BAD???

BAD???
Pajak Jadian



Sesampai di depan gerbang sekolah, Adri segera membuka kaca helmnya dan melihat ada tiga orang yang sedang diam disana. Mereka tak lain adalah alif dan doni, mereka juga memakai motor sport seperti Adri karena sepulang sekolah mereka mau ajak Adri nongkrong. Sedangkan yang satunya lagi adalah Samudra yang sudah stay di dalam mobil sport nya dan terus menatap kearah Adri dengan tatapan kagum.


" Ngapain loe pada diam disini, bukannya masuk! "Kata Adri sambil menatap heran pada ketiga orang tersebut.


" Ya sebagai teman sekaligus bawahan elo, gue setia nunggu loe dan bakalan masuk bareng sama Buketu " Jawab Alif sekenanya.


" Bener tuh kata si Alif, kita emang setia sama loe. Bahkan sampe setianya gue sama elo, loe ajak bolos juga hayuuk.... " Kata Doni sambil ketawa receh.


" Lalu Kak Samudra, tumben banget telat masuk sekolahnya. Biasanya udah stay di depan gerbang " Tanya Adri sambil menatap Samudra.


" Gue juga nungguin elo Dri, ada yang mau gue omongin sama elo " Kata Samudra dengan sedikit gugup.


Belum sempat Adri berkata lagi, mobil Sigit datang tepat diantara mereka. Sigit terlihat langsung membuka kaca mobilnya dan melontarkan kekesalannya pada Adri yang meninggalkan dirinya bersama Garda.


" Eh Buten, loe jadi cewek bisa selow dikit ngapa. Loe ninggalin gue sama si Garda, gimana kalo gue nabrak pohon tadi gara-gara ngejar motor loe " Teriak Sigit sambil Ngos-ngosan meluapkan amarahnya.


" Gue kan udah bilang Git, kalo gue gak suka sama siput lelet " Kata Adri dengan wajah cuek nya.


" Udah Git, loe gak bakalan menang debat sama adek gue. Lagian percuma juga loe banyak ngomong sekarang, loe siapin aja alesan biar kita gak dihukum sama pak Hadi " Kata Garda sambil menepuk bahu Sigit untuk menenangkan emosi yang sepanjang jalan dia lontarkan. Garda sendiri heran kenapa Sigit sampe berubah 180 derajat, dari sikap pendiam dan culun menjadi sedikit bar-bar dan mudah emosi seperti tadi dan saat ini.


Sigit nampak menghela nafasnya dan mencoba menenangkan dirinya sendiri. Tak lama kemudian Hadi datang bersama dengan seorang siswa yang sudah terpilih menjadi OSIS pengganti Samudra. Mereka kemudian membuka gerbang sekolah dan mempersilahkan mereka masuk, namun sebelum itu, Hadi menyuruh mereka untuk berkumpul di lapangan.


" Jadi kenapa kalian semua bisa pada telat begini, dan untuk kamu Samudra, kenapa bisa sampe telat tidak seperti biasanya? " Tanya Hadi dengan nada kecewa.


" Pengen bareng sama calon bini pak, mau gimana lagi. Kalo bini nya kaya gini ya ikutin aja dulu, siapa tau entar dia berubah sikapnya " Kata Samudra dengan percaya diri.


Hadi yang mendengarkan perkataan Samudra hanya bisa melongok dan menepuk jidatnya, ia sudah tidak bisa berkata-kata lagi melihat ucapan konyol dari Samudra. Sedangkan Alif dan Doni menatap tajam kearah Garda seakan predator yang sedang menatap mangsanya. Sedangkan Sigit hanya pura-pura muntah mendengar perkataan gombal dari Samudra.


" Bau peje nih, setidaknya makan gratisan sudah menunggu " Ucap Garda dengan wajah senang dan berseri, karena membayangkan traktiran makan dari saudari nya yang baru akur itu.


" Kalian ini, emang benar-benar ya. Gak guru, gak murid, kalian ini sama saja dan membuat sekolah kita tercemar dengan kelakuan kalian " Omel Hadi dengan tegas. " Dan untuk kamu Adri, ini yang terakhir kalinya bapak ngasih keringanan untuk kamu. Jika besok kamu ketahuan buat ulah lagi, bapak tak akan segan memanggil kedua orang tua mu untuk datang kesekolah " Ancam Hadi dengan serius pada Adri.


Semua orang terdiam dengan perkataan Hadi, namun berbeda dengan Adri yang masih dengan teguh memasang ekspresi itu.


" Ya sudah untuk kalian berdua, bapak mau kalian bersihkan halaman depan sekolah. Termasuk lapangan ini juga " Kata Hadi menginterupsi kepada Alif dan juga Doni, untuk menjalani hukuman mereka.


" Untuk kalian berdua, kalian bertugas membersihkan toilet murid tanpa pengecualian " Kata Hadi sampul menunjuk Garda dan Sigit.


Dalam hati mereka berdua, mereka tidak Terima karena malah dihukum untuk membersihkan toilet murid. Walaupun toiletnya gak sekotor toilet umum yang ada diluaran, tapi mereka itu anak manja dan gak pernah bersihin toilet.


" Dan untuk calon pasangan baru ini, kalian ditugaskan untuk membersihkan toilet Guru sampe bersih dan harum " Kata Adri sambil menunjuk Adri dan juga Samudra.


Akhirnya mereka dibubarkan oleh Hadi, tak lupa hari menyuruh anggota OSIS baru untuk memantau kegiatan hukuman kepada enam murid tersebut. Ia tidak ingin mereka kabur dari tugas yang sudah di berikan pada mereka sebagai ganti hukuman tidak taat aturan sekolah.


Kini Adri dan Samudra sudah berada di dalam toilet guru, mereka secara bersamaan membersihkan tempat itu hingga benar-benar bersih. Adri tidak banyak bicara dan sibuk mengerjakan bagiannya, dan Samudra juga melakukan hal yang sama. Tepat di luar sana, seorang siswa tengah menunggu mereka untuk menyelesaikan pekerjaan yang telah di berikan Hadi tadi.


Samudra terlihat mendekati Adri, karena bagiannya sudah selesai dengan cepat. Ia kemudian berdiri di belakang Adri dan melihat apa yang sedang Adri kerjakan.


" Khemm... Dri, gue mau bicara sama elo, bisakan? " Kata Samudra berbasa-basi.


" Ada apa, bicaralah sekarang! "Kata Adri dengan santai tanpa menoleh kearah Samudra. Ia terus saja mengerjakan tugasnya dan segera pergi dari sana.


Mendengar jawaban Adri yang terkesan cuek terhadap dirinya, Samudra hanya pasrah dan sudah menebak jika hal tersebut pasti akan ia dapatkan karena apa yang telah ia lakukan pada Adri. Samudra menjadi terlihat gugup untuk memulai berbicara dan menyampaikan niat baiknya, namun dengan penuh keyakinannya, ia memberanikan dirinya untuk mulai berbicara pada Adri.


" Aku.... Aku ingin meminta maaf sama kamu Dri, aku tahu selama ini aku sudah salah menilai mu, dan aku selalu saja menciptakan dinding permusuhan antara kita sejak dulu. Aku ingin kau memaafkan semua yang telah aku dan semua temanku lakukan padamu, aku benar-benar menyesal dan selalu dilanda perasaan yang sangat aneh selama ini " Ucap Samudra dengan sedih, ia juga terlihat sangat menyesal dan sedang berlutut tepat di belakang Adri.


" Aku tidak tahu lagi dengan perasaan yang selama ini aku rasakan, semenjak kedatangan mu kesekolah ini. Entah mengapa perasaan ku semakin bertambah besar dan aku berusaha menepis semua rasa itu. Aku merasakan sakit ketika mendengar kenyataan jika kamu sudah menjalin hubungan dengan anak itu, aku mencoba melupakan mu dan semakin menumbuhkan rasa kebencian masa lalu, agar aku bisa melupakan semua rasa ku padamu. Tapi, sekarang aku tak ingin menyerah lagi, aku akan berusaha mendapatkan mu. Aku tahu aku sudah sangat bersalah atas semua hinaan dan kejadian memalukan di masa lalu, tapi aku juga tidak ingin membohongi kenyataan lain lagi. Jika aku benar-benar menyukai dan sangat mencintai mu, aku tidak lagi peduli kamu dari kasta rendah ataupun gelandangan " Ungkap Samudra dengan tulus.