
Pagi harinya Adri terbangun dari tidurnya, ia masih bisa merasakan sakit di sebagian badannya. Saat Adri hendak bangun, ia merasa nyaman karena ternyata dirinya sudah tidur di balutan slimut yang tebal. Adri menatap Max sambil tersenyum, Adri begitu bahagia karena Max selalu menyayangi Adri sepenuh hatinya.
Adri kemudian bangkit dan hendak beranjak dari sana, namun Max sangat peka dan menyadari pergerakan Adri yang sudah bangkit berdiri di hadapannya.
" Mau kemana Dri, ingat jangan terlalu banyak bergerak. Luka dalam mu masih belum terlalu sembuh " Peringatan Max sambil metegangkan tubuhnya yang kaku.
" Hemm, loe gak balik ke rumah sakit bang? " Tanya balik Adri.
" Gue lagi males, lagian gue juga pengen libur dan istirahat. Gue juga harus rawat loe saat ini " Kata Max sambil bangkit berdiri.
" Gak perlu, lagian gue udah gede jadi gue bisa jaga diri sendiri " Ucap Adri sambil menaiki tangga menuju kamarnya.
Sedangkan Max hanya pasrah dan segera menuju dapur untuk mencuci muka di wastafel dan membuat sarapan untuk Adri.
Setelah 20 menit berlalu, Adri sudah siap dengan seragam dan perlengkapan sekolahnya. Sedangkan Max baru selesai mandi setelah selesai memasak sarapannya. Kemudian mereka langsung duduk di meja makan dan melangsungkan sarapan paginya.
" Loe serius dek mau sekolah, kenapa gak izin aja sama guru. Bilang kalo loe lagi sakit " Kata Max sambil meletakan mangkuk berisi bubur buatannya.
" Gak usah, lagian gue udah dua hari gak masuk. Hari ini sekolah bebas, jadi bisa main sama si Sigit " Jawab Adri santai.
" Terserah loe aja lah " Max pasrah mengikuti apa yang ingin Adri lakukan.
" Loe mau pake lagi kalung itu, bukankah itu kalung milik nya si Galih ya? " Tanya Max dengan penasaran.
" Hemm... Lagian yang gue pake itu kalung punya gue, gue dulu beli nya couple dan satu lagi gue kasih ke Galih buat hadiah ulang tahunnya. " Adri mengeratkan kepalan tangannya.
Sekelebat bayangan saat Galih di pukul oleh Aldi menggunakan balok melintas dalam fikiran Adri, Adri menghela nafasnya kasar dan mencoba menghilangkan bayangan menyakitkan itu. Max lalu menggenggam tangan Adri dan menatapnya dengan penuh kehangatan, ia sangat tahu betul jika Adri sangat terluka karena kejadian itu dan selalu menyalahkan dirinya sendiri.
" Bubur loe lumayan juga, oh ya gimana keadaan pas gue gak sadar selama dua hari? " Tanya Adri mengalihkan pembicaraan sambil membalas senyuman Max.
" Loe tau, semua orang sangat mencemaskan keadaan loe. Terutama tante sama paman Mahardika, Rido dan yang lain juga sangat mengkhawatirkan keadaan loe. Mereka secara bergantian jagain loe siang dan malam di RS " Cerita Max.
" Oh, terus??" Kata Adri lagi.
" Oh ya, gue baru inget kalo gue pernah mergoki si Garda nangis di depan kamar loe pas tengah malem. Dia gak berani masuk kedalam ruangan, apalagi ngeliat loe yang tepar dengan perban dan lebam di sekujur tubuh. Dan ada satu orang lagi yang bikin gue kesel, Mami baru loe dateng jengukin loe dan bicara nya udah kaya suporter bola. Gila tuh emak, gue yakin kuping anak sama suaminya pasti sering bermasalah " Max bercerita dengan mimik wajah ngeri.
" Hah, bakal dapet masalah baru nih " Gumam Adri pelan.
" Iya, bawel amat sih " Jawab Max sambil tersenyum senang.
Adri segera menyambar tas yang ia letakan disofa dan segera pergi menuju garasinya, hari ini Adri akan membuat kejutan di di sekolahnya itu. Dengan penampilan yang lebih menantang dan ia juga akan memarkirkan kendaraan nya di sekolah.
Adri memilih mobil sport warna putih nya, ia juga membuka atap mobil itu dan membiarkan nya terbuka, karena Adri akan membawanya dengan kecepatan sedang. Adri langsung menghidupkan mobilnya dan langsung pergi dari sana, Adri terlihat lebih datar dan kalem juga.
Kini Adri telah sampai di depan gerbang sekolah, ia sengaja datang tepat waktu, bahkan saat ini para murid SMA Harapan tengah memandangi Adri dengan tatapan kagum dan terpesona. Adri bersikap santai dan gak menghiraukan apa yang mereka lakukan terhadapnya, ia langsung memarkirkan mobilnya di tempat parkir khusus para Guru. Adri kemudian turun dari mobil dan berjalan menuju kelasnya.
" Gila ya tuh anak, mobil nya keren bener cuy " Kata salah satu siswa.
" Apa dia murid baru ya? " Tanya salah satu siswi.
" Kok dia mirip di miskin dan biang bikin onar sih, kalian lihat deh dia mirip sama si Adri dari X ips3 kan? "kata siswa satunya lagi.
" Wah orang kaya dadakan nih, kemaren miskin sekarang bawa mobil keluaran terbaru " Ucap siswa lainnya.
" Alah, paliangan juga itu hasil nongkrong di klub malam sama om-om " Kata salah satu siswi.
" Entah, punya mobil hasil gituan juga langsung di pamerin " Kata teman siswi tadi.
Hampir semua murid membicarakan perihal kendaraan Adri dan juga penampilan barunya, namun orang yang mereka bicarakan malah berjalan dengan santai menuju kelasnya. Namun belum juga sampai di Koridor kelas, Adri sudah di hadang oleh Sigit yang menatapnya dengan penuh kekaguman. Ia bahkan manatap Adri seperti anak kecil menatap permen loli yang sangat besar, mungkin jika Adri tidak langsung menegurnya Sigit akan menumpahkan ilernya ke lantai dan membuat mereka menjadi bahan tertawaan.
" Ngapain loe liatin gue kaya gitu, loe mau rasain bogeman gue hah " Kata Adri sambil bersedekap dada.
" Eh... Sorry Dri, gue terlalu terpana sama penampilan super keren kaya loe. Gue juga pengen berubah deh kaya loe, siapa tau gue punya gebetan " Sigit tersenyum lebar menampilkan deretan gigi nya.
" Mana mau cewek sama cowok ileran kaya loe " Cibir Adri santai sambil berjalan melewati Sigit.
Sigit pun menegok dan berjalan hingga berada di samping Adri, ia melihat dua siswa baru yang datang kemarin. Mereka sudah sangat jelas, kalo mereka adalah anak badung dan pasti akan membuat rusuh dan biang onar di sekolah. Penampilan urakan dengan rambut yang di cat, sepatu dengan tali yang berwarna-warni. Dari kemarin mereka sudah menghebohkan sekolah dengan kedatangannya, dan sekarang mereka sedang berhadapan dengan Adri sosok legend biang onar di sekolah itu.
" Minggir loe.. " Ucap Adri dengan wajah datarnya. Namun tidak di dengar oleh dua siswa itu.
Para siswa dan siswi yang baru datang dan yang ada disana hanya menonton nya, bahkan mereka dengan asik sedang bergosip ria. Tak lama kemudian Samudra dan ketiga Kawannya datang menghampiri kerumunan yang tengah melihat keributan Adri dan juga dua siswa baru.