.
Dari kejauhan, rombongan keluarga Garda dan juga alif beserta Doni sudah sampai disana, mereka bertanya kepada resepsionis rumah sakit dan di tunjukan ke arah ruangan operasi.
" Max, bagai mana keadaan nya apa dia baik-baik saja. Aku minta maaf karena telah gagal dalam menjaga nya, padahal dia sudah aku anggap sebagai putri kandung ku sendiri " Ucap Nia yang menangis tersedu-sedu. Nia Sadar ketika dalam perjalanan menuju rumah sakit, dan sejak saat itu pula dia terus menangis histeris sambil memanggil-manggil nama Adri.
" Aku tidak tahu Tan, aku sangat takut saat ini. Aku takut kehilangan saudari satu-satunya dan adik kesayangan ku, aku takut dia pergi meninggalkan ku " Ucap Max dengan begitu menyahat hati.
_________________________________________________
Sampai jumpa besok lagi... see you again..