BAD???

BAD???
Mimpi Buruk



Ketiga teman Samudra juga pergi dari sana untuk menyusul nya. Sedangkan Adri dan Garda masih menunggu Sigit yang sedang mencoba mobil sport milik Adri. Tak disangka, ternyata Doni dan Alif sudah datang dan menghampiri Adri.


" Wih, tumben loe udah stay disini. Biasanya juga paling terakhiran " Ucap Alif sambil ketawa.


" Loe pada ngapain diam sini sih, kerja sampingan ya jadi tukang parkir " Kata Doni bercanda.


" Cih.. Gue disini lagi nungguin si Sigit " Jawab Garda dengan kesal. Karena Sigit sudah lumayan lama keluar menggunakan mobil nya Adri.


" Lah emang si Sigit kenapa, bukannya mobilnya udah ada ya " Tanya Alif penasaran.


" Dia lagi cobain mobil gue, tapi udah dari tadi gak muncul juga, apa terjadi sesuatu ya sama si Sigit " Kata Adri cemas.


" Oh.. Kirain apaan " Jawab Alif santai.


Tak lama kemudian, mobil Adri datang memasuki gerbang sekolah dan berjalan menghampiri Adri. Sigit terlihat begitu bahagia dengan senyuman tak pernah pudar di kedua bibirnya. Impiannya menaiki mobil sport mewah itu kini sudah terwujud dan itu semua berkat kebaikan Adri.


" Thank's ya Dri, gue bahagia banget hari ini, berkat loe gue bisa nyobain pakai mobil sport impian gue. Sekali lagi gue ucapain Terima kasih " Kata Sigit dengan tatapan bahagia dan segera turun dari mobil untuk memeluk Adri.


" Loe mau ngapain, maen nyosor aja loe " Kata Garda sambil menarik kerah baju bagian belakang milik Sigit.


" Gue mau ngucapin Terima kasih dan sama ngasih pelukan sama Adri " Kata Sigit dengan santai.


" Gak boleh " Kata Garda dengan posesif.


" Ck... Dasar.. " Gerutu Sigit.


" Sudah, gue mau pergi ke depan gudang. Sini kunci mobilnya git " Kata Adri melerai perdebatan mereka, ia juga meminta kembali kunci mobilnya.


Setelah Adri menutup bagian atas mobilnya dan memastikan mobilnya terkunci dengan aman. Ia kemudian meninggalkan temannya dan berjalan kearah belakang sekolah, ia tidak menghiraukan orang yang ia lewati yang sedang bergosip ria mengenai dirinya.


Sesampai disana, Adri mendudukan kembali tubuhnya di kursi dan menaikan kaki nya di meja lalu ia menyenderkan lehernya di sandaran kursi. Adri terlihat sedang memikirkan sesuatu, sudah sejak lama dirinya merasakan pirasat aneh. Dan akhir-akhir ini dirinya sering bermimpi bertemu kembali dengan Galih, bahkan itu terasa nyata seperti di dunia nya saat ini.


Tak berselang lama kemudian, teman Adri datang dan membuat gaduh hingga Adri menghentikan perbuatan mereka yang mengganggunya.


" Bisa diam gak sih, kalo mau berisik cari tempat lain aja, gak usah gabung disini " Bentak Adri dengan kesal.


" Sorry.. " Kata mereka bersamaan.


" Loe kenapa sih dek, perasaan gak angin gak ada badai petir. Tapi loe langsung berubah kaya gini " Kata Garda penasaran.


" Loe kalo punya masalah cerita sama kita, loe gak sendiri Adri. Ada kita yang selalu ada untuk loe " Ucap Alif pada Adri.


Adri menghela nafasnya dan sedang berpikir sesuatu, hingga dirinya memutuskan untuk mengunjungi tempat biasa dan bergegas pergi dari sana. Adri kemudian bangkit dari kursi dan mengeluarkan dua bungkus rokok dan menaruhnya di meja, ia juga menyisakan satu bungkus di saku jaketnya.


" Buat kalian, gue pergi dulu ada urusan. Kalo ada apa-apa kalian hubungi aja, gue balik lagi nanti " Ucap Adri sebelum pergi meninggalkan tempat itu.


Semua temannya memandang heran kearah Adri yang sudah pergi dari sana, mereka sangat aneh dengan perubahan sikap yang secara tiba-tiba. Sedangkan Adri berusaha membuang semua rasa dan juga pemikiran yang selalu mengganggunya sejak semalam.


Sebenarnya Adri semalam bermimpi buruk tentang penyerangan di sekolahnya, Adri, beserta teman-teman nya dan juga siswa lain berusaha menghentikan penyerangan tersebut. Namun karena pihak penyerang sudah merusak beberapa properti sekolahan Adri dan mereka juga membawa senjata tajam maupun tumpul, membuat Adri tak bisa mundur dan tawuran pun berlangsung cukup beresiko dan begitu sengit.


Banyak siswa teman Adri yang terluka dan babak belur akibat musuh, sedangkan Adri yang hanya memakai senjata pipa besi sebesar genggaman tangannya dan panjang harus melawan seseorang dengan senjata samurai. Adri tidak bisa melihat dengan jelas wajah semua orang, ia hanya bisa mengenal suara temannya itu pun gak jelas juga. Intinya di mimpi itu, Adri tidak bisa melihat wajah semua orang karena ngeblur, bahkan teman yang berada di pihak nya pun sama.


Karena terlalu banyak yang menyerang kearah Adri, ia sedikit kewalahan dan pokus nya terpecah. Hingga tanpa ia sadari, seseorang sudah menghunuskan senjatanya di belakang punggung Adri. Ia pun seketika jatuh dan meringis kesakitan akibat luka sabetan yang sudah mengoyak punggung nya. Namun tak lama kemudian, Adri melihat seseorang yang hendak menodongkan senjata api nya kearah salah satu siswa, dan sialnya Adri dapat melihat siapa siswa tersebut. Dengan kekuatan yang tersisa dan darah yang mengucur deras di punggungnya, Adri bangkit dan mencoba menggagalkan tembakan itu.


Dan Dorrr.... Suara tembakan itu membuat semua berhenti dengan lepasnya timah panas dari selongsong senjata itu. Namun sayang, timah panas itu tepat mengenai dada kiri Adri, hingga ia jatuh bersimbah darah. Siswa yang adri tolong itu terlihat menangis dan memangku kepala Adri di paha nya, dia terlihat seperti Galuh.


" Maafkan aku.... " Kata siswa yang terlihat seperti Galuh dengan lirih...


" Setidaknya tugas ku sudah selesai dan permintaan dari dia sudah aku penuhi. Aku merasa sangat tenang karena bisa bersama dengannya kembali " Ucap Adri sambil tersengal-sengal hingga ia merasakan sakit yang teramat dan penglihatannya menjadi gelap.


Sepanjang jalan koridor, Adri nampak melamun dan beberapa kali harus bersenggolan dengan beberapa murid namun Adri tidak menghiraukan hal itu. Tak lama kemudian langkahnya kembali terhenti terhenti ketika di ujung koridor ia melihat dua orang yang tak asing lagi bagi Adri. Ia kembali di pertemukan dengan kedua orang tua Galih, Adri nampak begitu santai dengan wajah datarnya.


Namun di balik itu, ia merasa begitu kecewa dan marah terhadap ibu dari Galih. Setelah apa yang ia lakukan pada Adri ketika di rumah sakit saat mengantarkan Galih yang sedang terluka parah. Ia malah mencaci-maki bahkan menamparnya habis-habisan lalu mengusirnya bagai gelandangan. Adri terlihat mengepalkan kedua tangannya ketika sekelebat bayangan itu melintas di pikiran nya, bahkan ia Adri masih melihat jelas tatapan penuh benci dari Hanna yang di tujukan kepadanya.


" Andai saja Kau bukan orang yang berarti bagi dia, mungkin aku akan menghancurkan semua milik mu " gumam Adri dalam hatinya.


" Heh, ternyata kita di pertemukan kembali. Kau bahkan terlihat tidak berubah sama sekali, dan selalu berbuat onar padahal kau itu cuman anak brandal jalanan " Ucap Hanna dengan sinis.


" Apa kabar tante dan juga OM.. " Sapa Adri dengan cuek dan menekan kata om di ujung kalimatnya.


" Apakah ini takdir, ternyata dia calon menantu yang sudah menolongku waktu malam itu. Oh ya Tuhan, terimakasih karena sudah mempermudah niat ku ini " Kata Candra dalam hatinya sambil bersorak bahagia.


" Baik nak, kamu sendiri apa kabar. Lama kita gak ketemu ya, terakhir saat malam tragedi itu kita bertemu. Bukan begitu " Jawab Candra dengan berwibawa.


_________________________________________________


Di penghujung cerita ini semakin membuatku ingin cepat-cepat menyelesaikan masalah hal intinya.


Menurut reader's semua gimana nih.? ayok dukung terus dong, biar aku semakin semangat buat lanjutin ceritanya..


Pokoknya sampai jumpa di chapter selanjutnya ya πŸ˜‰πŸ‘‹πŸ‘‹