BAD???

BAD???
Khawatir..



Candra kemudian membawa pergi Hanna yang sudah syok karena perkataan dari Alif dan Doni, ia mengurungkan niat utamanya untuk mengajak pergi kedua anak dan istrinya untuk pergi ke Amerika, dikarnakan ada hal penting yang menunggu disana. Tapi, karena kejadian mendadak itu pula, Candra menggagalkan niatnya itu dan menunda kepergiannya lain waktu.


πŸƒ ☁ πŸƒ ☁ πŸƒ ☁


Sementara dilain tempat, Adri berhenti di dekat pemakaman umum yang ada di salah satu sudut kota Jakarta. Ia tampak terlihat kacau, Adri berjalan dengan langkah kaki yang gontay dan seperti orang sakit yang tak memiliki tenaga untuk berjalan. Ia menyusuri hamparan gundukan tanah yang di tutupi rumput hijau dan batu nisan yang terurus, setelah sampai di depan salah satu makam yang sering ia kunjungi. Adri langsung menjatuhkan badannya hingga berlutut di hadapan makan tersebut, seketika air matanya menetes dan berubah menjadi isak tangis yang begitu memilukan.


" Jo.. Kenapa mereka selalu menyebut gue pembunuh, gue bukan orang yang telah membunuh loe Jo. Gue tidak bermaksud seperti itu, gue cuman ingin nyelamatin teman gue. Kenapa mereka menyebut gue pembunuh... " Ucap Adri dengan begitu lirih. Ia bingung harus melakukan apa, disatu sisi dirinya tak ingin menyeret teman dan juga saudaranya. Tapi disisi lain Adri tidak memiliki siapapun untuk menjadi sandaran serta tempat mencurahkan isi hatinya.


Alam pun seolah mengerti dengan penderitaan yang dirasakan oleh Adri, yang tadinya langit begitu cerah sekarang sudah di tutupi oleh awan hitam dengan gemuruh yang saling bersahutan dan juga angin yang begitu kencang. Tak lama kemudian, hujan deras mengguyur sebagian kota Jakarta dengan begitu derasnya bahkan di selingi dengan gemuruh petir dan angin yang begitu kencang.


Adri tampak tidak bergerak maupun pergi dari sana, padahal hujan lebat sudah mengguyurnya sedari tadi. Adri terlalu terhanyut di dalam kesedihan nya hingga ia melupakan keadaan sekitar nya.


Tanpa disadari Adri, seorang kakek parubaya menghampiri Adri dan ia hanya membawa satu payung yang dipakai olehnya sendiri. Ia tadinya hendak mengunjungi makam cucunya, namun melihat ada seseorang yang sedang duduk meringkuk membuatnya khawatir terhadap orang itu, yang tak lain adalah Adri.


" Nak, apa kau baik-baik saja? " Tanya kakek itu dengan penuh khawatir.


Kakek itu semakin khawatir karena Adri tidak menyahut perkataan dari kakek itu, hingga ia memberanikan diri untuk menggoyangkan tubuh Adri. Namun kakek itu seketika langsung terkejut saat Adri malah jatuh tergeletak di sana, dengan badan yang ringkih karena sudah berumur. Ia kemudian memayungi kepala Adri, beruntung ponsel Adri tergeletak di samping tubuh Adri yang tak sengaja keluar dari saku jaket hoodie nya. Setelah mengecek denyut nadi di tangan Adri, kakek itu bernafas begitu lega karena Adri hanya pingsan saja. Lalu ia mengambil ponsel Adri dan menghubungi nomer kontak yang ada di dalam ponselnya, dan itu entas siapa yang kakek itu telpon. Setelah menjelaskan kondisi Adri dan menyebutkan alamat tempat itu, kakek tua itu langsung mencoba mengangkat kepala Adri agar tidak terendam genangan air di makam itu.


Tak lama kemudian, orang yang di telpon kakek itu sudah datang dengan pakaian jas dokter yang terlihat sudah basah kuyup separuhnya karena ia memakai payung yang agak kecil, ditambah ia juga berlari karena ia begitu khawatir dengan kondisi Adri.


" Maaf saya datang agak lama, apa adik saya baik-baik saja. Bagaimana bisa Anda menemukannya " Tanya orang tersebut yang tak lain adalah Max.


" Tenanglah dulu, dia hanya pingsan dan itu mungkin karena dia sudah lama disini hingga ia tak sadarkan diri akibat hujan deras. Kebetulan aku habis dari makam cucuku dan melihat dia sedang duduk meringkuk disini " Jelas kakek tua itu pada Max. Ia juga menyerahkan ponsel milik Adri kepada Max.


Max paham dengan penjelasan dari kakek itu, ia juga mengambil ponsel Adri dan langsung memasukan kedalam saku jaketnya.


" Kalo boleh tahu, adek ini mengunjungi makam siapa ya nak?. Maaf kalo kakek lancang bertanya seperti itu" Tanya kakek itu penasaran.


" Oh tak apa kek, dia memang sering berkunjung kesini. Ini makam kakak nya, kebetulan saya kakak sepupu dari dia " Kata Max sambil menatap Adri. Max tidak menyebutkan tentang makam Galih dan beralasan dengan menyebut makam saudaranya.


" Oh maaf aku nak, aku tidak bermaksud menyakiti kalian dengan perkataan ku. Aku turut berduka cita atas kematian saudara kalian, pasti dia sangat terpukul atas kepergian kakak nya." Tutur kakek tua itu dengan raut muka sedih.


Max hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya tanda ia tak apa-apa. Akhirnya Max meminta bantuan lagi pada kakek itu untuk memegang payungnya dan Max akan menggendong Adri seperti bayi Koala. Setelah berhasil menggendong Adri, Max kembali mengambil payung dari kakek itu dan kembali mengucapkan banyak Terima kasih. Akhirnya Max membawa Adri keluar dari makam itu, walau Max terlihat begitu kesusahan apalagi ia harus menggendong tubuh Adri yang tinggi dan berat ditambah memegangi payung yang sesekali terhempas oleh angin yang kencang.


Max kembali menghela nafas setelah keluar dari pemakaman itu, ia bingung harus melakukan apa melihat mobil yang dibawa Adri. Ia juga gak bisa meminta bantuan kepada siapapun lagi, karena kakek itu pergi melalui sisi lain makam. Dengan kesusahan, Max melepas payung dan membiarkan mereka terkena hujan. Satu tangannya menahan tubuh Adri dan satu kaki nya di angkat dibatas trotoar untuk menopang tubuh Adri agar tidak merosot kebawah. Max akhirnya berhasil mengambil kunci mobil yang ia sempat ambil dari saku Adri sebelum memangkunya dan ia taruh di saku jas dokternya, kemudian ia membuka kunci mobil dengan remot kontrol dan membuka pintunya secara otomatis.


" Hah, punya mobil mewah juga sangat merepotkan. Dan itu tidak menguntungkan kalo di saat seperti ini " Gerutu Max dengan kesal.


Setelah berhasil memasukan Adri kedalam mobilnya, ia kemudian bergegas untuk ikut masuk kedalam mobil. Max juga terlihat sudah basah kuyup karena hujannya emang belum berhenti dan malah bertambah semakin deras. Max melepas jas kedokteran nya dan menutupi tubuh Adri, setidaknya agar Adri tidak terlalu kedinginan juga. Setelah memastikan Adri aman, Max langsung memasang sabuk pengaman untuk nya dan mulai menyalakan mesin mobil nya. Ia pun melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang menuju rumah Adri, karena Adri sangat tidak menyukai rumah sakit dan dipastikan akan langsung kabur jika sudah sadar nanti.


Sepanjang perjalanan Max masih kebingungan dengan Adri yang tiba-tiba saja pingsan, ia kemudian berniat untuk menghubungi Garda dan menanyakan tentang Adri. Namun ia urungkan dan memilih menghubungi Alif, karena Max merasa curiga jika Adri sampai seperti itu pasti ada sangkut pautnya dengan masa lalu. Setelah memasang earphones portabel dan menyambungkannya dengan ponsel milik nya, Max akhirnya menghubungi Alif sambil pokus menyetir mobilnya. Tak lama kemudian, panggilannya sudah tersambung dan suara Alif sudah terdengar di earphones nya.


_________________________________________________


Jangan lupa dukung terus author ya.. πŸ‘πŸ˜„


see next chapter..