
Jess nampak kaget dan melongok mendengar perkataan Rido, ia tidak menyangka Adri mendapatkan hadiah taruhan sebesar itu. Tak jauh dari mereka, Max dan Garda di buat terkejut saat mendengar perkataan Rido. Mereka tidak menyangka jika Adri mengadakan pesta BBQ untuk merayakan kemenangannya.
" Jadi itu alasan kamu buat beli banyak minuman itu dek, kamu emang sangat istimewa " Batin Max sambil tersenyum.
" Jadi selama ini Adri ikut balapan liar, dan selalu merayakan dengan pesta yang sangat besar seperti ini. Bahkan dia rela buat mengeluarkan banyak uang dengan belanja banyak hanya untuk menyenangkan semua orang. Gue sangat menyesal Dri, selama ini gue udah benci dan kasar sama loe " Batin Garda.
" Sebenarnya dia mau ngerayain di klub tempat elo bang, tapi entah kenapa dia malah ngebatalin nya dan mengganti kannya dengan pesta BBQ. Awalnya Anak-anak sempet kecewa dengan keputusan Adri, tapi setelah melihat banyak minuman yang loe bawa. Gue rasa mereka bakal puas kali ini, dan pasti bahagia karena Adri sudah benar-benar menepati ucapannya " Tutur Rido sambil tersenyum.
" Oh iya, gue baru ingat. Kalo Adri juga pernah ngomong buat siapin tempat buat pesta, tapi sampai saat ini dia gak ngomong masalah ini lagi, sampe dia terbaring lemah di rumah sakit " Kata Jess.
" Mungkin ada hal penting yang mau dia omongin secara pribadi kali " Tebak Rido.
" Wah, ini belanjaan siapa sih. Banyak bener " Kata Max sambil melangkah mendekati Jess dan Rido.
" Tuh tanya aja sama itu bocah, bukannya dia pulang bareng sama adek loe " Kata Rido sambil melihat kearah Garda.
" Itu Adri sama gue bang yang belanja, kata Adri takut gak cukup tadi. Jadi kita belanja banyak sekalian, kalo nyisa pun buat bagi ke tetangga katanya " Jawab Garda gelagapan.
" Santuy aja Da, kaya di introgasi aja loe " Kata Jess sambil tersenyum.
Tak lama kemudian Adri datang dengan gaya santai nya, ia memakai celana kolor pantai di atas lutut, lalu atasannya ia memakai race back croptop hitam dengan kaos lekbong yang memiliki lubang lengan hampir setengah ukuran baju tersebut. Rambut yang masih basah dengan handuk kecil yang bertengger di lehernya, menandakan kalo Adri baru saja selesai mandi.
Garda, Jess, Max dan Rido pandangan mereka seakan terpaku saat melihat Adri menuruni tangga. Adri memang terlihat sangat menawan dan cool saat ini, di tambah kaki putih jenjangnya yang secara perlahan menuruni anak tangga. Namun lamunan mereka langsung hancur ketika suara Adri terdengar menggema di ruangan itu.
" Gak usah lihatin kaya gitu juga Bang-abang, apa gue perlu ingatin kalian dengan sedikit tendangan gue " Kata Adri dengan wajah datarnya.
Semua pria yang tengah duduk dan menatap Adri seperti meneguk salivanya dengan susah payah dan berpura-pura tidak melihat kearahnya. Mereka sangat takut jika sang macan betina mengamuk dan membuat badan mereka babak belur karena ulah mereka sendiri.
" Geer loe dek, lagian siapa yang ngeliatin elo. Orang gue cuman lihatin pas bunga yang disana " Kata Rido sambil menunjuk pas bunga yang ada di lantai atas.
" Entah dek, semenjak penampilan loe ganti. Loe semakin percaya diri aja, lagian siapa yang mau merhatiin cewek galak kaya loe " Kata Jess sambil terkekeh pelan.
" Cih.. Gak usah berkilah deh kalian, emangnya gue gak tau apa " Kata Adri datar.
Adri langsung duduk di depan Max dengan posisi membelakangi nya, sedangkan orang yang di belakangi Adri hanya tersenyum melihat tingkah manja nya Adri yang sedang kumat.
" Dasar anak manja, ngeringin rambut aja nyuruh orang lain" Celetuk Jess.
" Bilang aja bang kalo iri " Kata Adri.
Saat Garda membuka pintunya, ia sangat kaget melihat banyak pemuda dan juga gadis yang berpenampilan sedikit metal. Dengan memakai jaket serta celana jeans rapids, rambut yang dicat, membuat Garda sedikit ketakutan. Ia berpikir jika mereka adalah preman yang hendak membegal rumah Adri. Namun Rido datang dan malah mempersilahkan mereka semua masuk, tak lama kemudian ada beberapa rombongan mobil dan motor yang ikut berhenti di depan rumah Adri.
Garda mengebali tiga dari beberapa pemuda beserta pasangannya yang datang secara bersamaan, mereka tak lain adalah alif, Doni dan Sigit. Garda langsung mempersilahkan semua orang untuk masuk, karena Rido sudah lebih dulu masuk kedalam bersama rombongan pemuda tadi.
Seketika dalam rumah Adri sudah di penuhi oleh anak muda dengan penampilan yang beragam, mereka terlihat sangat akrab terlebih Adri yang sudah merubah sikap nya menjadi hangat dan humble. Ia beberapa kali tertawa lepas saat mendengar cerita lucu dari para pemuda itu. Sedangkan Garda dan Sigit hanya duduk dan sesekali ikut tertawa, walau mereka masih canggung karena tidak tahu dan bingung harus ngapain.
" Gila Dek, lemparan loe waktu di rumah sakit emang sangat bagus. Si Robi bahkan sampe pingsan seharian Gara-gara ulah elo " Kata Tessa sambil menggelengkan kepalanya.
" Entah loe dek, loe tega bikin gue gak sadarkan diri karena apel sialan itu " Kata Robi dengan wajah sedihnya.
" Lagian siapa suruh loe bilang kaya gitu sama gue " Kata Adri dengan wajah kesalnya.
" Lah emang paktanya kan elo itu se... " Kata Robi, namun dengan cepat ia menghentikan ucapannya setelah mendapat tatapan tajam Adri.
" Ck.. Loe galak amat sih dek " Kata Malik sambil menyentil kening Adri pelan.
" Apa sih bang, gak lucu tau " Gerutu Adri. " Oh ya gue sampe lupa, kenalin ini sodara gue Garda dan yang ini temen gue Sigit. Dan buat dua curut itu, kalian pasti udah tau bukan " Kata Adri santai.
" Loe gak adil Dri, masa kita di panggil curut sih " Gerutu Alif dengan wajah kesalnya.
" Entah Lif, dia sekarang pilih kasih sama kita " Kata Doni membenarkan ucapan Alif.
" Gak usah mulai deh " Jawab Adri kesal.
Tak lama kemudian semua pandangan mereka tertuju pada seseorang yang baru datang dan berdiri di samping Adri.
" Sorry dek, gue telat. Soalnya gue habis nge bujuk dulu Mami biar gak ikut sama gue, sorry ya semuanya " Kata Radit sambil tersenyum.
" Loe ganggu orang aja bang " Kata Adri.
" Itu dek anak emak-emak yang kemaren abang ceritain, dia sama emak nya bikin rumah sakit abang jadi heboh Gara-gara kedatengan mereka " Bisik Max pada Adri.
" Gue masih bisa denger bang " Kata Radit dengan wajah kesalnya.
" Sudahlah, lagian itu gak penting juga " Kata Adri.