
Setelah mendengar penjelasan Alif, Max terlihat menahan emosi dan terus mengumpati keluarga Batara apalagi nyonya dari keluarga itu. Max begitu kesal karena Adri menjadi seperti itu gara-gara keluarga Batara. Untungnya Max tadi tidak menyebutkan kondisi Adri dan akan menambah kekhawatiran pada teman Adri.
Tak menunggu waktu lama, mobil Adri yang di kemudikan Max akhirnya sampai di depan rumah Adri. Ternyata di depan gerbang rumah Adri ada Hendro beserta anak istrinya yang barusan lewat. Melihat ada mobil sport mewah berhenti tepat di depan gerbang, Hendro berinisiatif membantu membukakan gerbang pintu rumah Adri, karena ia sudah mengetahui mobil itu milik Adri.Max kemudian memasukan mobilnya kedalam, setelah mematikan mesin mobil nya, ia segera keluar dari mobil dan membuka pintu kursi penumpang.
Hendro yang melihat bukan Adri yang keluar pun lekas menghampiri dan hendak menanyakan apa yang terjadi, begitupun anak istrinya yang ikut masuk kedalam pekarangan rumah Adri.
" Loh, nak Max bapak kira nak Adri barusan " Ucap Hendro sambil mendekat kearah Max.
" Maaf ya pak sudah merepotkan, ini aku barusan dapet kabar Adri sedang tidak sehat. Dan jatuh pingsan di taman, jadi aku segera menjemput dan membawanya pulang " Ucap Max berbohong pada Hendro.
" Astaghfirullah, kok bisa. Sini biar bapak bantu payungin kalian " Kata Hendro sambil kembali lebih dekat dengan Max.
Max merasa senang karena Adri bertetangga dengan orang yang begitu baik dan peduli terhadapnya. Setelah berhasil memangku Adri dengan ala bridle style, Max yang dibantu Hendro kemudian membawa Adri menuju ke dalam rumah. Begitupun dengan istri Hendro dan anak nya yang mengikuti mereka masuk kedalam rumah itu. Hendro membantu menyalakan lampu rumah itu agar terang karena hujan di luar masih sangat lebat dengan gemuruh petir yang bersahutan.
Max meletakan Adri di kamar tamu, beruntung Mira istri Hendro ikut dengan mereka. Ia kemudian membantu Adri untuk menggantikan pakaiannya dan mengambilkan pakaian gantinya dari lemari pakaian di kamar Adri. Setelah selesai di menggantikan pakaian Adri, mira memanggil Max untuk masuk untuk melihat kondisinya.
" Terima kasih banyak, karena sudah membantu adik ku. Aku sangat senang adik ku ini mempunyai tetangga yang begitu baik seperti keluarga pak Hendro ini " Ucap Max sambil tersenyum.
" Nak Max terlalu berlebihan, kita memang selalu senang membantu nak Adri. Apalagi nak Adri orang nya baik dan sangat peduli dengan orang lain, jadi jangan sungkan untuk meminta bantuan pada kami " Jawab Hendro.
Max mengangguk dengan bahagia karena mendengar jawaban dari Hendro. Ia pun segera mengambil alat medis yang ia simpan di kamar itu dan mulai memeriksa tubuh Adri, setelah selesai memeriksa kondisi tubuhnya. Max mengambil tiang infus di lemari tempat pakaian dan mengambil kantung cairan yang sudah di padang selang infus. Setelah selesai, ia memasanhkan jarum infus di tangan Adri, karena Adri mengalami kelelahan dan juga kurang nya asupan nutrisi di dalam tubuhnya.
Mira begitu terkejut melihat apa yang dilakukan max, begitu pun dengan alat-alat medis yang sangat mudah di dapatkan di kamar itu. Sedangkan Hendro sudah tak kaget lagi kecuali saat pertama kali melihatnya dulu. Hendro yang melihat gelagat aneh istrinya pun menjelaskan jika Max adalah seorang dokter dan Mira pun hanya mengangguk mengerti.
Karena Hendro dan istrinya sudah lama disana, ia pun berpamitan untuk kembali ke rumahnya. Dan Max pun berterimakasih kembali atas bantuan yang di berikan oleh keluarga Hendro.
Sepeninggal Hendro, Max pergi kedapur untuk memasak bubur untuk Adri dan juga makanan untuknya. Ia terus berkutat memasak hingga makanan pun selesai. Ia menghidangkan makanan untuk nya sendiri dan langsung makan siang. Setelah selesai, Max kembali ke kamar tamu dan menaruh ponsel Adri di atas nakas di samping ranjang. Lalu max duduk di sofa dan memainkan ponselnya, tak lupa ia mengabari pihak rumah sakit karena dirinya tak akan kembali dulu karena harus menjaga Adri. Karena bosan menunggu, akhirnya Max ikut berbaring di sofa hingga ia terlelap tidur sambil menjaga Adri.
πβ¦ ββ¦ πβ¦ β... πβ¦ β...
" Lif gimana nih, si Adri belum juga muncul sampe sekarang. Dia bahkan belum membalas chat dari gue " Kata Doni bertanya pada Alif.
" Dari tadi gue juga ngehubungi si Adri sama si bang Max gak di angkat " Jawab Alif dengan kesal.
" Jadi masih gak ada yang mau jelasin sama gue perihal gosip anak-anak tentang Adri " Tanya Radit kepada Alif dan Doni.
Sedangkan Sigit dan Garda hanya bisa diam karena mereka tidak mengerti kejadian perkara yang terjadi di masa lalu. Walaupun mereka sudah dikasih tahu tentang cerita masa lalu, tapi tetap aja itu tidak semua nya mereka bocorkan.
" Jadi tadi Adri hendak pergi dari sini, katanya sih ada urusan penting dan bakal balik lagi kesini setelah urusan tadi selesai. Tapi.. " Kata Alif dengan ekspresi khawatir.
" Tapi dia malah ketemu sama kedua orang tua si Jo, maksud gue si Galih kembaran si Galuh itu. Kayak nya kebencian Mami nya si Jo masih ada sampe sekarang, makanya si Adri tadi di maki sama di tampar oleh nya " Cerita Doni kepada mereka semua.
Garda langsung mematung mendengar perkataan Doni, ia tidak menyangka ternyata Galuh yang sejak awal masuk itu sudah dekat dengan Adri ternyata kembaran nya adalah Galih. Sementara Radit dan Sigit yang memang tidak tahu banyak hanya bisa mendengarkan saja, begitupun dengan rekan se-tim Radit yang hanya menjadi pendengar.
" Gue udah jelasin sama emak nya si Jo kalo mereka itu cuman salah paham, dan yang salah itu sudah jelas orang yang menjebak Adri. Gue semakin khawatir dengan keadaan Adri, terakhir kali Adri berusaha menyakiti dirinya dan membenci dirinya sendiri akibat dari kematian Jo. Dan sekarang ia kembali di pertemukan dengan keluarga nya, yang begitu membenci Adri " Kata Doni dengan wajah sedih dan gelisahnya.
" Kenapa kalian gak cerita sama gue, kalo si Adri punya kekasih dan itu kembaran si Galuh " Kata Garda dengan kesal.
" Asal loe tau aja Da, awalnya kita juga gak tau kalo mereka sudah menjalin hubungan lebih. Kita di kasih tau pas terakhir kita ketemu, tepat setelah Jo meninggal. Itu pun kita ketemu karena aku ketitipan surat terakhir dari Jo untuk si Adri " Jelas Doni dengan raut wajah kesal.
" Asal loe tau aja Da, Adri sangat sedih disaat loe memaki nya waktu di kantin. Dia akhirnya terbuka sama gue dan menceritakan gimana susah senangnya hidup sendiri dan loe orang terdekatnya malah balik membenci dirinya dan memutuskan ikatan pertemanan yang sedari kecil kalian jalin. Apa loe ingat semua itu " Kata Sigit pada Garda.
_________________________________________________
Ayok dukung terus cerita aku....
see next chapter..