BAD???

BAD???
Story of My Jo



Kini Adri sudah di area pemakaman, sebelum itu ia singgah kerumahnya terlebih dahulu untuk mengambil barang yang ia perlukan. Adri juga menukar motor dan memakai mobilnya untuk pergi menuju ke pemakaman.


Adri terlihat berjalan melewati gundukan tanah, dengan menenteng paper bag dan juga satu buket bunga mawar hitam. Adri berhenti di salah satu gundukan tanah yang sudah lama, terlihat dari rumput liar yang sudah tumbuh menyelimuti tanah tersebut.


" Sudah lama yah kita gak ketemu, Hampir lima bulan lebih gue gak dateng buat jengukin elo lagi. Sorry ya Jo, gue emang brengsek dan malah ngelupain elo " gumam Adri yang terdengar sangat lirih.


Adri kemudian berjongkok dan menaruh bunga tersebut di dekat batu nisan nya. Adri juga langsung jongkok di samping makam tersebut dan mulai mencabuti rumput liar tersebut. Setelah selesai membersihkan rumput liar itu, Adri langsung membersihkan batu nisannya agar terlihat bersih tidak kotor.


" Hai Jo, sorry ya gue baru dateng sekarang. Gimana keadaan loe disana, jangan bilang loe lagi Enak-enakan sama Bidadari. Hahaha seharusnya loe harus bagi satu malaikat buat gue " Adri berbicara pada makam tersebut, sambil sesekali tertawa.


Adri tidak peduli jika ada orang yang lihat dirinya ketawa dan ngobrol sendiri, ia akan merasa tenang jika sudah berada di dekat orang yang paling berarti di hidupnya.


Adri mendudukkan tubuhnya di atas rumput dan mengeluarkan botol serta dua gelas kecil dari paper bag yang ia bawa. Ia kemudian membuka tutup botol tersebut dengan alat, setelah itu ia menuangkan cairan berwarna merah itu kedalam dua gelas kecil. Lalu Adri menaruh satu gelas di atas gundukan tanah di depannya, dan satu lagi di pegang olehnya.


" Hey lihatlah gue udah bawain minuman yang paling loe benci, loe tau saat loe Benar-benar pergi ninggalin gue. Gue merasa dunia ini seakan hancur, gue juga gak bisa jauh dari spesies mereka, sorry gue ngelanggar apa yang loe perintah ke gue. Gue harap dengan apa yang gue lakuin sekarang, loe bakal marah dan dateng buat nemuin gue " Adri tersenyum kecut sambil memandang kuburan di depannya.


Tringgg.. suara gelas yang beradu, Adri langsung meneguk habis minuman yang mengandung alkohol tersebut. Kemudian ia mengisi nya kembali, Adri kemudian merogoh saku jaket nya dan mengeluarkan satu bungkus rokok beserta pemantik apinya. Ia mengeluarkan dua batang dan mulai membakarnya, satu di letakan di batu nisan dan satu lagi Adri hisap sendiri.


" Gimana Jo, gue udah jadi teman terbaik loe bukan. Gue dateng dan bawa apa yang selalu loe larang gue lakuin " Adri menghembuskan asap yang di penuhi racun tersebut secara perlahan.


Adri sudah menjadi pecandu rokok sejak kelas satu SMP, namun karena orang yang sekarang sudah meninggal tersebut. Adri sedikit mengurangi kebiasaan nya, namun hal itu tak berlangsung lama, setelah orang tersebut meninggal dan membuat Adri semakin terpuruk. Adri menjadi seorang perokok aktif lagi dan juga pecandu alkohol, ia melampiaskan semua perasaan yang ia rasakan dengan meracuni tubuhnya sendiri dengan tembakau dan juga alkohol.


" Jo kenapa loe harus tinggalin gue sendirian, gue ngerasa jika dunia tak pernah adil buat gue Jo. Keluarga gue gak pernah ada, mereka hanya acuh dan tak pernah memperhatikan keadaan gue. Hanya loe yang selalu ngedukung dan perhatian sama gue, hanya elo Jo " Adri menangis sambil menenggelamkan wajahnya di lututnya.


Flashback 2 tahun yang lalu....


" Heh Lif, beli rokok dong. Lagi stres nih gue, nih duitnya loe beli permen sisanya ya " Adri menyerahkan uang dua puluh ribu pada salah satu temannya.


" Siap bos, ongkos jalan nya mana? " pinta Alif pada Adri sambil cengengesan.


" Tuh pake aja motor gue, gak usah banyak bacod deh loe. Udah sana pergi loe " Adri nampak sangat jengkel dengan tingkah kawannya itu, ditambah ia juga lagi badmood.


Adri terlihat Uring-uringan gak jelas hari ini, ia beberapa kali mengumpat saat bermain game yang ia mainkan di handphone nya.


" ****** anjinx dasar si Julius sialan, karakter kebanggan gue kalah anjinx. Si Athena mati " umpat Adri, ia tidak Terima jika permainan yang ia mainkan kalah begitu saja. ia sedang bermain game Good of rome, game yang lagi Hits di jamannya.


" Apa sih loe Dri, kalo maen ya maen aja kali. Gak usah ngumpat segala " ucap Doni pada Adri, ia sedikit risih dengan Kata-kata kasar yang Adri lontarkan.


" Gue gak nyuruh loe buat dengerin umpatan gue, kalo loe gak suka loe bisa sumpal telinga loe pake kapas. Selesai kan " jawab Adri santai.


Doni hanya mendengus kesal, karena walau pun ia Mati-matian ngebela dirinya benar. Ia tetap bakal kalah debat dengan Adri, dan hal yang paling penting. Ia tak mau berurusan dan membangunkan singa tidur, ditambah ia sedang dalam suasana buruk.


Tak lama kemudian, Alif datang sambil menyerahkan sebungkus rokok pada Adri. Ia kemudian duduk di dekat Doni, sambil mengulum permen loli yang ia beli. Adri terlihat sudah menyulut rokoknya dan tersenyum senang kearah dua kawannya.


" Tuh kalo kalian mau, gak usah munafik loe berdua " sarkas Adri pada kedua temannya.


" Gue lagi males Dri, bukannya munafik ya " sanggah Alif.


" Gue juga lagi males, soalnya gebetan gue bakal ngambek kalo ketahuan gue ngerokok di sekolah " jawab Doni dengan wajah lesu.


" Oh " jawab Adri singkat dengan ekspresi datarnya.


" Sebaiknya loe berhenti dari kebiasaan gila loe ini deh Dri " saran Alif, namun omongannya tak di gubris sama sekali oleh Adri.


Kedua temannya hanya melongo dan kesal dengan Adri, terkadang Adri memang akan membuat mereka jengkel dengan tingkah laku nya. Tak butuh lama, adri sudah menghabiskan setengah bungkus rokok, ia terus saja membakar dan menghisap asap beracun tersebut tanpa henti. Adri bahkan sering di ledek dengan julukan kereta uap, karena akan sulit berhenti jika sudah berhadapan dengan gulungan tembakau tersebut.


" Khemm enak ya, baru di tinggal sebentar udah bikin ulah lagi. Habis berapa kali ini " ucap seorang siswa yang baru datang, ia melipat kedua tangannya di dada dan menatap tajam kearah Adri.


Adri sangat terkejut mendengar suara yang tak asing lagi bagi dirinya, ia kemudian menoleh kearah sumber suara dan alangkah terkejutnya saat melihat orang yang berdiri sambil melipat kedua tangannya serta menatap tajam kearah dirinya. Adri hanya melongo dan berusaha menelan ludah nya dengan kasar, namun sialnya ia merasakan jika tenggorokannya terasa buntu.


" Hahaha untung loe dateng Jo, loe liat sendiri kan dia kaya orang gila jika bertemu sama barang kesukaan nya itu. Dari tadi gue udah ngasih sarah buat berhenti, dan yah loe tau sendiri dia lebih keras dari batu Jo" adu Alif pada orang yang di panggil Jo.