
Hari ini Adri datang ke sekolah tepat waktu, bahkan Samudra dan pak Hadi merasa keheranan melihat sosok yang selalu datang paling terakhir diantara semua murid.
" Tumben kamu Dri dateng nya tepat waktu, biasanya juga suka terakhiran. Apa Jangan-jangan kamu kesambet ya, maka nya jadi begini " ucap Hadi, ia tak habis pikir melihat kedatangan Adri, dan ia yang memang mengherankan.
" Ckk Bapak ini mau nya gimana sih, giliran gak telat di tanyain. Lah kalo dateng nya siangan ngasih hukuman, terus aku harus gimana " Adri berdecak kesal karena ucapan Hadi. Namun dalam hatinya ia sedang tertawa puas, karena sebentar lagi bakal ada hal seru.
" Ya udah pak aku mau masuk dulu, duluan ya Bang Dra " ucap Adri sambil berjalan melalui mereka, tak lupa Adri juga menepuk pundak Samudra saat melewatinya.
" Iya yang rajin ya belajarnya, semangat dek " ucap Samudra sambil tersenyum.
Setelah Adri pergi, pak Hadi mendekati Samudra dan menanyakan hal yang telah terjadi antara mereka.
" Dra kok bapak agak aneh ya sama sikap kalian, biasanya juga kalian kaya kucing sama anjing. Apa Jangan-jangan pas hari itu kamu berhasil naklukin princess Wolf " Hadi Menerka-nerka tentang kedekatan Adri dan Samudra.
" Apa sih bapak ini jadi kepo, lagian dia itu Adri bukan Serigala Bapak Ada-ada aja deh. Aku sama Adri itu gak punya hubungan sepesial, tapi hubungan aku sama dia itu lebih dari pada sekedar perteman. Jadi gitu " jawab Samudra santai.
" Lah apa bedanya Adri sama Wolf, mereka itu sama. Sama-sama memiliki sifat liar, tempramen dan susah di atur. Pikir Bapak kalian itu jadian, makanya si Adri sampe berubah kaya gitu " Hadi tertawa saat dirinya membayangkan Adri yang di bandingkan dengan Serigala.
" Hemm Bapak Ada-ada saja " Samudra menggelengkan kepalanya.
" Bukannya gak mau jadian, orang pas gue tembak dia. Dianya langsung nolak kok, tapi gue seneng kalo dia gak pernah ngejauhin gue dan malah nganggap gue abangnya. Andai saja malam itu juga gak ada Adri, mungkin gue sudah mati di tangan musuh Papa gue. Melihatnya bertarung melawan para penjahat itu, dia terlihat semakin keren dan sexy. Akhhh " Samudra tersenyum saat mengingat kejadian beberapa minggu belakangan ini.
Teett... teettt
Bel berbunyi di setiap penjuru sekolah tersebut menandakan masuk kelas dan pelajaran akan di mulai. semua murid juga nampak telah memasuki ruang kelas mereka Masing-masing. Bahkan Adri juga sudah duduk di kursi nya, namun kali ini ada yang berbeda dengan meja di bagian depan dan juga samping Adri. Bahkan kini Adri tengah menyeringai puas saat teman nya tersebut tidak ada.
Tak lama kemudian pak Budi memasuki ruangan kelas Adri, ia terlihat mengenghela nafas ketika melihat ada tiga kursi kosong di bagian belakang kelasnya.
" Dri kemana yang lain nya, kok tumben mereka telat nya barengan. Terus kenapa loe dateng tepat kali ini, biasanya juga loe yang tiap hari dateng paling telat " ucap Sigit, ia merasa heran saat melihat kursi milik Galuh, Leksana dan Garda kosong.
" Entahlah gue gak tau, mungkin mereka udah calling an buat dateng telat bersamaan " jawab Adri acuh.
Sigit enggan untuk bertanya lagi kepada Adri, ia sudah tau jika jawaban Adri tidak akan memuaskan pertanyaan dari nya.
" Pak, saya izin ke toilet sebentar ya pak " Adri bangkit dari kursi dan berjalan ke arah pintu.
Adri pun mengangguk dan segera pergi keluar kelas tersebut, ia lalu pergi menuju toilet. saat sampai tepat di depan toilet cewek, Adri segera menghentikan langkah kakinya saat ia mendengar pembicaraan dan ia mencoba menguping obrolan yang ada di dalam sana.
" Loe serius Sa nerima si culun itu, bukannya loe benci sama mereka ya " ucap teman nya.
" Eh asal kalian tau ya, gue itu paling benci sama si Garda. Lagian gue juga kepaksa buat nerima dia jadi pacar gue, secara dia itu terus aja Ngejar-ngejar gue kaya orang gila. Dan satu lagi si Garda itu ATM berjalan gue, jadi walaupun gue benci sama dia yang penting gue menyukai hartanya dia " ucap orang yang di panggil Sa.
" Gila ya lu Rosa, terus bang Alex mau loe kemanain. Secara loe berdua kan udah mau tunangan " ucap teman yang satunya lagi.
" Santai aja kali, gue mau nikmatin dulu si Garda idiot itu. ya udah ayok kita keluar, entar ada yang denger obrolan kita " ucap Rosa sambil pergi keluar toilet.
Mereka tak lain adalah Rosa dan Kawan-kawan, Garda memang sudah menyukai Rosa saat ia berpapasan di kantin. Bahkan ia tidak mempedulikan jika Rosa adalah kakak kelasnya, dan yang lebih parahnya. Baru seminggu jadian dengan Rosa, Garda sudah memberikan uang juta-an kepadanya. Hampir setiap hari Garda akan mengajak nya Jalan-jalan shoping Barang-barang branded dan juga makan di restoran mewah.
Adri yang sedang bersembunyi di wc cowok pun segera keluar dan memastikan jika Rosa dan kedua temannya sudah pergi. Sedari tadi Adri hanya menggeram dan mengepalkan tangannya karena sudah emosi dengan apa yang ia dengar. Ia tidak menyangka jika Garda menyembunyikan hal ini darinya, Adri bahkan menyalahkan dirinya karena sudah lengah dalam menjaga Garda.
" Sialan lo Rosa, loe Berani-beraninya ngehina abang gue. Dan loe udah berani memanfaatkan ketulusan dari Garda, loe salah cari lawan Rosa. Bahkan gue udah peringatan loe buat gak ngusik kehidupan gue, tapi loe masih saja ngeyel " geram Adri, ia sudah tak dapat menahan emosinya saat ini.
Adri memutuskan untuk masuk ke toilet cewek, ia langsung membasuh wajahnya dan berharap emosinya sedikit mereda. Adri menatap wajah nya dengan lekat di cermin yang ada di hadapannya.
" Sebenarnya salah ku apa Cok, gue udah berusaha buat ngelindungi elo dari Orang-orang munafik seperti mereka. Kenapa kau menyembunyikan hal ini dari gue " Adri hanya menatap wajahnya yang sendu. Ia merasa kecewa dengan apa yang di lakukan oleh Garda.
Adri segera mengeringkan wajahnya dengan tisu yang ia bawa di saku bajunya. Ia kembali memasang wajah datar dan menyembunyikan perasaan yang saat ini ia alamin. Adri sedang berjalan, namun langkahnya malah menuju kearah lapangan bukannya kembali ke kelasnya.
Saat sampai disana, Adri langsung tersenyum melihat tiga orang yang sedang berdiri tepat di depan tiang bendera. Seringai licik pun mulai terlihat jelas di wajah Adri, ia pun segera menghampiri mereka. Tak lupa ia merebut botol minuman yang di bawa oleh seorang siswi, yang tak sengaja berpapasan dengan Adri.
" Rasain loe pada, waktu itu kalian ngejek gue dan gak bantuin gue dari si ketos Abal-abal " cuman Adri dalam hatinya.
_________________________________________________
Jangan lupa ya buat π & π
See next chapter π π