
Candra yang merasa asik mendengarkan cerita dari para anak muda dan sudah merasa bosan karena para orang tua hanya membicarakan bisnis dan saham perusahaan mereka.
" Seingat ku, nak Adri juga pernah menolong ku. Kalo gak salah waktu malam hari, saat aku baru pulang dari luar kota " Ucap Candra sambil mengingat-ingat kejadian beberapa waktu kebelakang.
" Maksud pak Candra apa ya? " Tanya Raihan dengan penasaran.
" Gini loh pak, dulu aku pernah bertemu sama nak Adri. Tapi dulu penampilan nak Adri jauh berbeda sama sekarang, aku bahkan sempat gak kenal sama nak Adri. Dia nyelamatin saya dari para preman yang membegal saat saya pulang dari luar kota " Cerita Candra dengan wajah serius.
" Loh kok pak Candra bisa di begal sih, bukannya pak Candra selalu pakai mobil ya. Apa pak Candra juga sendiri waktu itu " Tanya Edi penasaran.
" Waktu itu kebetulan supir saya nyaranin buat motong jalur gitu biar cepet, eh tau nya di tempat sepi banyak anak preman yang lagi nongkrong dan nyegat mobil kita. Sialnya mereka malah mukul kaca mobil dengan besi hingga kami memutuskan untuk keluar, yah aku terpaksa ngorbanin mobil ku dan berharap akan di lepaskan. Tapi mereka malah menghajar supir hingga babak belur dan tewas, sedangkan aku di ikat di kursi sambil di siksa dan menyaksikan mobil ku di bakar oleh mereka " Cerita Candra dengan wajah sedih.
" Lalu kenapa pak Candra bilang kalo nak Adri yang nolongin bapak, bukankah tempat itu sepi " Tanya Raihan dengan penasaran.
" Kebetulan nak Adri lewat sana, awalnya saya juga kaget saat melihat nak Adri dateng sambil bawa pedang gitu. Kirain saya, dia ketua anak itu dan akan membunuh saya. Tau nya dia malah nolongin saya dan membuat anak-anak itu kalah telak, bahkan ada yang terluka cukup parah karena sabetan senjata tajam nya itu. Dan lihat lah jika kalian tidak percaya, luka ini nak Adri sendiri yang menjahit nya. Aku kira nak Adri dokter samurai yang ada di film action gitu, tapi selain berani dia juga anak yang baik dan humoris " Cerita Candra sambil memperlihatkan luka yang pernah Adri obati dulu, Candra juga tersenyum sambil melihat kearah Adri.
" Apa om serius sama perkataan om, si adek aslinya kejam loh. Om tau aku sampe gak mau terluka kalo lagi berantem bareng dia, soalnya dia kalo ngobatin kaya orang gak ikhlas, seenaknya dia " Tanya Malik sama Candra.
" Tidak, sebenarnya aku sangat takut dengan yang namanya rumah sakit, dan aku juga sempat kesal sama nak Adri karena aku di sebut kakek-kakek payah gara-gara gak bisa melesat lari. Dan kalian tahu pakaian ku di buat compang camping sama dia dengan di potong menggonakan gunting untuk mengobati luka, dan yang lebih sadis lagi nak Adri mengancam saya dengan bilang aku bakal mati jika gak di obati sama dia. Terpaksa aku nyerah dan pasrah untuk di obati sama dia, walau hati kecil ku sangat ragu " Jawab Candra dengan wajah kecewa.
Max merasa begitu senang mendengar cerita dari semua orang yang ada disana, ia merasa bangga terhadap Adri yang selalu membuat orang nyaman dan mengingat tentangnya. Sedangkan Hanna dan Galuh seperti melamun setelah mendengarkan cerita dari mereka semua, mereka seperti dilanda rasa penyesalan yang teramat besar karena sudah menghina dan mempermalukan Adri di depan umum.
Saat mereka sedang asik bercerita sambil melihat kondisi Adri yang masih belum juga sadar. Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dan menampilkan seorang lelaki parubaya dengan perawakan yang tinggi dan otot kekarnya, di ikuti oleh dua orang pemuda di belakang nya. Satu pemuda dengan berpakaian kaos dan celana joger yang terlihat membawa satu keranjang apel hijau, buah kesukaan Adri dari kecil. Lalu satu pemuda lagi memakai jaket hoodie dengan celana jeans rapids dengan menenteng satu botol minuman anggur home made terbaik di Amerika dengan sebelah tangannya memegang satu buket mawar hitam.
Suara benda jatuh itu berasal dari botol minuman yang dibawa oleh pemuda tadi, begitu pun dengan buket bunga yang sudah jatuh ke lantai. Pemuda itu nampak sudah mengeluarkan air mata nya dan berjalan dengan gontai menghampiri brangkar tempat Adri terbaring.
" Kenapa ini terjadi...? " Gumam pemuda dengan tubuh yang sudah gemetar sambil menatap Adri yang terbaring lemah.
Semua orang nampak kaget dengan kedatangan orang yang tak asing lagi bagi mereka, namun untuk pemuda yang membawa apel dan lelaki parubaya, Radit dan keluarganya tidak mengetahui begitupun dengan Galuh dan Hanna.
" Apa yang terjadi sama Oni ku, kenapa dia terbaring disana. Apa ini hanya prank dari kalian semua, benarkan ini semua hanya tipuan untuk menyambut kami " Tanya pemuda yang membawa apel sambil tersenyum getir.
" Maafkan aku nak, aku tidak memberitahu maksud kedatangan kita kesini. Maafkan kakek karena gagal menjaga adik kesayangan mu " Ucap lelaki parubaya itu.
Dia tak lain John Alfred Aleskey, kakek Adri yang baru datang dari Amerika dan langsung menuju rumah sakit dari landasan terbang di belakang mansion rumah Adri. Sedangkan dua pemuda tadi adalah Arjanta Aleskey Bhagawanta dan Galih Bakti Batara, mereka datang bersama dengan Alfred tanpa di beritahu maksud kepergian yang sangat mendadak itu.
Mata Max terlihat kembali berkaca-kaca dengan tangan yang sudah mengepal keras dan bergetar. Garda juga terlihat syok dan sudah berkaca-kaca, menatap pemuda yang membawa keranjang apel yang tak lain adalah Arjanta.
" Kau masih hidup, kenapa kau pergi dan tak pernah pulang Bang. Aku sangat merindukan mu " Ucap Garda sambil memeluk Arjanta.
" Ternyata kau sudah besar, maafkan aku karena kejadian waktu dulu membuatku harus terpisah dengan kalian, beruntung aku bisa ketemu sama pak Candra dan setahun yang lalu, dan kakek telah mengobati luka ku hingga ingatan ku tentang kalian semuanya telah kembali " Jawab Arjanta sambil memeluk balik Garda dan menepuk-nepuk pelan puncak kepalanya.
" Lalu kenapa gadis nakal ku gak bangun, apa dia masih ingin pura-pura mengerjai diriku dan membuatku merasa jengkel " Ucap Arjanta sambil melihat Adri yang terbaring.
" Maafkan aku bang, tapi ini kenyataan. Kita tidak sedang bercanda, dia sedang sekarat sekarang dan dia yang sudah melindungi kami " Ucap Garda dengan sendu dan menundukan kepalanya.