BAD???

BAD???
Madam



Di salah satu ruang VVIP rumah sakit, Adri telah sadar dari tidur panjang nya. Ia tidak sadarkan diri selama 2 hari karena pengaruh obat yang di berikan oleh max, ia sengaja memberikan obat tidur agar Adri bisa beristirahat dengan baik agar mempercepat proses penyembuhannya.


Adri terlihat meringis kesakitan saat hendak membangkitkan tubuhnya, semua orang yang ada disana tampak terkejut melihat Adri yang tiba-tiba saja terbangun. Nia bahkan langsung mendekati Adri dan membantu nya untuk membangkitkan Adri. Adri kemudian melepaskan alah bantu pernapasan nya hingga ia bisa mencium aroma ruangan tersebut.


" Woooo... Loe semakin sexy dek kalo gak pake baju, apalagi perban itu semakin membuat tubuh loe semakin membentuk " Teriak Robi sambil menggoda Adri. Mereka ternyum melihat Adri yang nampak kesal karena sudah berhasil di goda Robi.


Adri yang baru saja menyenderkan tubuhnya dengan nyaman kesadaran ranjang langsung menatap tajam Robi, tanpa pikir panjang lagi adri langsung mencari benda yang dapat ia gunakan untuk memberi pelajaran pada Robi. Kebetulan di nakas samping ranjang Adri ada buah-buahan yang entah milik siapa, ia kemudian mengambil buah apel puji besar dan menggengam nya dengan kuat, dengan sangat kuat Adri melempar buah itu dan tepat sasaran.


" One Shooot... Perpact " Ucap Adri sambil menyungingkan senyuman devil nya.


Sementara semua orang tercengang dengan apa yang sudah Adri lakukan, sedangkan orang yang dijadikan sasaran Adri sudah tergeletak pingsan karena ulahnya. Dia tak lain adalah Robi, Adri melempar apel tersebut kearahnya dan tepat mengenai jidatnya, hingga sang empunya terjengkang kebelakang dan jatuh pingsan. Apel yang di lempar Adri kini sudah pecah berantah dan tergeletak berceceran di lantai.


Tak lama kemudian Max datang karena mendapat panggilan darurat dari kamar Adri, itu dikarnakan Nia memencet tombol darurat yang ada disamping ranjang Adri tadi.


" What happened...? " Pekik Max kaget saat melihat Robi terkapar tak sadarkan diri di lantai dengan apel yang berceceran di lantai.


Semua orang tidak ada yang menjawab, kebetulan disana ada Nia, Robi, Tessa dan juga Rido. Max menatap mereka satu persatu meminta jawaban atas semua yang ia lihat, namun pandangannya jatuh pada Adri yang terlihat sudah melepas jarum impus di tangannya.


" Apa yang sedang kau lakukan bodoh, kau sedang terluka saat ini. Bisakan kau tidak bergerak dan membiarkan tubuh mu itu pulih " Teriak Max dengan wajah berang nya.


Seketika semua orang tersadar dan melihat kearah Adri, mereka sangat terkejut melihat selang infusan yang sudah menggantung dengan cairan nya yang menetes di lantai.


" Aku rasa obat tidur yang kau berikan padaku sudah cukup untuk mengistirahatkan tubuh ku ini, lagian aku ingin beristirahat dirumah. Aku tidak suka saat kau membiarkan tubuhku telanjang seperti ini " Adri berkata dengan wajah datar nya.


" Oh shit... Kenapa dia terlihat seperti malaikat maut, seharusnya dia berterima kasih bukan malah berperangai horor seperti itu " Gumam max sambil meringis.


" Nak apa yang kamu lakukan, kamu masih belum pulih. Luka dalam mu masih butuh perawatan intensif, aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan mu nak " Nia mendekati Adri dan memegang tangannya, raut wajah nya menyiratkan tanda kalau dirinya sangat khawatir pada Adri.


"Nak jangan seperti ini, Mami benar-benar mengkhawatirkan mu nak. Jangan hukum Mami seperti ini... " Nia merasa lemas setelah mendengar perkataan Adri, dia menangis dan mencoba memohon pada Adri untuk tidak menganggap nya seperti orang asing padanya.


" Buka jas milik mu itu, dan mana kunci mobil ku, aku mau kau mengobati bang Robi, dan satu hal lagi, aku tunggu di rumah itu dan bicarakan apa yang sudah terjadi selama aku tertidur " Kata Adri dengan tajam.


Max menuruti apa yang dikatakan Adri, ia melepas jas kedokterannya dan memakaikan pada Adri. Tanpa bertanya lagi, Max segera menyerahkan kunci mobil yang selalu Ia bawa kemanapun Ia pergi. Ia tidak ingin berakhir seperti Robi yang tergeletak dengan naas di lantai, ia tidak tahu apa yang menyebabkan Robi pingsan, tapi ia tahu pelakunya pasti gadis Bar-bar yang ada dihadapannya yang sudah membuatnya seperti itu.


Adri berjalan dengan angkuh meninggalkan semua orang yang ada dalam diruangan itu, ia tidak memperdulikan Nia yang menangis sambil memohon padanya. Adri sudah sampai didalam mobil nya yang terparkir di tempat khusus karyawan penting, ia kemudian menyalakan mobilnya dan melakukan mobilnya untuk pergi dari sana. Di sepanjang perjalanan, Adri merasakan ngilu di area punggung dan juga sedikit sesak di bagian dadanya. Namun hal itu tak mengurungkan niat Adri untuk diam dan mengeluh dengan sakitnya itu.


Kini Adri sudah sampai di salon ternama, saat Adri masuk kedalam, semua pegawai sempat bingung karena seorang dokter masuk kedalam salon. Adri yang menyadari tatapan itu tak menghentikan niatnya, ia kemudian melangkahkan kakinya dan duduk di salah satu kursi disana. Tak lama kemudian seorang pria dengan suara khas nya datang menghampiri Adri, ia terlihat sangat syok melihat wajah Adri dan juga balutan perban di tubuh Adri. Jas yang dipakai Adri memang tak memiliki kancing, sehingga hal itu memperlihatkan dalaman yang Adri pakai.


" Hai nona muda, sepertinya aku tidak perlu menanyakan kabar mu saat ini. Oh ya__aku minta maaf karena pegawai ku tidak menyambut mu dengan layak, aku harap kau memaklumi nya karena mereka terlalu kaget dengan setelah jas dokter yang kau pakai " Sapa pria tersebut sambil merangkul Adri.


" Kau memang selalu sok tahu Madam, aku mau merubah penampilan ku. Aku ingin gaya potongan rambut seperti jaman aku SMP, apa kau masih mengingatnya " Kata Adri dengan wajah datarnya. " Jika kau tidak mengingatnya, aku akan memaklumi nya karena memang ingatan seseorang akan berkurang karena faktor bertambahnya usia " Adri menyungingkan senyuman yang penuh ejekan pada pria yang di panggil Madam itu.


" Heyyy... Aku masih muda dan cantik oke, aku juga masih mengingat gaya urakan mu itu. Tapi aku sangat suka dengan tampilan mu sekarang, lebih cantik dan mempesona " Kata Madam sambil menggerakkan rambut hitam Adri. " Apa luka di tubuh mu sangat serius, aku lihat perban elastis itu hampir menutup seluruh bagian badan mu " Tanya Madam dengan penasaran.


" Entahlah, mungkin hanya cedera ringan di bagian tulang punggung dan rusuk ku yang retak. Atau mungkin hanya luka lebam seperti biasa " Jawab Adri cuek.


" Cih.. Kau memang selalu berkata begitu, dulu aku mendengar kau habis di keroyok saat tawuran dan malah bersenang-senang party setelah itu. Kau seharusnya meninggalkan kelakuan Bar-bar mu itu Dri, aku tau hal itu adalah pelampiasan mu karena kehilangan orang paling berharga dalam hidup mu " Pria yang di panggil Madam itu terlihat sedang mempersiapkan alat untuk memangkas rambut.


_________________________________________________


Hai kak, jangan lupa ya dukungannya untuk author, biar aku nambah semangat lagi πŸ˜„


sampai jumpa di cerita selanjutnya.. 😘